Tampilkan postingan dengan label Bollywood. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bollywood. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Januari 2019

Ringkasan Cerita Filim Fanney Khan 2018

Ringkasan Cerita Filim Fanney Khan 2018

Ringkasan Cerita Filim Fanney Khan 2018
Ringkasan Cerita Filim Fanney Khan 2018

Ringkasan Cerita Filim Fanney Khan 2018, Banyak anak (termasuk saya dulu), berpikir bahwa orang tua, atau dalam konteks di sini ayah, tidak mengerti mereka dengan segala impian dan kemauannya. Ayah kolam sosok menyebalkan yang gemar melemparkan pertanyaan yang berdasarkan sang anak tidak penting. Mereka tak tahu, bila berkebalikan dengan persepsi negatif tersebut, satu-satunya yang ayah inginkan tak lain memenuhi kemauan sang anak. Perbedaan zaman membuat jurangkultural sehingga ayah-anak sering berjarak kala berkomunikasi, dan pertanyaan-pertanyaan tidak penting itu sejatinya yaitu usaha memahami untuk memangkas jarak tersebut.

Fanney Khan 2018

Para ayah bekerja luar biasa keras, namun enggan memamerkan kesulitan-kesulitan di tiap langkahnya, lantaran terpenting baginya, si anak memperoleh apa yang diinginkan, bila perlu, tanpa bersusah-susah dahulu. Kondisi itu sebagaimana penampil tidak mengutarakan proses jatuh-bangun di belakang panggung kepada penonton, yang tidak butuh dan/atau tidak mau tahu. Walau  pengetahuan akan fase itu pasti membuat mereka lebih mengapresiasi sang penampil. Fanney Khan, selaku remake dari Everybody’s Famous! (2000) yang berhasil meraih nominasi Best Foreign Language Film sebagai perwakilan Belgia di ajang Oscar tahun 2000, mengajak kita mengintip suasana di belakang panggung.

Jalannya Cerita Filim Fanney Khan 2018

Prashant Sharma (Anil Kapoor) merupakan vokalis grup orkestra kelas kampung. Memakai nama panggung “Fanney Khan”, ia bermimpi menjadi penyanyi tenar, hingga realita memaksanya menjejak bumi. Tapi mimpinya tak pernah kandas. Fanney berharap sang puter kelak sanggup meneruskan impian itu, namun ia bukan ayah yang melampiaskan kegagalannya dengan memaksa puterinya meneruskan jejaknya. Sebab Lata (Pihu Sand) pun mempunyai hasrat serupa. Sayang, badan tambun menghalangi cita-citanya, tanggapan tiap beraksi di atas panggung, caci maki penonton ihwal bentuk tubuhnya selalu terdengar.

Lata merupakan korban ketidakadilan standar kecantikan, tetapi Fanney Khan tidak berusaha mengeruk simpati dari situ. Sebaliknya, Lata digambarkan sebagai tokoh yang kurang simpatik. Siapnya terhadap Fanney seringkali kasar. Misal ketika Fanney begitu bersemangat memperdengarkan lagu yang khusus ia ciptakan bagi Lata, namun Lata justru mengenakan earphone. Menyebalkan, tapi perilaku kebanyakan anak di masa dewasa memang demikian. Apabila anda merasa kesal melihatnya, mari berkaca sejenak, apakah kita pun bertindak begitu terhadap orang tua?

Skenario garapan Atul Manjrekar (juga sutradara), Hussain Dalal, dan Abbas Dalal mengusung formula tearjerker tradisional, bahkan lebih konvensional ketimbang kebanyakan drama mengharu biru buatan arus utama Bollywood belakangan. Berbagai momen penghinaan terhadap Lata disajikan berlebihan, terkesan manipulatif, dan berpotensi mengalineasi penonton yang telah lelah dengan formula demikian. Maka hadirlah Anil Kapoor, yang melalui performanya, memastikan penonton dari kelompok mana pun, bakal tersentuh oleh usaha Fanney Khan.

Raut wajah Anil memancarkan kemurnian, cenderung mengarah pada kepolosan. Sewaktu terlibat pertengkaran dengan Lata, Fanney tak memahami kesalahannya. Wajahnya, menunjukkan kebingungan sekaligus kesedihan. Hatinya terluka. Tapi elemen paling menyentuh yaitu setiap Fanney melihat mimpi puterinya bertahap mendekati kenyataan. Mata Anil bersinar, senyumnya mengembang lebar, menawarkan ibarat apa perwujudan kasih sayang nrimo seorang ayah. Kepolosannya, ditambah keputusasaan yang dipicu kesulitan uang dan ambisi memenuhi mimpi sang puteri, menimbulkan segala keputusan kurang pintar atau langkah absurd yang Fanney ambil sanggup dipercaya. Tidak sanggup dibenarkan, namun sanggup dipahami.

Langkah absurd di atas berupa aksinya menculik Baby Singh (Aishwarya Rai), megabintang sekaligus idola Lata. Apa yang Fanney minta selaku tebusan takkan saya sebut, lantaran merupakan pondasi konflik kompleks serta puncak emosi di paruh akhir. Tapi saya sanggup menyebutkan betapa memesona Aishwarya, dengan rambut merah, mata hijau, kepercayaan diri setinggi langit, ia terperinci mendefinisikan “Megabintang”, status yang juga ia sandang di kehidupan nyata. Dia pun bersinar dalam momen komedik. Seluruh adegan yang melibatkan interaksi konyol nan canggung antara Fanney dan Adhir (Rajkummar Rao) si penculik amatir dengan korbannya yang jauh lebih cerdik yaitu komedi brilian. Bertugas sebagai “perespon”, sang aktris tidak pasif, merespon lewat kelucuan yang mengeskalasi kualitas humornya.

Keputusan Fanney menculi Baby terperinci elemen problematik dalam naskahnya, yang berbeda dari film sumber inspirasinya, bukan berwujud satir. Penonton terang-terangan diajak membenarkan kegilaan Fanney. Belum lagi keterlibatan unsur Stockholm Syndrome di penculikan tersebut. Fanney Khan menentukan menyederhanakan semuanya, termasuk caranya menutup konflik yang melibatkan kriminalitas serta skandal berskala nasional. Film ini memang sederhana, formulaik, layaknya lagu pop yang mengalun mengikuti teladan sarat nada-nada kegemaran pasar yang simpel dimainkan pula diingat plus refrain uplifting.  Namun bukankah lagu ibarat itu yang simpel tertinggal di perasaan? Fanney Khan jelas demikian.

Jumat, 14 Desember 2018

Ringkasan Cerita Filim Bollywood Sui Dhaaga: Made In India 2018

Ringkasan Cerita Filim Bollywood Sui Dhaaga: Made In India 2018

Ringkasan Cerita Filim Bollywood Sui Dhaaga: Made In India 2018
Ringkasan Cerita Filim Bollywood Sui Dhaaga: Made In India 2018

Poin fatal Sui Dhaaga: Made in India—yang terperinci bermaksud menjadi tontonan inspiratif—adalah pilihannya untuk terlalu bersandar pada penderitaan serta ketidakberdayaan, dan kurang berhasil menyeimbangkannya dengan penebusan uplifting. Bahkan dikala datang di momen tersebut, filmnya urung menyentuh emosi maksimal, entah diakibatkan elemen di luar budi atau tergesa-gesa menjatuhkan karakternya lagi ke dalam jurang kepahitan sebelum mereka (dan penonton) berkesempatan menikmati kebahagiaan barang sejenak.

Bukan berarti menampilkan penderitaan berkepanjangan diharamkan dalam tontonan inspirasional. Apalagi Sui Dhaaga: Made in India mengisahkan pergumulan si miskin memperbaiki hidup dan bagaimana mereka diperalat oleh si kaya yang lebih berpendidikan. Tapi semenjak awal, sutradara sekaligus penulis naskah, Sharat Katariya (Dum Laga Ke Haisha), telah menetapkan suatu tone, yang seiring perjalanan, gagal dijaga konsistensinya. Tone yang dibawa oleh kalimat andalan protagonisnya: “It’s all good”.

Sui Dhaaga: Made In India 2018

Mauji (Varun Dhawan) selalu berpikiran positif, tersenyum, berkata “It’s all good”, meski faktanya, tinggal bersama keluarganya dalam kesulitan ekonomi, jarang berinteraksi dengan sang istri, Mamta (Anushka Sharma) jawaban rutinitas tak bersahabat, pula diperlakukan (literally) layaknya anjing oleh pemilik toko mesin jahit tempatnya bekerja. Melalui Mauji, Sharat Katariya bagai mengajak penonton menengok penderitaan masyarakat ekonomi kelas bawah, tapi alih-alih perspektif sarat ratapan,  ia memakaikan kita kacamata penuh romantisme, sehingga bisa menertawakan segala pemandangannya.

Mauji kerap terlibat cekcok dengan ayahnya (Raghubir Yadav), yang menganggapnya anak pemalas tidak berguna, namun bukan pertengkaran panas yang nampak, melainkan tukar barang sindiran-sindiran tajam berisi pilihan kata-kata menggelitik. Ayah dan anak ini kolam punya stok olok-olokan tanpa batas untuk satu sama lain. Pun tatkala sang ibu (Yamini Das) jatuh di dapur alasannya ialah serangan jantung, kecemasan keluarga justru mengundang tawa berkat sikap jenaka. Pendekatan yang menunjukan kesetiaan filmnya pada semangat “It’s all good” yang ditanam semenjak permulaan.

Jalannya Cerita Sui Dhaaga

Bahkan petaka sakitnya sang ibu justru secara mengejutkan memunculkan impian gres bagi Mauji untuk menata ulang kehidupannya. Didorong oleh Mamta, Mauji berhasrat menjadi penjahit meski mendapat saingan ayahnya, mengingat dahulu, perjuangan jahit sang kakek gulung tikar dan menggiring keluarganya menuju kemiskinan. Ini ialah ukiran dua sudut pandang. Mereka yang jengah diinjak-injak (Mauji dan Mamta) “melawan” mereka yang menerima, merendahkan diri demi bertahan hidup (orang bau tanah Mauji). Kedua sudut pandang sanggup dimengerti, walau terperinci Sharat berpihak ke mana.

Dia ingin kita mendukung mereka yang berjuang. Dia ingin kita menaruh iba pada kegagalan mereka sembari membenci para penindas. Dia ingin kita terhanyut tatkala protagonisnya terjatuh menuju lubang gelap, kemudian mendukung usahanya untuk memanjat ke permukaan. Masalahnya, Sharat mengurung karakternya terlau usang di kegelapan, kemudian berulang kali mematahkan pendakiannya tiap kali mereka mulai melihat cahaya. Pendekatan “gali lubang tutup lubang” ini menghalangi progres sehingga terasa melelahkan. Sui Dhaaga: Made in India menghabiskan second act sebagai melodrama, mengenyahkan semangat “It’s all good” yang diusung.

Padahal paruh terbaik film ini selalu berpusat pada momen keceriaan, contohnya lewat sebuah adegan musikal yang efektif memancing senyum berkat koreografi sederhana yang memanfaatkan keselarasan musik dengan goyangan kepala penumpang dikala bus bergetar melewati jalan terjal. Sewaktu kejenakaan keluarga Mauji lenyap ditutupi kegelapan, Anushka Sharma hadir sebagai penyelamat. Dengan senyum lebar yang sanggup menebar aura kasatmata ke seluruh penjuru ruangan, Anushka Sharma bagai tiang penyangga kokoh yang bisa menahan semoga penonton tak memalingkan hati dari karakternya, sebagaimana Mamta setia menjaga api semangat suaminya.

Intensitas sempat bangun memasuki paruh akhir, bersamaan dengan kembalinya impian sekaligus keceriaan para tokoh. Sampai gebrakan emosi yang dinanti-nanti tak kunjung datang jawaban suatu ketidaklogisan. Mauji memang penjahit berbakat, tetapi tidak berarti ia, dengan keterbatasan acuan serta informasi, bisa membuat rancangan baju layaknya desainer ternama. Masalah  bukan terletak pada kualitas, melainkan gaya. Ini pun bab inkonsistensi. Setelah meluangkan sebagian besar durasi memaparkan realita minim “pemanis” Sharat Katariya justru menutup filmnya dengan nuansa berlawanan.

Senin, 10 Desember 2018

Ringkasan Cerita Filim Bollywood Loveyatri 2018

Ringkasan Cerita Filim Bollywood Loveyatri 2018

Ringkasan Cerita Filim Bollywood Loveyatri 2018
Ringkasan Cerita Filim Bollywood Loveyatri 2018

Sebelum menggunakan judul Loveyatri alias “Love Travellers” atau "A Journey of Love", film ini bertajuk Loverartri, yang menggabungkan kata “Love” dan “Navrartri”, yakni ekspo sepanjang 9 malam selaku penghormatan terhadap Dewi Durga, di mana orang-orang berkumpul menarikan tarian Garba. Judul tersebut urung dipakai jawaban gencarnya protes organisasi keagamaan Vishva Hindu Parishad, walau gotong royong tepat mewakili apa yang filmnya coba sampaikan.

Tokoh utamanya berjulukan Sushrut atau sering dipanggil Susu (Aayush Sharma), perjaka badung dari keluarga kelas menengah ke bawah yang mengabdikan hidupnya mengajar Garba bagi anak-anak, walau sebagaimana sang ayah katakan, tarian tersebut hanya dilakukan setahun sekali selama 9 hari, sehingga kurang tepat menggantungkan masa depan terhadapnya. Namun dalam jangka waktu singkat, di tengah Garba yang ia puja, Susu menemukan cintanya. Michelle (Warina Hussain) namanya, puteri pengusaha laundry kaya raya sekaligus siswi berprestasi di London.

Captain Marvel Akan Meramaikan Deretan Filim SuperHero Awal Maret 2019 Mendatang

Loveyatri 2018

Mereka berasal dari kelas ekonomi serta budaya berbeda. Susu hidup bersama kultur lokal India, sementara Michelle menjalani gaya hidup Barat, pula dididik oleh ayahnya, Sam (Ronit Roy) untuk mengejar kesukesan materi. Tapi Navrarti menyatukan keduanya, atau bisa dikatakan bahwa budaya menjembatani cinta mereka. Di tengah tarian, di antara ratusan insan yang tumpah ruah, Susu bertemu Michelle, dan sungguh impresi pertama yang luar biasa, baik bagi Susu maupun saya. Bukan saja alasannya Warina Hussain berparas cantik, Abhiraj Minawala si sutradara debutan pun bisa menangkap pesona memancar sang aktris kala ia menari dan tersenyum.

Dibantu dua sahabanya, Rocket (Sajeel Parakh) dan Negative (Pratik Gandhi), Susu menjalankan rencana konyol namun terstruktur buatan pamannya, Rasik (Ram Kapoor), demi merebut perhatian Michelle. Rencana itu sukses besar. Susu dan Michelle mulai berkomunikasi, jatuh cinta, menghabiskan 9 hari bersama sebelum sang gadis mesti pulang ke London. Tentu perpisahan di paruh pertengahan ini takkan berlangsung mulus. Susu mengacau, kemudian membawa Loveyatri memperlihatkan satu lagi aspek kultur India, kali ini terkait kultur terkenal di Bollywood. Kultur di mana tokoh utama film romansa bersedia menahan derita, berkorban apa saja atas nama cinta.

Ringkasan Cerita Filim Bollywood Andhadhun 2018

Jalannya Cerita

Susu melaksanakan hal serupa, yang merujuk pada ucapan Rasik di sebuah kafe di London, ialah tindakan yang mengikuti jejak sederet bintang film besar Bollywood, sebutlah Sha Rukh Khan, Amir Khan, hingga Salman Khan yang di sini turut berperan sebagai produser. Sayangnya Loveyatri melewatkan kesempatan menciptakan penonton ikut menyayangi romansa dua tokoh utama tatkala kebersamaan mereka disusun atas keklisean montase romansa serta dialog-dialog dangkal hasil goresan pena Niren Bhatt. Pun sebagai film berdurasi 139 menit, Loveyatri tak menyimpan cukup konflik demi merangkai penceritaan padat juga dinamis.

Beruntung, tiap kehampaan nyaris memunculkan kantuk, sekuen musikalnya senantiasa hadir selaku penyelamat. Mengandalkan desain produksi meriah beserta lagu catchy berbalut iringan perkusi energik dan performa penuh gairah Aayush Sharma yang menutupi kapasitasnya melakoni momen dramatik yang kurang kuat, Loveyatri bisa memperlihatkan kebahagiaan. Ditambah lagi beberapa humornya sukses mendarat tepat sasaran, salah satunya ketika Sam melontarkan permainan kata menggelitik bagi The Lord of the Rings.

Resolusi yang ditawarkan oleh kisah cinta sarat pengorbanan ini sayangnya kental simplifikasi. Loveyatri melemparkan konflik rumit hanya untuk mengakhirinya melalui jalan luar biasa gampang (tengok cameo Arbaaz Khan  dan Sohail Khan). Untunglah sang penyelamat (baca: musikal) tiba lagi. Sewaktu filmnya ditutup lewat sekuen musikal meriah di suatu taman di London, bagaimana bisa saya menolak untuk tersenyum kemudian pulang dengan perasaan senang meskipun keseluruhan Loveyatri kurang berhasil mengaduk-aduk perasaan?

Baca Juga : Berita Terkini Tentang FIlim Avengers 4

Minggu, 09 Desember 2018

Ringkasan Cerita Filim Bollywood Andhadhun 2018

Ringkasan Cerita Filim  Bollywood Andhadhun 2018

Ringkasan Cerita Filim  Bollywood Andhadhun 2018
Ringkasan Cerita Filim  Bollywood Andhadhun 2018

Andhadhun bisa menjadi salah satu sajian Bollywood dalam beberapa tahun belakangan yang paling ibarat karya-karya Alfred Hitchcock. Hasil penyutradaraan kelima Sriram Raghavan (Johnny Gaddaar, Badlapur) ini mengandung beberapa elemen Hitchcockian: seorang laki-laki di situasi yang salah, perkara pembunuhan penuh rencana sarat tipu daya, perselingkuhan, abjad yang sulit dipercaya, dan hal favorit banyak penonton, apalagi kalau bukan twist. Filmnya tahu penonton suka dikejutkan oleh belokan alur tak terduga, dan memberikannya sebanyak mungkin. Terlalu banyak malah.

Ringkasan Cerita Filim Bollywood Loveyatri 2018

Andhadhun 2018

Akash (Ayushmann Khurana) ialah pianis buta bertalenta yang sedang berusaha menuntaskan musik terbarunya ketika seorang gadis berjulukan Sophie (Radhika Apte) menabraknya dengan motor di jalan. Diawali kecelakaan, Sophie pun mengetahui bakat luar biasa Akash, kemudian menawarinya pekerjaan sebagai pianis di sebuah cafe. Dari pekerjaan itu pula Akash bertemu Pramod Sinha (Anil Dhawan), mantan pemain drama ternama yang meminta Akash bermain piano di rumahnya, dalam rangka konser privat sebagai kejutan ulang tahun pernikahannya dengan Simi (Tabu) sang istri muda. Dari situlah Akash terseret menuju situasi yang hanya bisa saya deskripsikan sebagai “intens dan dilematis”.

Seperti telah disebutkan, perkara pembunuhan turut terjadi. Siapa yang dibunuh, oleh siapa, bagaimana, atau di mana, saya tak bisa menyebutkan, tapi bahkan sebelum itu terjadi, Andhadhun sudah mempunyai elemen kejutan—yang mungkin tak seberapa sulit ditebak—yang berperan selaku peringatan bagi kita, bahwa tidak ada satu pun abjad sanggup dipercaya.

Naskahnya yang ditulis oleh 5 orang, Sriram Raghavan, Arijit Biswas, Pooja Ladha Surti, Yogesh Chandekar, dan Hemant Rao, menyuntikkan unsur komedi hitam khususnya pada dua babak awal tatkala kesialan-kesialan Akash beserta tendensinya untuk muncul di waktu dan daerah yang keliru menghadirkan pemandangan menggelitik. Keterlibatan Akash pun senantiasa membuat kekacauan, dan Sriram Raghavan bermain-main dengan kekacauan tersebut guna membuat momen humor yang tak pernah mendistraksi akhir menjadi terlalu konyol.

Captain Marvel Akan Meramaikan Deretan Filim SuperHero Awal Maret 2019 Mendatang

Jalannya Cerita

Komedinya urung melucuti ketegangan situasi berbahaya yang dialami Akash berkat kemampuan sang sutradara memeras intensitas dari aneka macam interaksi antara karakter, di mana mereka memainkan trik psikologis, saling tebak, sambil melancarkan kebijaksanaan kancil terhadap satu sama lain. Apabila Hitchcock gemar memusatkan ketegangan melalui insiden berlokasi tunggal, Raghavan menentukan menebar beberapa situasi, yang masing-masing berpusat di lokasi tertentu, dengan tiap lokasi dan situasi itu sanggup dijadikan film panjang berlokasi tunggal sendiri. 

Sampai kemudian lingkup kisah membesar, semakin banyak abjad turut terlibat dan terus berpindah sisi, pun jumlah kejutan yang dibeberkan terus bertambah. Apalagi di sepertiga akhir, ketika alih-alih mempresentasikan alur utuh yang diselipi twist, justru alurnya yang berperan sebagai selipan dengan fungsi menjembatani twist demi twist. Alhasil baik ketegangan maupun pengaruh kejutnya menurun, lantaran kita hingga pada titik ketika kita tahu, kalau kemungkinan besar, segala hal yang ada, bergotong-royong tidak mirip tampak luarnya.

Ayushmann, yang menghabiskan 2 bulan mencar ilmu pada pianis Los Angeles, Akshay Verma, tampil meyakinkan. Jari-jarinya lancar menari-nari di atas tuts. Sedangkan sebagai laki-laki clueless yang terkurung di tengah situasi yang salah nan dilematis, kehampaan di matanya terperinci mewakili kebingungan luar biasa yang karakternya rasakan. Turut mencuri perhatian ialah Tabu, lewat performa yang bisa disandingkan dengan jajaran “Hitchcock blonde”, hanya saja, dengan sedikit lebih banyak bumbu komedi.

Ringkasan Cerita Filim Adrift 2018

Ringkasan Cerita Filim Adrift 2018 Ringkasan Cerita Filim Adrift 2018 Ringkasan Cerita Filim Adrift 2018, Sepasang kekasih ( or soo-...