Tampilkan postingan dengan label Thriller. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Thriller. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Januari 2019

Ringkasan Cerita Filim Dukun 2018

Ringkasan Cerita Filim Dukun 2018

Ringkasan Cerita Filim Dukun 2018
Ringkasan Cerita Filim Dukun 2018

Ringkasan Cerita Filim Dukun 2018, Di tengah persidangan, Karim (Faizal Hussein) selaku pengacara, bertanya, “Siapa di sini percaya ilmu hitam?”. Hampir semua penerima sidang mengangkat tangan. Sebagaimana kita, perihal mistis memang lekat dengan kehidupan masyarakat Malaysia. Beberapa menyebutnya kepandiran dalam abad modern, tapi saya melihatnya sebagai aspek kultural unik yang memiliki fungsi. Seperti ketika Dain Said (Bunohan: Return to Murder, Interchange) menimbulkan Dukun karya “eksklusif” yang takkan bisa direplika sineas negeri Barat sehebat apa pun. Aspek supranatural bukan jadi alat penghasil teror saja, melainkan pecahan penting narasi, pula pecahan kehidupan karakternya.

Dukun 2018

Dukun sendiri terinspirasi dari kasus kasatmata pembunuhan Mona Fandey, dukun sekaligus mantan penyanyi yang membunuh kemudian memutilasi badan salah satu kliennya, politikus Mazlan Idri, menjadi 18 pecahan pada 1993 selaku pecahan ritual. Selepas proses persidangan yang menarik demam isu seantero negeri, Mona dieksekusi gantung tahun 2001. Keterlibatan nama-nama besar serta konten kontroversial tersebut menciptakan Dukun terhalang perilisannya yang awalnya dijadwalkan pada 2007. Setelah 11 tahun tanpa kejelasan, Dukun akhirnya tayang.

Skenario buatan Huzir Sulaiman sejatinya hanya mengadaptasi lepas, walau beberapa unsur terang masih serupa. Pilihan itu kesannya membuka jalan kisahnya mencampurkan elemen tiga genre: pemeriksaan kasus pembunuhan, thriller ruang persidangan, dan horor supranatural. Menariknya, elemen yang disebut terakhir justru porsinya paling minim, meski nuansa supranatural kental menyelimuti tiap sisi cerita, sehingga menciptakan tiap cabang alur tetap saling terikat.

Jalannya Cerita Filim Dukun 2018

Nama Mona Fandey diganti Diana Dahlan (Umie Aida). Jauh berbeda? Tidak ketika anda tahu jikalau album debut Mona dahulu mengusung judul Diana I. Sejak awal kita bertemu Diana, ia telah mendekam di penjara pasca menghabisi sang klien, Datuk Jefri (Adlin Aman Ramlie), dengan damai menanti dakwaan, sembari selalu menolak jasa pengacara. Sampai pengacara ke-24, Karim, memperlihatkan diri demi memperoleh informasi soal puterinya yang hilang. Kali ini Diana beredia. Di kawasan lain, Talib (Nam Ron) dan bawahannya, Shah (Bront Palarae) dari kepolisian, sedang memeriksa kasus tersebut kemudian menemukan setumpuk diam-diam kelam nan mengerikan.

Perlahan ketiga cabang itu bertemu, memuncak di suatu twist seputar hubungan terselubung antar-karakter yang terasa beralasan juga masuk akal, berbeda dengan kebanyakan film yang cuma mengandalkan kebetulan dipaksakan. Satu lagi bukti solidnya penulisan Huzir Sulaiman, meski di banyak kesempatan, selipan adegan-adegan pendek yang muncul sambil lalu, menimbulkan pedoman alur kurang nyaman diikuti.

Besar kemungkinan anda takkan menganggap Dukun sebuah horor menyeramkan, walau melihat dari penyutradaraan Dain Said, itu memang pilihan. Dia enggan berusaha keras menakut-nakuti penonton lewat unsur supranatural, namun melukiskannya sebagai pemandangan tidak wajar. Seram atau tidak urusan belakangan. Ketika Diana melaksanakan ritual di sel misalnya, yang jadi wahana Dain Said bermain-main memanfaatkan ruang gelap gulita untuk mengkreasi trik visual. It’s scary for some but not for the others. But I think we can agree that it feels unnatural.

Babak persidangan ialah fase terbaik Dukun. Satu per satu saksi hadir, tiap keterangan divisualisasikan, menggiring kita menuju reka ulang insiden yang menjelaskan kengerian dalam ruang praktek Diana. Semakin banyak protagonisnya berguru perihal kasus itu dari para saksi, semakin kita memahami latar belakang kisanya. Di situ terjadi “pertarungan”  Karim melawan jaksa penutut (Chew Kin Wah). Jaksa bersikukuh Diana bersalah, sebaliknya, Karim menyanggah. Argumen mereka berdasar, saya pun tertarik mempertimbangkan versi kebenaran masing-masing, termasuk Karim, di mana maut Datuk Jefri hanya kecelakaan. Setidaknya sampai kasus digali lebih jauh.

Bagi drama ruang sidang, kemampuan memprovokasi penonton, menghadirkan duduk kasus mengenai dua perspektif berlawanan yang diperdebatkan dalam konfliknya, merupakan wujud kesuksesan. Tapi sulit menyangkal argumen bahwa kesuksesan terbesar film ini ialah penampilan Umie Aida. Terlihat mengerikan, mematikan, dengan senyum yang menolak memudar walau berada di persidangan yang mempertaruhkan nyawanya. Pun ia tambahkan sensualitas melalui gestur kecil menyerupai memilin rambut atau gerakan kepala yang menyiratkan kontrol penuh sarat kepercayaan diri atas segala situasi.

“Aku tidak akan mati”. Demikian kalimat terakhir Mona Fandey sebelum lehernya dijerat tali gantungan. Walau tak dimasukkan di film, namun baik di atas atau di balik layar, kalimat itu terus menggema. Terkait narasi, Dain Said pandai menggunakannya guna menyusun konklusi supranatural yang sepenuhnya baru, tidak terikat insiden nyatanya. Sementara di balik layar, seiring kontroversi yang membanjiri filmnya, Mona takkan mati. Namanya, riwayatnya, selalu hidup dalam ingatan publik sebagai bomoh (dukun) penebar teror berdarah.

Kamis, 10 Januari 2019

Ringkasan Cerita Filim The Equalizer 2 2018

Ringkasan Cerita Filim The Equalizer 2 2018

Ringkasan Cerita Filim The Equalizer 2 2018
Ringkasan Cerita Filim The Equalizer 2 2018
Ringkasan Cerita Filim The Equalizer 2 2018, Sebagaimana banyak lanjutan kisah film aksi/thriller di luar sana, The Equalizer2, mengusung konsep “This time it’s personal”, menyelipkan elemen balas dendam yang makin mendekatkannya dengan seri Death Wish (versi Charles Bronson). Bedanya, Paul Kersey yaitu laki-laki paruh baya biasa sedangkan Robert McCall (Denzel Washington) terang jagoan tulen, atau lebih tepatnya superhero. Melebihi one man army macam Dwayne Johnson, bukan cuma tak terkalahkan, ia menghabisi lawan-lawannya dengan wajah masbodoh nihil ekspresi. Dia bisa mengucurkan darah, namun takkan memperlihatkan rasa sakit dikala terluka.

The Equalizer 2 2018

Beberapa orang mungkin bakal menganggap karakterisasi itu melemahkan ketegangan. Benar, tapi kerja sama keempat Denzel dan sutradara Antoine Fuqua (Training Day, Olympus Has Fallen, The Equalizer) ini tidak menyasar intensitas mencekik, melainkan kesan keren sehingga penonton bersorak mendukung si jagoan. Robert merupakan laki-laki murung tapi baik hati, setia mengikuti kompas moral, sekedar menghajar orang-orang yang layak, dari penculik anak, pelaku tindak kekerasan terhadap wanita, gangster perusak generasi muda, dan (pastinya), pembunuh bayaran. Kita lebih dulu diajak membenci mereka, kemudian berharap Robert memberi pelajaran setimpal berupa maut sebrutal dan semenyakitkan mungkin.

Jalannya Cerita The Equalizer 2 2018

Pasca kejadian fim pertama, Robert telah sepenuhnya menjadi vigilante yang sukarela membasmi kejahatan, yang beberapa informasinya diperoleh dari sahabatnya sekaligus mantan anggota CIA, Susan Plummer (Melissa Leo). Layaknya para superhero, Robert mempunyai pekerjaan sebagai samaran, yakni sopir taksi online. Robert gemar menyendiri, tetapi ia menyukai insan beserta segala kebaikan dalam kisah-kisahnya. Mungkin itu alasannya menentukan pekerjaan tersebut, lantaran Robert sanggup mendengar dongeng para penumpang, dan kalau “beruntung”, menemukan kriminalitas untuk dibereskan. Robert bertujuan memperbaiki dunia alih-alih melampiaskan hasrat kekerasan, sehingga jangan heran jikalau ia memperlihatkan pengampunan dahulu bagi penjahat sebelum menghabisinya.

Tapi kini, prinsip di atas terpaksa ia tanggalkan karena, well, “This time it’s personal”. Kematian seorang rekan mendorong Robert bersumpah membunuh siapa saja yang terlibat, walau untuk hingga ke titik itu, butuh waktu hingga durasi berjalan sekitar 30 menit. Serupa film pertama, alur di sela-sela aksinya bergerak lambat, mengajak kita mampir bertemu orang-orang di hidup Robert dulu, mulai Sam (Orson Bean) si pelanggan tetap yang tinggal di panti jompo, dan Miles (Ashton Sanders), siswa sekolah seni yang mulai terseret kehidupan gangster. Tidak semuanya penting, khususnya soal Sam yang bisa dihilangkan tanpa menghapus kesan yang coba dibangun, bahwa Robert merupakan laki-laki berhati emas.

Sebelumnya, tempo lambat alur digunakan mempresentasikan kekosongan hati Robert selaku sorotan utama. Sekarang, pemeriksaan Robert mengungkap pelaku pembunuhan sang mitra yang tampil ke depan. Sayangnya bukan pemeriksaan menarik, jawaban misteri yang diungkap merupakan hal-hal yang sudah kita ketahui. Penonton mengetahui lebih banyak daripada Robert, baik perihal beberapa remah-remah fakta hingga identitas pelaku yang gampang tercium sedari awal. Beruntung kelemahan tersebut sanggup ditambal oleh gelaran agresi yang ditangani secara solid oleh Fuqua. Solid, lantaran berdampak. Kita bisa mencicipi setiap tulang yang patah, juga sayatan yang mencipratkan darah dalam balutan gore minimalis. Aksi milik The Equalizer 2 bukan hanya filler seadanya, melainkan hiburan yang menghantam, membangunkan andai tempo lambat serta plot lemahnya terasa melelahkan.

Semua bermuara di klimaks, yang berkat jasa naskah buatan Richard Wenk, dengan cendekia melibatkan angin puting-beliung ganas (sudah disiratkan lewat siaran radio sepanjang durasi) selaku latar. Kondisi yang seketika mengangkat tensi momen puncaknya berkali-kali lipat. Sedikit menjauh dari nuansa thriller-aksi gritty yang dibawa filmnya, tapi bahagia melihat ada hiburan yang mempunyai kreativitas dalam berdramatisasi ketimbang sebatas menerapkan formula “beat-em-up-shoot-em-up” ala kadarnya. Dan rasanya tidak perlu bicara banyak perihal Denzel yang di sini melakoni sekuel pertama sepanjang karirnya. Ekspresi plus bahasa tubuhnya memancarkan ketangguhan meyakinkan yang seketika bisa berubah memunculkan kecanggungan laki-laki baik hati murah senyum. Denzel sebagai Robert bisa menghadirkan rasa kondusif apabila bersamanya, bahkan dalam gang gelap di tengah dunia kelam nan keras menyerupai sekarang.

Jumat, 04 Januari 2019

Ringkasan Cerita Filim Mile 22 2018

Ringkasan Cerita Filim Mile 22 2018

Ringkasan Cerita Filim Mile 22 2018
Ringkasan Cerita Filim Mile 22 2018



Ringkasan Cerita Filim Mile 22 2018, Melalui Mile 22, Peter Berg (Battleship, Lone Survivor, Deepwater Horizon) terang ingin membuat The Raid versinya. Berg sendiri mengaku, bekerja bersama Iko Uwais merupakan alasannya membuat film ini. Menurut Gareth Evans, bukan saja aktor, Iko ialah pengarah langgar (peran yang juga dilakoni di Mile 22) yang piawai membuat koreografi yang tampak menawan di kamera. Artinya, biar kemampuan itu terfasilitasi, gerakan buatannya perlu diperlihatkan seutuh mungkin, alih-alih dimutilasi oleh penyuntingan liar, trik malas yang jamak dipakai, termasuk di sini. Tapi kita sedang membicarakan Iko Uwais. Tidak ada yang bisa menghentikannya melambungkan kualitas sekuen aksi. Dampaknya bisa berkurang, namun tak bisa dilenyapkan. Ditambah kesediaan Berg menyipratkan darah, setiap langgar yang melibatkan Iko dalam Mile 22 jauh lebih baik dibanding adonan semua film agresi generik Hollywood.
Pertanyaannya, apa tujuan penyuntingan liarnya dipilih? Apalagi teknik itu digunakan bukan cuma di tengah baku hantam, melainkan keseluruhan film, menghasilkan momen-momen blink-it-and-you’ll-miss-it, yang berfungsi sebagai penjelas. Penonton dituntut menjaga fokus—yang mana melelahkan kalau dilakukan terus menerus selama 94 menit—bila enggan tersesat. Untunglah, menyerupai telah disinggung, Berg ingin membuat The Raid versinya, yang berarti, memiliki alur sesederhana mungkin. Sekelompok intel menempuh perjalanan 22 mil guna mengantar aset yang menyimpan isyarat perangkat keras berisi lokasi senjata pemusnah masal, sembari menghadapi pasukan yang dikirim musuh. Sesederhana itu.

Jalannya Cerita Mile 22 2018

Salah satu agen, James Silva (Mark Wahlberg), merupakan laki-laki temperamental pengidap ADHD, yang sulit berdiam diri, dan kalau suasana terlalu intens, memainkan karet gelang santunan mendiang sang ibu yang selalu ia kenakan di tangan. Itu dia. Salah satu alasan Berg menerapkan kesan manic bagi temponya yaitu untuk menyelaraskan pergerakan film dengan kondisi mental protagonis. Perlukah? Tentu tidak. Lagipula Mile 22 tidak dituturkan melalui sudut pandang James dan berpusat pada dirinya seorang. James perlu mengembangkan porsi dengan beberapa tokoh lain.

Pertama Alice Kerr (Lauren Cohan), anggota tim James yang diberi subplot wacana kesulitannya menjaga hubungan dengan sang puteri pasca bercerai. Kisah sampingan ini coba menggambarkan bahwa profesi dalam bidang spionase tak memungkinkan orang-orangnya menjalani hidup normal, namun hanya tampil sekilas tanpa resolusi maupun efek emosi. Tokoh kedua tentu saja Li Noor (Iko Uwais), polisi Indocarr yang mengkhianati bangsanya dengan membocorkan diam-diam pada pihak Amerika.

Ya, anda tidak salah baca. Ketika negara lain menyerupai Rusia disebut menggunakan nama aslinya, Indonesia menjelma Indocarr. Rumor menyebutkan, naskah buatan Lea Carpenter awalnya menggunakan nama Indonesia, pun filmnya sempat berniat mengambil gambar di sini. Sayang rencana itu batal akhir semrawutnya kondisi Jakarta serta ketiadaan insentif dari pemerintah. Alhasil, proses dipindah ke Bogota, Kolombia. Bisa dipahami, walau semestinya mereka bisa memikirkan alternatif nama yang lebih baik, alasannya ialah Indocarr terdengar menyerupai showroom mobil.

Memerankan sosok misterius, gaya kalem terang cocok dilakoni Iko untuk sekarang, sampai kapasitas akting dramatiknya pelan-pelan meningkat suatu hari nanti. Paling tidak saya lebih nyaman menyaksikannya mengucap sepatah dua patah kata daripada akting berlebihan Mark Wahlberg, dengan mata melotot yang menggelikan serta pengucapan kalimat dibuat-buat selaku perjuangan mati-matian mengesankan sosok hiperaktif. Sedangkan pada porsi langgar terang Iko tak tertandingi. Menjalani dominan stunt-nya dengan tangan diborgol, beliau menyayat badan lawan, meremukkan tulang mereka, bergerak indah kolam penari menarikan tarian mematikan, menunjukan kapasitas sebagai bintang langgar terbaik masa kini.



Kembali menyinggung duduk kasus penyuntingan kilat dan keliaran tempo, sepertinya tujuan Berg menentukan teknik tersebut supaya mengurangi penurunan tensi, menjaga filmnya sepadat mungkin. Sense of urgency. Itu yang dicari, dan itu pula yang berhasil diciptakan. Walau kadang terasa bagai tes daya tahan, selama anda bisa bertahan, Mile 22 akan menjadi sajian langgar spionase cepat, liar sekaligus cekatan, yang menolak melepaskan penonton dari cengkeraman intensitasnya. Berg paham betul alurnya setipis kertas, kemudian menentukan memacu filmnya biar penonton tidak berkesempatan menyadari itu kemudian merasa bosan.

Senin, 31 Desember 2018

Ringkasan Cerita Filim Searching 2018

Ringkasan Cerita Filim Searching 2018

Ringkasan Cerita Filim Searching 2018
Ringkasan Cerita Filim Searching 2018

“Could you please tell me everything you know about your son/daughter?”. Jalannya Cerita Filim Searching 2018, Tentu kita sering mendengar pertanyaan serupa diajukan pihak kepolisian terhadap orang renta dalam film wacana hilangnya seseorang. Tapi David Kim (John Cho) tidak benar-benar bisa menjawab. Dia tidak berteman atau mengikuti sang puteri, Margot (Michelle La), di sosial media, tidak pula mengenal satu pun temannya di dunia nyata. Kondisi yang menjadikan Searching—seperti tagline-nya—bukan cuma perjuangan mencari keberadaan Margot, juga proses David mencari tahu siapa Margot sesungguhnya.

Searching 2018

Beberapa arsip dari kompter keluarga Kim membuka filmnya, menunjukkan tahun-tahun senang mereka, sedari lahirnya Margot, video kegiatan bersama, hingga foto-foto hari pertama tiap Margot menempuh tahun fatwa gres di sekolah. Iringan musik indah berbasis piano buatan Torin Borrowdale akan menciptakan hati terenyuh seketika. Musiknya kolam diambil dari katalog Pixar, dan secara kebetulan, ini merupakan montage pembuka paling menyentuh yang pernah saya saksikan semenjak Up (2009). Sayang, menyerupai Up, montage dalam debut penyutradaraan Aneesh Chaganty berujung sedih kala istri David, Pamela (Sara Sohn), meninggal tanggapan kanker. Lalu segalanya berubah.

David enggan membahas perihal kematian sang istri, menjadikan hubungannya dengan Margot merenggang. Saat suatu malam si gadis cukup umur tak kembali pulang, David pun kelimpungan. Polisi dihubungi, masalah orang hilang dibuka, pemeriksaan dimulai. David sendiri melaksanakan pencarian via internet, mengusut akun sosial media juga podcast buatan Margot, yang berperan membuka mata David, bahwa ia sama sekali tak mengenal sang puteri. David tak bisa mengunjungi pribadi teman-teman Margot lantaran ia tak tahu siapa mereka, menjadikan proses mencari melalui internet suatu langkah masuk akal. Itu pertolongan terbesar yang bisa David sumbangkan untuk Detektif Rosemary Vick (Debra Messing) yang bertugas menangani kasusnya.

Jalannya Cerita Searching 2018

Investigasi online David secara mengejutkan tampil realistis. Mencari kata sandi akun melalui verifikasi surel, memanfaatkan Google guna mencari nomor kontak, semua merupakan hal-hal yang bisa, bahkan kemungkinan sering penonton lakukan. Dan—koreksi kalau saya salah—seluruh situs yang Searching munculkan benar-benar bisa diakses. Pada film di mana internet berperan besar, tentu tidak lengkap jikalau kisahnya tak menyentil sikap warganet. Begitu pemberitaan masalah Margot membesar, rekan-rekan sekelas yang tak terlalu bersahabat berbondong-bondong mengaku sebagai sahabat, latah menyuarakan simpati melalui status media sosial. Tidak dalam kuantitas besar, namun elemen di atas cukup memberi satir menggelitik seputar kepalsuan dan panjat sosial dunia maya.

Beberapa penonton tentu akan menyandingkan Searching dengan Unfriended (2014) mengingat keduanya sama-sama mengambil sudut pandang rekaman webcam. Tapi tidak. Searching membuatkan teknik itu lebih jauh. Bukan aja komputer, telepon genggam, CCTV, hingga liputan gosip turut dipakai, memberi variasi penjaga kestabilan intensitas tanpa perlu melenceng dari konsep dasar.  Variasi lain dimiliki tone-nya, yang meski serius dan sesekali menyentuh teritori yang cukup kelam, naskah buatan Aneesh Chaganty dan Sev Ohanian masih punya waktu menyelipkan humor, yang makin lucu lantaran bukan mustahil, beberapa kerap kita lakukan selama menjalani keseharian bersosial media.

Sebagai sutradara, Chaganty melaksanakan pekerjaan luar biasa ketika mampu mengangkat tensi ke tingkatan lebih tinggi ketika film memasuki pertengahan, yang biasanya, jadi momen ketika thriller kehilangan daya cengkeramnya. Peningkatan tersebutbertempat di “adegan danau”, sewaktu investigasinya “banting setir”, bergerak ke arah tak terduga yang semakin darurat, semakin genting, semakin menegangkan. Dan semakin intens filmnya, bertambah pula tantangan bagi John Cho menghadirkan performa meyakinkan mengingat hampir sepanjang durasi, ia hanya menatap layar komputer maupun telepon genggam. Tapi Cho lancar mengolah rasa, mejadikan film ini layaknya rekaman pengukuhan dosa yang jujur dan personal.

Setiap fase pencarian mengungkap fakta gres sedikit demi sedikit, dan setiap fakta, mengarahkan kita menuju kejutan. Banyak kejutan. Setelah skenario suatu situasi berjalan, memang gampang menebak apakah itu faktual atau misleading, tapi anda takkan menduga kebenaran sesunggunya. Setidaknya, tidak secara detail nan menyeluruh. Pun kebenaran tersebut masih selaras dengan tema utama film, bukti jikalau keberadaannya bukan semata demi faktor kejutan. Twist terbaik tidak (hanya) dinilai dari seberapa mengejutkan. Twist terbaik tidak tiba entah dari mana, tapi serupa yang dicontohkan Searching, tertanam sepanjang film. Andai kita dan David memberi perhatian lebih.....

Minggu, 09 Desember 2018

Ringkasan Cerita Filim Bollywood Andhadhun 2018

Ringkasan Cerita Filim  Bollywood Andhadhun 2018

Ringkasan Cerita Filim  Bollywood Andhadhun 2018
Ringkasan Cerita Filim  Bollywood Andhadhun 2018

Andhadhun bisa menjadi salah satu sajian Bollywood dalam beberapa tahun belakangan yang paling ibarat karya-karya Alfred Hitchcock. Hasil penyutradaraan kelima Sriram Raghavan (Johnny Gaddaar, Badlapur) ini mengandung beberapa elemen Hitchcockian: seorang laki-laki di situasi yang salah, perkara pembunuhan penuh rencana sarat tipu daya, perselingkuhan, abjad yang sulit dipercaya, dan hal favorit banyak penonton, apalagi kalau bukan twist. Filmnya tahu penonton suka dikejutkan oleh belokan alur tak terduga, dan memberikannya sebanyak mungkin. Terlalu banyak malah.

Ringkasan Cerita Filim Bollywood Loveyatri 2018

Andhadhun 2018

Akash (Ayushmann Khurana) ialah pianis buta bertalenta yang sedang berusaha menuntaskan musik terbarunya ketika seorang gadis berjulukan Sophie (Radhika Apte) menabraknya dengan motor di jalan. Diawali kecelakaan, Sophie pun mengetahui bakat luar biasa Akash, kemudian menawarinya pekerjaan sebagai pianis di sebuah cafe. Dari pekerjaan itu pula Akash bertemu Pramod Sinha (Anil Dhawan), mantan pemain drama ternama yang meminta Akash bermain piano di rumahnya, dalam rangka konser privat sebagai kejutan ulang tahun pernikahannya dengan Simi (Tabu) sang istri muda. Dari situlah Akash terseret menuju situasi yang hanya bisa saya deskripsikan sebagai “intens dan dilematis”.

Seperti telah disebutkan, perkara pembunuhan turut terjadi. Siapa yang dibunuh, oleh siapa, bagaimana, atau di mana, saya tak bisa menyebutkan, tapi bahkan sebelum itu terjadi, Andhadhun sudah mempunyai elemen kejutan—yang mungkin tak seberapa sulit ditebak—yang berperan selaku peringatan bagi kita, bahwa tidak ada satu pun abjad sanggup dipercaya.

Naskahnya yang ditulis oleh 5 orang, Sriram Raghavan, Arijit Biswas, Pooja Ladha Surti, Yogesh Chandekar, dan Hemant Rao, menyuntikkan unsur komedi hitam khususnya pada dua babak awal tatkala kesialan-kesialan Akash beserta tendensinya untuk muncul di waktu dan daerah yang keliru menghadirkan pemandangan menggelitik. Keterlibatan Akash pun senantiasa membuat kekacauan, dan Sriram Raghavan bermain-main dengan kekacauan tersebut guna membuat momen humor yang tak pernah mendistraksi akhir menjadi terlalu konyol.

Captain Marvel Akan Meramaikan Deretan Filim SuperHero Awal Maret 2019 Mendatang

Jalannya Cerita

Komedinya urung melucuti ketegangan situasi berbahaya yang dialami Akash berkat kemampuan sang sutradara memeras intensitas dari aneka macam interaksi antara karakter, di mana mereka memainkan trik psikologis, saling tebak, sambil melancarkan kebijaksanaan kancil terhadap satu sama lain. Apabila Hitchcock gemar memusatkan ketegangan melalui insiden berlokasi tunggal, Raghavan menentukan menebar beberapa situasi, yang masing-masing berpusat di lokasi tertentu, dengan tiap lokasi dan situasi itu sanggup dijadikan film panjang berlokasi tunggal sendiri. 

Sampai kemudian lingkup kisah membesar, semakin banyak abjad turut terlibat dan terus berpindah sisi, pun jumlah kejutan yang dibeberkan terus bertambah. Apalagi di sepertiga akhir, ketika alih-alih mempresentasikan alur utuh yang diselipi twist, justru alurnya yang berperan sebagai selipan dengan fungsi menjembatani twist demi twist. Alhasil baik ketegangan maupun pengaruh kejutnya menurun, lantaran kita hingga pada titik ketika kita tahu, kalau kemungkinan besar, segala hal yang ada, bergotong-royong tidak mirip tampak luarnya.

Ayushmann, yang menghabiskan 2 bulan mencar ilmu pada pianis Los Angeles, Akshay Verma, tampil meyakinkan. Jari-jarinya lancar menari-nari di atas tuts. Sedangkan sebagai laki-laki clueless yang terkurung di tengah situasi yang salah nan dilematis, kehampaan di matanya terperinci mewakili kebingungan luar biasa yang karakternya rasakan. Turut mencuri perhatian ialah Tabu, lewat performa yang bisa disandingkan dengan jajaran “Hitchcock blonde”, hanya saja, dengan sedikit lebih banyak bumbu komedi.

Ringkasan Cerita Filim Adrift 2018

Ringkasan Cerita Filim Adrift 2018 Ringkasan Cerita Filim Adrift 2018 Ringkasan Cerita Filim Adrift 2018, Sepasang kekasih ( or soo-...