Tampilkan postingan dengan label Cukup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cukup. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Januari 2019

Ringkasan Cerita Filim The Spy Who Dumped Me 2018

Ringkasan Cerita Filim The Spy Who Dumped Me 2018

Ringkasan Cerita Filim The Spy Who Dumped Me 2018
Ringkasan Cerita Filim The Spy Who Dumped Me 2018

Ringkasan Cerita Filim The Spy Who Dumped Me 2018, The Spy Who Dumped Me
 adalah 2 hal: 1) Film dengan bahan sangat lemah sehingga sepenuhnya bergantung pada penampilan cast, dan 2) Aktris dengan bakat luar biasa sehingga bisa mengangkat kualitas film, melaksanakan yang terbaik supaya filmnya sanggup bekerja  di bahan terlemah sekalipun. Sambutlah Kate McKinnon, salah satu anggota terlucu Saturday Night Live (SNL) masa sekarang yang masih mencari breakthrough movie pasca reboot Ghostbusters (2016) remuk di pasaran. McKinnon amat memikat, bisa jadi anda terkekeh hanya alasannya melihat ekspresinya, bahkan dalam lawakan yang tidak lucu.

The Spy Who Dumped Me 2018

McKinnon memerankan Morgan (nama belakangnya bakal jadi amunisi humor nantinya), perempuan dengan sikap eksentrik yang juga sahabat Audrey (Mila Kunis), yang dalam buddy comedy ini berperan sebagai “si normal”. Dialah gadis yang dicampakkan oleh seorang mata-mata, yakni biro CIA berjulukan Drew (Justin Theroux), yang suatu hari mendadak hilang dari kehidupan Audrey. Drew kembali bersama serombongan pembunuh, juga jajaran MI6, yang semuanya mengincar flash drive yang disembunyikan Drew. Bisa ditebak, flash drive itu jatuh ke tangan Audrey, dan membawanya bersama Morgan terlibat kucing-kucingan berskala internasional, sebagaimana James Bond selalu lakukan.

Jalannya Cerita Filim The Spy Who Dumped Me 2018

Tentu flash drive itu sebatas MacGuffin dengan satu-satunya fungsi yaitu membawa kedua tokoh utama menuju petualangan gila di bermacam-macam lokasi. Penulis naskahnya, Susanna Fogel (juga sebagai sutradara) dan David Iserson pun tak berusaha menyamarkan tugas tersebut. Kita hanya tahu, isi flash drive tersebut sanggup membobol jaringan internet di seluruh dunia lewat “pintu belakang”. Cara pastinya, pembuatnya, serta segala detail lain seutuhnya dikesampingkan. Terpenting, Audrey dan Morgan tak boleh membiarkannya jatuh ke tangan musuh, biar alurnya sendiri bisa terus bergerak menuju tempat-tempat berikutnya. Apa yang terjadi sesudah datang di destinasi tidak penting, bukan mustahil, sepanjang petualangan, anda akan melupakan eksistensi flash drive itu.

Menu utama petualangannya ialah kebodohan. Hampir semua tokoh film ini punya kebodohan. Dari biro CIA yang selalu membanggakan status sebagai alumni Harvard, hingga si pembunuh berdarah hambar yang (nyaris) selalu tanpa verbal turut memperoleh porsi humor. Tapi materinya lemah, takkan memberi efek walau sekedar sebersit senyum andai tidak ada McKinnon yang memberi dorongan daya. Serupa komedian-komedian terbaik di luar sana, McKinnon tahu bagaimana menimbulkan tiap serpihan dirinya aset kelucuan, kemudian mengerahkan segalanya, mulai mata, senyum, hingga gerakan-gerakan eksentrik sebagai perempuan yang bersikap kolam cuma didasari intuisi gila. Saya pun yakin jikalau beberapa momen terbaik merupkan hasil dari improvisasinya. Sementara Kunis cukup sukses mengimbangi biar tak karam di balik pesona lawan mainnya.

Bahkan sesudah mendapatkan injeksi energi dari McKinnon, pula chemistry solidnya bersama Kunis, The Spy Who Dumped Me hanya berhenti di taraf “layak tonton”. Filmnya malah lupa melucu kala mengeksekusi porsi aksi, yang secara mengejutkan tampil brutal dan kental kekerasan. Pria yang terlontar dari sepeda motor, perempuan paruh baya yang tangannya tertusuk pisau dapur, menjadi beberapa pola perjuangan Susanna Fogel (Life Partners) menunjukan bahwa komedi-aksi dengan perempuan selaku pemeran utama tidak kalah “gahar” dibanding yang menampilkan bintang film pria. Sedikit berlawanan dengan tujuan membuat hiburan ringan, keberhasilan penyutradaraan Fogel merangkai agresi high octane membuatnya tak lagi jadi masalah.

Tingkat kekerasan itu sejatinya sudah cukup menghadirkan pesan subtil, tapi Fogel dan Iserson bagai kurang puas jikalau belum berpesan melalui alurnya. Audrey digambarkan tidak pernah menuntaskan apa pun yang ia mulai. Apa tepatnya? Kita tak pernah melihat Audrey enggan menuntaskan sesuatu. She even finished so many lives with her gun and driving skil. Sedangkan Morgan terganggu atas cap “aneh” yang disematkan padanya dan ingin menunjukan anggapan itu keliru. Tapi The Spy Who Dumped Me terang memanfaatkan, mengeksploitasi kecacatan itu, sengaja menjadikannya seabsurd mungkin. Film ini rupanya juga bermuka dua, ibarat beberapa tokohnya yang menyimpan identitas belakang layar guna melangsungkan pengkhianatan. Begitu usai, secara umum dikuasai kontennya akan terlupakan kecuali McKinnon yang sepadan dengan harga tiketnya.

Kamis, 17 Januari 2019

Ringkasan Cerita Filim Si Doel The Movie 2018

Ringkasan Cerita Filim Si Doel The Movie 2018

Ringkasan Cerita Filim Si Doel The Movie 2018
Ringkasan Cerita Filim Si Doel The Movie 2018
Ringkasan Cerita Filim Si Doel The Movie 2018, Terdapat cara mengidentifikasi apakah anda termasuk sasaran pasar Si Doel the Movie atau bukan. Apabila mendengar kepingan lirik “Aaanak Betawiiii...” membawa anda melayang ke ruang nostalgia bahkan emosional, atau anda bisa mengasosiasikan voice over, foto keluarga, sampai tanjidor dengan momen-momen tertentu dari sinetronnya, maka film ini untuk anda. Karena artinya, ibarat saya, keseharian anda sempat ditemani Si Doel Anak Sekolahan (1994-2003). Sedangkan bagi penonton baru, alias tanpa kenangan wacana sinetronnya, mungkin kedekatan emosi takkan didapat.

Si Doel The Movie 2018

Tapi jangan khawatir, lantaran Rano Karno, yang menjadi sutradara (debut layar lebarnya) sekaligus penulis naskah (pernah menulis Satu Jam Saja dan Anak-Anak Malam) selain tentunya memerankan Doel, berbaik hati mengatakan penjelasan. Bukan klarifikasi asal taruh layaknya kursus kilat, melainkan bersifat alami. Misalnya dari obrolan ketika Sarah (Cornelia Agatha) mengungkapkan alasannya meninggalkan Doel 14 tahun lalu. Kita diberi tahu latar belakang yang terjadi dalam sebuah pembicaraan yang masuk akal terjadi. Bisa juga lewat bahasa visual, ibarat kala Koh Ahong (Salman Alfarizi) melirik Zaenab (Maudy Koesnaedi), ketika Mak Nyak (Aminah Cendrakasih) bertanya, mengapa ia belum menikah? Penonton awam sanggup menangkap adanya perasaan khusus Koh Ahong.

Jalannya Cerita Filim Si Doel The Movie 2018

Bagi penggemar, mendapati tokoh-tokoh idola masih sama ibarat dalam ingatan sudah menjadi kepuasan tersendiri. Contohnya Mandra (Mandra), selaku abjad pertama yang mengisi layar. Langsung ia pamerkan lisan besar ciri khasnya, yang gemar pamer juga mengeluh, sekaligus berperan sebagai motor unsur komedi yang konsisten mencerahkan suasana sepanjang durasi. Kali ini beliau pamer lantaran akan diajak Doel ke Belanda demi memenuhi proposal pekerjaan dari Hans (Adam Jagwani). Paruh awal ini agak terganggu akhir lemahnya penataan bunyi yang kerap menciptakan obrolan tenggelam. Untungnya, duduk kasus ini tak berlangsung lama, hilang semenjak Doel dan Mandra berangkat, meninggalkan Atun (Suti Karno) dan Zaenab di rumah.

Zaenab pun sama, masih perempuan penyabar, ikhlas, selalu mendapatkan walau di belakang senantiasa terluka. Dia bersabar menanti Doel memberi kabar setibanya di Belanda, sama ibarat ketika ia sabar menanti sang pujaan hati membalas cintanya. Begitu sabar, walau dalam dua situasi itu, Sarah selalu menghalangi. Tanpa melihat trailer pun kita tahu kekhawatiran Zaenab mengenai pertemuan Doel dan Sarah bakal terwujud. Bukan Si Doel namanya tanpa konflik cinta segitiga mereka. Konflik yang bersama-sama “jalan di tempat”, meski kini, status ijab kabul menambah kompleksitas. Doel belum resmi menceraikan Sarah, sementara ia sudah menikah siri dengan Zaenab.

Keseluruhan alurnya, yang beberapa poinnya pernah ditampilkan di FTV Si Doel Anak Pinggiran (2011), bagai menjembatani dongeng usang menuju problematika baru, tak ubahnya episode pilot untuk story arc berikutnya. Layaknya pilot pula, dinamika permasalahan tak seberapa. Mengecewakan, namun bisa dipahami. Mayoritas franchise lawas yang dibangkitkan lagi, niscaya dimulai dengan sajian yang murni mengarah nostalgia demi merenggut kembali perhatian penggemar usang ketimbang eksklusif menjabarkan narasi gres yang utuh dan “layak”.

Doel balasannya bertemu dengan Sarah di Tropenmuseum. Pemilihan lokasinya sesuai. Museum merupakan daerah menyimpan artefak masa kemudian semoga tak terlupakan, sebagaimana Sarah yang sulit Doel lupakan walau kekerabatan keduanya telah berlalu. Mungkin ibarat kata Mandra, Doel ialah orang primitif yang menyukai masa lalu, atau sebaliknya, ibarat para pengunjung museum, ia menghargai meori, memperlakukannya dengan penuh cinta. Tokoh utama kita ini memang tidak pernah berubah. Masih diam, tertutup, penuh keraguan. Bahkan tatkala bertatap muka untuk kali pertama dengan Dul (Rey Bong), anaknya. Sikapnya terkesan terlalu dingin, toh sanggup dimaklumi, meningat “anak harus hormat kepada orang bau tanah apa pun kondisinya” termasuk nilai kekeluargaan yang Rano Karno, beserta dongeng Si Doel junjung semenjak dahulu.

Cornelia Agatha, yang balasannya kembali ke layar lebar sesudah 12 tahun semenjak Jatuh Cinta Lagi, sanggup mengubah kalimat klise ibarat “Aku yang salah!” menjadi emosional. Dia dan Rano Karno—dalam kapasitas selaku sutradara—saling mengisi bermodalkan pemahaman masing-masing atas mise en scène demi menguatkan dramatisasi. Cornelia, layaknya pemain film panggung yang baik, tahu kapan mesti bererak, berdiri, melangkah menjauh dari lawan bicara guna memberi penekanan. Terkait penempatan blocking pada penyutradaraan Rano Karno, saya menyukai sebuah adegan ketika Doel tengah kusut pikirannya, sementara Sarah dan Dul, jauh di belakang, di luar titik fokus kamera, beraktivitas tanpa sepengetahuan Doel. Momen non-verbal tersebut bicara banyak, khususnya soal isi pikiran Doel. Si Doel the Movie terang punya segalanya untuk menghasilkan lebih dari obat nostalgia. Tapi untuk sekarang, tujuan itu rasanya sudah cukup.

Rabu, 16 Januari 2019

Ringkasan Cerita Filim Kafir: Bersekutu Dengan Setan 2018

Ringkasan Cerita Filim Kafir: Bersekutu Dengan Setan 2018

Ringkasan Cerita Filim Kafir: Bersekutu Dengan Setan 2018
Ringkasan Cerita Filim Kafir: Bersekutu Dengan Setan 2018

Ringkasan Cerita Filim Kafir: Bersekutu Dengan Setan 2018, Kalau anda mencari horor yang tidak semata bergantung pada jump scare berisik dan mengandung kisah untuk dituturkan, maka Kafir: Bersekutu dengan Setan mengatakan alternatif tersebut. Tanpa kaitan dengan Kafir (2002) kecuali pada kemiripan judul dan penampilan Sujiwo Tejo sebagai dukun santet, film yang naskahnya digarap oleh Upi (#TemanTapiMenikah, Sweet 20, My Stupid Boss) dan Rafki Hidayat ini akan diingat selaku film yang berani mencoba pendekatan berbeda di tengah tornado horor yang minim variasi, baik wacana gaya maupun kualitas. Perlu diapresiasi, meski menyimpan setumpuk kelemahan sehingga memperpanjang penantian atas “horor bagus” pasca Pengabdi Setan.

Kafir: Bersekutu Dengan Setan 2018

Kafir: Bersekutu dengan Setan dibuka oleh atmosfer menjanjikan. Terasa tidak nyaman, berbekal nuansa lawas hasil pewarnaan, tata artistik, serta musik, yang  tak pelak memunculkan komparasi dengan Pengabdi Setan. Sri (Putri Ayudya), bersama sang suami, Herman (Teddy Syach) dan puterinya, Dina (Nadya Arina) sedang makan malam bersama, sembari menanti kepulangan si anak laki-laki, Andi (Rangga Azof). Mendadak Herman muntah darah. Dia tewas dengan kaca keluar dari mulutnya. Tidak salah lagi, Herman merupakan korban santet. Siapa pun pelakunya ia benar-benar ingin menghancurkan keluarga ini hingga ke akarnya. Itulah mengapa meja makan dipilih jadi panggung pembunuhan.

Jalannya Cerita Filim Kafir: Bersekutu Dengan Setan 2018

Mengapa meja makan? Karena di situ, beserta acara makan bersama, seringkali jadi ajang bertukar rasa antar anggota keluarga. Mematikannya, berarti mematikan suatu keluarga. Benar saja, sepeninggal Herman, kehangatan memudar. Kafir: Bersekutu dengan Setan menggunakan bentuk horor psikologis guna membungkus paruh awalnya. Trauma yang dialami Sri jadi sorotan. Lagu kesukaan Herman dihentikan diputar, pun enggan ia memasak opor ayam kesukaan mendiang suaminya itu. Sewaktu Andi—yang membawa pacar barunya, Hanum (Indah Permatasari)—tersedak kala makan, wajah Sri pribadi dipenuhi teror. Memori final hidup tragis Herman muncul, dan Putri Ayudya tampil meyakinkan memerankan perempuan yang terluka luar-dalam.

Sri melihat panci yang terjatuh sendiri, “kembaran” Andi, hingga noda hitam yang tak kunjung hilang di langit-langit. Apakah itu semua positif atau sebatas produk stress berat mendalam? Naskahnya tak pernah menyelami pertanyaan itu lebih jauh, meninggalkan banyak kekosongan berwujud observasi tanpa eksplorasi dalam alur bertempo lambat. Jangan harapkan jump scare bombastis. Beberapa perjuangan mengageti penonton tetap dilakukan, tapi tak dieksploitasi. “Atmosferik” ialah kesan yang ingin diciptakan, walau ketidakmampuan sutradara Azhar Kinoy Lubis (Jokowi, Surat Cinta untuk Kartini) mengkreasi tensi, khususnya kala tiada kejadian besar terjadi, menghalangi tercapainya tujuan tersebut.

Penonton hampir tidak pernah ditempatkan di posisi karakterya. Sri ketakutan, saya tidak. Sebabnya sederhana: keanehan-keanehan di sekitar Sri tak nampak mengerikan di layar. Benda-benda bergerak, alat musik berbunyi sendiri, semua itu seram apabila terjadi di realita. Namun di film, anda tidak bisa sekedar menangkap kejadian itu di kamera kemudian berharap ketakutan otomatis timbul di hati penonton. Butuh ketrampilan juga sensitivitas guna melukis gambar-gambar menyeramkan, biar ketakutan karakternya tersalurkan ke penonton. Azhar tidak (atau belum) memiliki itu.

Dinamika meningkat ketika Jarwo (Sujiwo Tejo) masuk, menampilkan gaya creepy nan eksentrik miliknya. Di sini terjadi “hal besar” ketimbang sekedar kejadian poltergeist, sehingga Azhar memperoleh amunisi berlebih. Adegan yang melibatkan api di kediaman Jarwo tersaji mendebarkan pula mencengangkan. Selain itu, filmnya mulai memasuki babak penelusuran misteri. Berkutat pada pertanyaan “Siapa pelaku santet?”, pengenalan misterinya menarik. Jika berhenti di wacana “siapa”, jawabannya gampang ditebak bahkan semenjak setengah jam pertama, tapi dalam jenis dongeng whodunit, proes pun penting.

Penelusuran fakta yang tersibak satu demi satu merupakan pondasi yang wajib dibangun lebih dulu. Namun Kafir: Bersekutu dengan Setan lalai melibatkan penonton dalam penyelidikan. Terlihat ketika beberapa kali karakternya menemukan petunjuk yang urung diungkap kepada penonton. Dengan demikian, durasi bergulir dan alur terus bergerak maju, tapi kolam tanpa progres. Seluruhnya ditimbun, disimpan bagi third act yang terasa tidak sinkron dengan keseluruhan film, khususnya terkait pembawaan over the top Indah Permatasari dan Nova Eliza. Penampilan keduanya di titik puncak kolam berasal dari horor yang mengedepankan unsur “fun” atau bahkan b-movie. Tidak buruk, hanya bukan di sini tempatnya. Their performance don’t belong here.

Paling tidak klimaksnya menyimpan momen tidak mengecewakan menegangkan yang melibatkan darah dan kekerasan. Sayang, kelebihan itu lagi-lagi tidak berlangsung lama, tepatnya hingga film ini melaksanakan simplifikasi terkait cara mengakhiri konflik. Perkelahian yang ditangani begitu canggung oleh Azhar ialah cara yang dimaksud. “Beat ‘em up” is the easiest (read: the laziest) way to ends a conflict in any movie. Ingin sekali rasanya berkata “Saya mengagumi film ini”, dan terang saya mengapresiasi usahanya ampil beda. Tapi sesudah horor jelek gentayangan silih berganti di bioskop, saya, dan rasanya lebih banyak didominasi penonton, ingin segera menyaksikan hasil lebih tinggi.

Kamis, 10 Januari 2019

Ringkasan Cerita Filim The Equalizer 2 2018

Ringkasan Cerita Filim The Equalizer 2 2018

Ringkasan Cerita Filim The Equalizer 2 2018
Ringkasan Cerita Filim The Equalizer 2 2018
Ringkasan Cerita Filim The Equalizer 2 2018, Sebagaimana banyak lanjutan kisah film aksi/thriller di luar sana, The Equalizer2, mengusung konsep “This time it’s personal”, menyelipkan elemen balas dendam yang makin mendekatkannya dengan seri Death Wish (versi Charles Bronson). Bedanya, Paul Kersey yaitu laki-laki paruh baya biasa sedangkan Robert McCall (Denzel Washington) terang jagoan tulen, atau lebih tepatnya superhero. Melebihi one man army macam Dwayne Johnson, bukan cuma tak terkalahkan, ia menghabisi lawan-lawannya dengan wajah masbodoh nihil ekspresi. Dia bisa mengucurkan darah, namun takkan memperlihatkan rasa sakit dikala terluka.

The Equalizer 2 2018

Beberapa orang mungkin bakal menganggap karakterisasi itu melemahkan ketegangan. Benar, tapi kerja sama keempat Denzel dan sutradara Antoine Fuqua (Training Day, Olympus Has Fallen, The Equalizer) ini tidak menyasar intensitas mencekik, melainkan kesan keren sehingga penonton bersorak mendukung si jagoan. Robert merupakan laki-laki murung tapi baik hati, setia mengikuti kompas moral, sekedar menghajar orang-orang yang layak, dari penculik anak, pelaku tindak kekerasan terhadap wanita, gangster perusak generasi muda, dan (pastinya), pembunuh bayaran. Kita lebih dulu diajak membenci mereka, kemudian berharap Robert memberi pelajaran setimpal berupa maut sebrutal dan semenyakitkan mungkin.

Jalannya Cerita The Equalizer 2 2018

Pasca kejadian fim pertama, Robert telah sepenuhnya menjadi vigilante yang sukarela membasmi kejahatan, yang beberapa informasinya diperoleh dari sahabatnya sekaligus mantan anggota CIA, Susan Plummer (Melissa Leo). Layaknya para superhero, Robert mempunyai pekerjaan sebagai samaran, yakni sopir taksi online. Robert gemar menyendiri, tetapi ia menyukai insan beserta segala kebaikan dalam kisah-kisahnya. Mungkin itu alasannya menentukan pekerjaan tersebut, lantaran Robert sanggup mendengar dongeng para penumpang, dan kalau “beruntung”, menemukan kriminalitas untuk dibereskan. Robert bertujuan memperbaiki dunia alih-alih melampiaskan hasrat kekerasan, sehingga jangan heran jikalau ia memperlihatkan pengampunan dahulu bagi penjahat sebelum menghabisinya.

Tapi kini, prinsip di atas terpaksa ia tanggalkan karena, well, “This time it’s personal”. Kematian seorang rekan mendorong Robert bersumpah membunuh siapa saja yang terlibat, walau untuk hingga ke titik itu, butuh waktu hingga durasi berjalan sekitar 30 menit. Serupa film pertama, alur di sela-sela aksinya bergerak lambat, mengajak kita mampir bertemu orang-orang di hidup Robert dulu, mulai Sam (Orson Bean) si pelanggan tetap yang tinggal di panti jompo, dan Miles (Ashton Sanders), siswa sekolah seni yang mulai terseret kehidupan gangster. Tidak semuanya penting, khususnya soal Sam yang bisa dihilangkan tanpa menghapus kesan yang coba dibangun, bahwa Robert merupakan laki-laki berhati emas.

Sebelumnya, tempo lambat alur digunakan mempresentasikan kekosongan hati Robert selaku sorotan utama. Sekarang, pemeriksaan Robert mengungkap pelaku pembunuhan sang mitra yang tampil ke depan. Sayangnya bukan pemeriksaan menarik, jawaban misteri yang diungkap merupakan hal-hal yang sudah kita ketahui. Penonton mengetahui lebih banyak daripada Robert, baik perihal beberapa remah-remah fakta hingga identitas pelaku yang gampang tercium sedari awal. Beruntung kelemahan tersebut sanggup ditambal oleh gelaran agresi yang ditangani secara solid oleh Fuqua. Solid, lantaran berdampak. Kita bisa mencicipi setiap tulang yang patah, juga sayatan yang mencipratkan darah dalam balutan gore minimalis. Aksi milik The Equalizer 2 bukan hanya filler seadanya, melainkan hiburan yang menghantam, membangunkan andai tempo lambat serta plot lemahnya terasa melelahkan.

Semua bermuara di klimaks, yang berkat jasa naskah buatan Richard Wenk, dengan cendekia melibatkan angin puting-beliung ganas (sudah disiratkan lewat siaran radio sepanjang durasi) selaku latar. Kondisi yang seketika mengangkat tensi momen puncaknya berkali-kali lipat. Sedikit menjauh dari nuansa thriller-aksi gritty yang dibawa filmnya, tapi bahagia melihat ada hiburan yang mempunyai kreativitas dalam berdramatisasi ketimbang sebatas menerapkan formula “beat-em-up-shoot-em-up” ala kadarnya. Dan rasanya tidak perlu bicara banyak perihal Denzel yang di sini melakoni sekuel pertama sepanjang karirnya. Ekspresi plus bahasa tubuhnya memancarkan ketangguhan meyakinkan yang seketika bisa berubah memunculkan kecanggungan laki-laki baik hati murah senyum. Denzel sebagai Robert bisa menghadirkan rasa kondusif apabila bersamanya, bahkan dalam gang gelap di tengah dunia kelam nan keras menyerupai sekarang.

Rabu, 09 Januari 2019

Ringkasan Cerita Filim Along With The Gods: The Last 49 Days 2018

Ringkasan Cerita Filim Along With The Gods: The Last 49 Days 2018

Ringkasan Cerita Filim Along With The Gods: The Last 49 Days 2018
Ringkasan Cerita Filim Along With The Gods: The Last 49 Days 2018

Ringkasan Cerita Filim Along With The Gods: The Last 49 Days 2018, Dwilogi Along with the Gods, yang mengadaptasi webtoon berjudul sama karya Joo Ho-min, yaitu sajian yang mengandung nyaris segala elemen kegemaran penonton arus utama, sehingga tidak heran, The Two Worlds menjadi film Korea Selatan terlaris kedua sepanjang masa dengan lebih dari 14 juta penonton, sedangkan sekuelnya sudah ditonton 10,5 juta orang dalam 2 minggu. Selain diisi agresi berhiaskan CGI, keduanya menyimpan senjata andalan masing-masing. Apabila film pertama sarat drama mengharu biru, The Last 49 Days penuh sesak oleh twist. Begitu banyak, jikalau anda tipe penonton dengan prinsip “makin ceritanya nggak ketebak makin bagus”, sanggup saja ini menjadi salah satu film terbaik sepanjang tahun. Karena di sini, nyaris setiap jalan dan balasan seolah harus menghasilkan kejutan tanpa mempedulikan substansi.

Along With The Gods: The Last 49 Days 2018

Kim Yong-hwa (Mr. Go, Along with the Gods: The Two Worlds) selaku sutradara sekaligus penulis naskah bagai berhasrat menumpahkan pandangan gres besar sebanyak mungkin namun gres memikirkan penjabarannya di belakang. Hal ini berlaku juga bagi plot device-nya, di mana satu lagi Paragon muncul, yaitu Kim Soo-hong (Kim Dong-wook), adik protagonis film pertama, Kim Ja-hong (Cha Tae-hyun). Tapi tugas Soo-hong tak sepenting kakaknya, sesuatu yang bahkan karakternya sendiri sadari dan ungkapkan. Keberadaan Soo-hong semata guna memfasilitasi eksplorasi menuju masa kemudian tiga malaikat kematian: Gang-rim (Ha Jung-woo), Haewonmaek (Ju Ji-hoon), dan Lee Deok-choon (Kim Hyang-gi). Pertanyaannya, pantaskah Soo-hong disebut Paragon sehabis sempat mengacau sebagai arwah penasaran?

The Last 49 Days 2018

Untuk itu, Kim Yong-hwa mengatakan retcon terkait definisi Paragon yang bukan lagi sekedar “sosok mulia”, melainkan “An entity who led a just life or suffered and untimely death for an unknown reason before his allotted span of life”. Definisi tersebut berujung mengubah jalannya persidangan di tujuh neraka, yang bukan lagi perihal menandakan kebersihan hati, tapi perdebatan wacana alasan kematian. Apakah Soo-hong tewas akhir kecelakaan atau dibunuh? Makara apa fungsi sidang demi sidang di neraka yang mewakili tujuh dosa manusia? Entahlah. Yong-hwa menyerupai tersesat, apalagi saya.

Satu-satunya alasan yang terpikirkan hanya semoga beberapa neraka yang belum muncul di film pertama memperoleh porsi. Tapi detail latar menarik serta para tuhan penjaga berkepribadian variatif takkan lagi ditemukan, kala serupa Soo-hong, persidangannya sebatas elemen sampingan yang berjalan luar biasa awut-awutan tanpa hukum pasti. Beruntung ada subplot mengenai perjuangan Haewonmaek dan Deok-choon mencabut nyawa laki-laki renta berjulukan Heo Choon-sam (Nam Il-woo) yang dilindungi Seongju (Ma Dong-seok) si Dewa Penjaga Rumah. Melalui Seongju pula, diam-diam kehidupan mereka 1000 tahun kemudian terungkap. Saat petualangan di darul abadi acap kali datar akhir Soo-hong tak sesimpatik sang kakak, konflik di Bumi lebih kaya rasa, dibantu selipan humor plus eksplorasi menarik soal kisah terpendam para malaikat maut. Subplot ini sanggup menjadi film sendiri yang lebih singkat, padat, berperasaan, dan terpenting, lebih manis dari keseluruhan The Last 49 Days.

Bicara wacana twist, aneka macam kejutan yang tertuang dalam kisah Seongju masih sanggup diterima, bahkan menambah dinamika korelasi antar-karaker. Haewonmaek tidak lagi hanya malaikat maut brandal bermulut besar, sebagaimana Deok-choon berkembang lebih dari seorang gadis polos. Persepsi kita terhadap beberapa tokoh pun diputarbalikkan, memancing duduk kasus dilematis kompleks yang sayangnya diselesaikan lewat resolusi penuh penggampangan. Pun kita sanggup selalu mengandalkan Ma Dong-seok untuk melakoni tugas laki-laki tangguh tapi berperasaan. Dialah jangkar elemen drama film ini sehingga pesan “Be kind” yang diusung tetap tersampaikan dikala filmnya kolam tersesat di rimba lebat buatannya sendiri.

Seiring waktu, The Last 49 Days makin serakah, memasukkan lebih banyak diam-diam dan twist dengan substansi yang semakin menyusut, walau harus diakui dinamika berhasil dijaga karenanya. Sebuah twist sempat berputar di kepala saya. Twist yang saya harap takkan muncul sebab bakal terlalu kolot dan dipaksakan. Kemudian film berakhir tanpanya. Saya pun lega. Sampai sempurna sebelum kredit, muncul adegan komplemen berisi twist tersebut. Saya cuma sanggup duduk menertawakan kebodohannya. Along with the Gods: The Last 49 Days meruntuhkan pencapaian film pertama. Parade agresi kreatif yang memanfaatkan absurditas tanpa batas akhirat, termasuk satu tumpuan terhadap franchise milik Spielberg memang masih menghibur. Hell, the whole movie is still entertaining. Bertempo cepat tanpa perlu terburu-buru, durasi 141 menit cepat berlalu. Namun pasca prestasi The Two Worlds, sekuel ini terperinci proses terjun bebas.

Rabu, 02 Januari 2019

Ringkasan Cerita Filim Sesat 2018

Ringkasan Cerita Filim Sesat 2018

Ringkasan Cerita Filim Sesat 2018
Ringkasan Cerita Filim Sesat 2018



Ringkasan Cerita Filim Sesat 2018, Dalam Sesat, Sammaria Simanjuntak (Demi Ucok, Cin(t)a) menuntun kita menyusuri proses karakternya menghadapi duka. Diperlihatkan seluk beluknya dengan seksama, memastikan kita paham dan melangkah sesuai jalur, selama kita bersedia menaruh perhatian. Tapi ketika datang waktunya menangani teror makhluk halus pengabul permintaan, sang penunjuk jalan justru kolam kebingungan sendiri. Keharusan menakut-nakuti, yang nampak bukan salah satu keahliannya, membuat Sammaria tersesat.

Sesat 2018



Bicara storytelling alias penceritaan, di antara jajaran horor lokal tahun ini, Sesat memang yang terbaik. Melalui naskah hasil karyanya bersama Evanggala Rasuli, Sammaria memaparkan sebuah keluarga kecil yang tidak sempurna, tapi terperinci bahagia. Khususnya ketika menyoroti hubungan hangat Amara (Laura Theux) dengan ayahnya (Willem Bivers). Kehangatan singkat yang membuat saya ingin menghabiskan waktu lebih usang berada di tengah-tengah mereka. Begitu pula dengan Amara yang begitu terpukul sehabis sang ayah meninggal. Sebab dialah pendukung terbesar mimpi Amara sebagai atlet, juga perekat kala ia dan sang ibu (Vonny Cornelia) kerap berselisih.

Jalannya Filim Sesat 2018

Kini bersama ibu dan adiknya, Kasih (Rebecca Klopper), Amara terpaksa tinggal di Desa Beremanyan, di rumah sang kakek (Arswendy Bening Swara), si penulis novel yang tampak merahasiakan sesuatu sebagaimana tatapan tak ramah nan misterius warga setempat. Makan waktu beberapa usang hingga Sesat memulai usahanya menggedor jantung penonton, tapi Sammaria tidak meninggalkan kita dalam kehampaan. Di tengah pergerakan lambat temponya, senantiasa hadir sesuatu untuk dituturkan, entah pergumulan batin Amara atau mitologi setan Beremanyan yang dijabarkan selangkah demi selangkah.

Berkat gosip dari seorang sobat sekolah (Endy Arfian), Amara mengetahui kemampuan Beremanyan mengabulkan seruan siapa saja yang memanggilnya, meski untuk itu, pengorbanan perlu dilakukan. Melalui kliping surat kabar yang tertempel di dinding ruang kerja kakek, kita diberi pemahaman akan riwayat Desa Beremanyan yang dinaungi keberuntungan. Amara pun yakin legenda tersebut benar adanya, dan tatkala ia kesudahannya nekat melaksanakan ritual, itu bisa memaklumi, alasannya campur aduk kesedihan akhir kehilangan, kerinduan, juga kesepian memang bisa menyeret insan melaksanakan hal gila.

Saya tidak bisa membahas detail progresnya, kecuali bahwa Sesat melangkah ke ranah serupa karya klasik Brian De Palma, yang sekaligus menandai bertambahnya kecepatan laju film ini, sembari menyelipkan elemen gore yang cukup efektif memancing ngeri. Selain rapi bercerita, naskahnya menyimpan pengembangan menarik yang mengandung dua kejutan. Pertama wacana mitologi Beremanyan, yang muncul bukan sekedar atas nama imbas kejut, pula masuk nalar sekaligus memperkaya bangunan dunianya. Kedua, sewaktu Sammaria dan Evanggala memelintir selipan romansanya, yang justru menghadirkan relevansi seputar remaja. Apabila disimak, intisari keduanya saling bertautan, yakni ego yang meruntuhkan kepedulian.

Sejak tadi saya membahas elemen penceritaan, lantaran Sesat sendiri menyerupai menentukan berkonsentrasi di sana. Sempat luput mengeksplorasi detail tugas penting suatu benda kesayangan Amara yang berujung membuat kebingungan, pada kesudahannya kebingungan penonton belum ada apa-apanya dibandingkan yang Sammaria rasakan sewaktu menyajikan teror. Selain insiden berdarah di sekolah plus jump scare pertama yang efektif menggedor jantung berkat ketepatan timing meski triknya tergolong murahan, simpel Sesat dipenuhi cara menakut-nakuti medioker.

Sammaria seolah terlalu khawatir menjadi murahan, kemudian menentukan berhemat menampilkan sosok Beremanyan, yang kesudahannya berujung fatal akhir pengadeganan canggung di sana-sini. Daripada penampakan si peneror, Sammaria lebih banyak menampilkan dampak yang terjadi pada korban. Tubuh mereka diseret, dilempar, dibanting ke sana kemari, dalam kemasan tak meyakinkan, yang acap kali didorong sudut kamera serta perpindahan adegan yang kurang memfasilitasi kengerian.  Musik buatan “trio Pengabdi Setan”, Aghi Narottama, Bemby Gusti, dan Tony Merle sesekali memperdengarkan sentuhan unik namun tak menolong lemahnya departemen penyutradaraan.

Ketimbang kulminasi teror, klimaksnya justru menjadi puncak kelemahan filmnya menebar teror. Sebenarnya, konklusi yang Sesat miliki ialah titik tamat yang sesuai untuk mengakhiri seluruh proses karakternya, namun ketiadaan puncak gejolak dalam pertarungan insan melawan iblis, yang hadir tak sekuat pertarungan insan melawan sisi gelapnya sendiri, meninggalkan ketidakpuasan teramat besar pasca filmnya usai. Sebuah potensi besar yang gagal terpenuhi, setidaknya Sesat bukan horor pesakitan, sekaligus memberi karir Laura Theux—yang membuat Amara lebih berwarna ketimbang banyak protagonis horor lokal—“nyawa baru” pasca Jaran Goyang yang memalukan.


Selasa, 01 Januari 2019

Ringkasan Cerita Filim Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta 2018

Ringkasan Cerita Filim Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta 2018

Ringkasan Cerita Filim Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta 2018
Ringkasan Cerita Filim Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta 2018
Ringkasan Cerita Filim Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta 2018, Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta menempatkan penonton di posisi sebagaimana kita sehari-hari, sebagai rakyat, menyikapi seorang pemimpin. Coba pikirkan, seberapa sering anda mencurigai Camat, Bupati, Gubernur, hingga Presiden? Kita cenderung—dan merupakan hal wajar—menghakimi mereka berdasarkan apa yang terlihat kini. Karena kita pun tidak tahu menahu soal pertimbangan di belakang. Apalagi dikala suatu keputusan lebih berorientasi jangka panjang. Masalahnya, walau film ini berhasil menghadirkan pemahaman soal proses di balik layar itu, hal paling esensial, yakni hasil, urung ditampilkan.

Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta 2018

Pembicaraan terkait politik beserta filosofi di belakangnya memang rumit, namun satu jam pertama Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta tampil lebih sederhana, yang mana merupakan paruh terbaiknya. Wajah bila sederhana, alasannya yaitu inilah masa di mana Sultan Agung alias Raden Mas Rangsang (Marthino Lio) masih muda dan belajar pada Ki Jejer (Deddy Sutomo) di padepokan. Menimba ilmu, baik fisik maupun batin, jadi konsentrasi utama, yang tentu saja diselingi romantika. Raden Mas Rangsang memadu kasih dengan Lembayung (Putri Marino), seorang rakyat biasa.

Romansanya hidup, selain berkat selipan interaksi keseharian santai kaya selipan humor, juga perpaduan apik Marthino-Marino. Putri Marino memudahkan siapa saja menyayangi Lembayung, si gadis dengan kekuatan fisik pula batin. Ya, batinnya tergoncang kala Raden Mas Rangsang didapuk sebagai Raja sehingga mesti pulang ke Kraton sekaligus menikahi perempuan lain yang ditentukan mendiang ayahnya. Tapi seiring kemampuan Putri mengguncang hati penonton lewat luapan emosi, turut ditegaskan bahwa ia ikhlas, memahami jikalau tiada pilihan. Jadilah elemen romansanya tak menyentuh ranah dramatisasi opera sabun. Ini wacana sepasang muda-mudi berpengaruh yang mendahulukan kepentingan negeri.

Jalannya Cerita Tahta, Perjuangan, Cinta 2018

Di antaranya, beberapa adegan laga yang disusun solid oleh Hanung Bramantyo sesekali mengisi, menghasilkan laga jurus menghibur khas dongeng satria masa lampau. Fase masa muda Sultan Agung ditutup kudeta sarat intrik serta pertumpahan darah yang mana tak pernah lepas dari sejarah kerajaan mana pun. Kemudian kisahnya melompat beberapa tahun, beranjak menyelami konflik politis kompleks dan peperangan kolosal yang mengetengahkan perlawanan Kerajaan Mataram terhadap Vereenigde Oostindische Compagnie alias VOC.

Dari Marthino Lio, Sultan Agung remaja anti diperankan Ario Bayu. Anda akan sadar betapa berilmu casting film ini begitu melihat kemiripan paras kedua aktor. Ario memerankan Sultan Agung yang telah tumbuh jadi Raja berkepribadian keras yang menolak berkompromi kala VOC berusaha menundukkan Mataram melalui kedok kolaborasi dagang dengan hukum mencekik. Lembayung remaja diperankan Adinia Wirasti, yang bukan saja jago mengolah rasa, juga meyakinkan melakoni porsi aksi. Sementara Ario, lewat wibawanya, mulus memerankan Raja yang mantap menyerukan teriakan perang “Mukti utawa mati!”.

Sultan Agung tetapkan menabuh genderang perang, mengerahkan ribuan rakyat termasuk sekumpulan petani guna menyerbu VOC di Batavia, meski berdasarkan beberapa pihak termasuk sang paman, Tumenggung Notoprojo (Lukman Sardi), itu kolam misi bunuh diri. Tapi Sultan tidak bergeming. Mengapa harus menyerah kalau ujungnya kehilangan harga diri sebagai budak penjajah? Di sini kompleksitas muncul, ketika mereka yang menaruh kepercayaan sekalipun, niscaya akan bertanya-tanya, “Apakah Sultan sudah dibutakan harga diri hingga membiarkan ribuan rakyat meregang nyawa?”.

Korban berjatuhan, pasukan Mataram tersudut, kian gampang baik bagi rakyat dan penonton mencurigai Sultan. Sepanjang pertempuran, jarang kita melihat Sultan, apalagi memperoleh detail soal pendorong keputusan kontroversialnya. Naskah karya BRA Mooryati Soedibyo (juga produser dan produser eksekutif), Ifan Ismail (The Gift, Ayat-Ayat Cinta 2), dan Bagas Pudjilaksono memang sengaja meninggalkan penonton dalam ketidaktahuan, serupa yang dialami pasukan Mataram di medan perang, yang lebih sering kita tengok kondisinya. Kita sama-sama ada dalam “ruang gelap”, menduga-duga maksud Sultan sebagaimana pada umumnya rakyat mempertanyakan perilaku sang pemimpin.

Sekuen peperangan di benteng Batavia tampil problematik. Benar tata artistik, semisal kostum dan properti persenjataan tampak solid. CGI yang digunakan menggambarkan ribuan insan di medan laga pun nyaman dilihat. Poin mengganjal justru ketiadaan paparan taktik. Apa strategi Mataram, hingga Jan Pieterzoon Coen (Hans de Kraker) kaget, mempertanyakan dari mana mereka paham cara mengepung benteng? Kita hanya akan melihat serbuan acak yang terkesan asal gempur. Lalu apa alasannya yaitu VOC berbalik unggul? Tidak ada perubahan taktik, kecuali mendadak beberapa orang, termasuk J.P. Coen, menembakkan senapan (yang anehnya, merupakan pengulangan adegan flashback sebelumnya). Atau lantaran menang jumlah? Sulit dipastikan, mengingat sepanjang sekuen, pasukan Mataram justru terlihat unggul kuantitas.

Setelah lokasi pindah ke hutan, gres peperangan lebih menarik. Satu-satunya momen berisi strategi jitu hadir di sini, sewaktu prajurit Mataram memakai otak, memanfaatkan alam guna memberi pukulan terbesar bagi VOC. Pada fase ini, ada tata kamera menarik berupa siluet berlatar belakang warna jingga dari nyala obor. Faozan Rizal memang hebat bermain bayangan. Contoh lain eksplorasi bayangan dalam sinematografi tersaji ketika ibunda Sultan Agung, Gusti Ratu Banowati (Christine Hakim) memberi petuah kepada sang anak. Suasana ruang remang-remang, sebagian wajah Christine maupun Marthino gelap, memunculkan keintiman nan khidmat.  

Kembali menuju keputusan kontroversial Sultan. Pernyataan jikalau perang ini bakal terasa dampaknya 100 tahun ke depan merupakan kunci. Saat itulah perkiraan aku menjadi fakta, didukung oleh sekuen berikutnya, yang menegaskan mengapa kebesaran Sultan Agung perlu kita ketahui. Sultan memikirkan masa depan. Dia memupuk bibit generasi mendatang biar kelak sanggup menuai usaha generasi kini, yang dengan terpaksa harus berkorban bertaruh nyawa. Masalahnya, hasil konkret siasat Sultan Ahanya ditaruh di teks sebelum credit akhir. Kita tak pernah melihatnya divisualisasikan. Itu kenapa, sehabis 148 menit, Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta terasa gres melaju separuh jalan. Tidak peduli seberapa mumpuni, separuh jalan tetaplah kurang utuh.

Minggu, 30 Desember 2018

Ringkasan Cerita Filim Petualangan Menangkap Petir 2018

Ringkasan Cerita Filim Petualangan Menangkap Petir 2018

Ringkasan Cerita Filim Petualangan Menangkap Petir 2018
Ringkasan Cerita Filim Petualangan Menangkap Petir 2018

Ringkasan Cerita Filim Petualangan Menangkap Petir 2018, Petualangan Menangkap Petir ialah film menyenangkan dengan tokoh sentral anak-anak, meski bukan film anak yang sepenuhnya berhasil. Sebab bila terlontar pertanyaan mengenai pesan apa yang sanggup diserap, saya hanya bisa menjawab, “Jadi orang bau tanah jangan protektif secara berlebihan”, dan “Cobalah memahami harapan anak”. Sebagai film anak, karya penyutradaraan ketiga Kuntz Agus (#republiktwitter, Surga yang Tak Dirindukan) ini malah lebih lantang mengkritisi kalangan remaja walau meluangkan sepanjang durasi menyoroti acara abjad bocahnya. Mungkin ini hasil proses bawah sadar ketika para pembuatnya, serupa salah satu obrolan yang mereka tulis, kerap “lupa cara menjadi anak kecil”.

Petualangan Menangkap Petir 2018

Tujuan dasar Petualangan Menangkap Petir tolong-menolong sederhana, yakni melecut supaya bawah umur tak ragu mengejar mimpi, juga berpetualang ke luar rumah, bertemu teman-teman kasatmata ketimbang melulu berkutat di balik gadget dan dunia maya. Tapi dalam konteks film ini, bila pokok-pokok bahasan di atas dirunut kembali, semua problem justru berpangkal di orang bau tanah ketimbang anak. Bukan sang anak, Sterling (Bima Azriel) yang meragu, melainkan sang ibu, Beth (Putri Ayudya) yang mengekang. Semua tergantung pada Beth. Masalah hanya akan tuntas ketika Beth yang tersadar, bukan Sterling.

Jalannya Cerita Petualangan Menangkap Petir 2018

Meninjau situs personalnya, sanggup disimpulkan Beth ialah seorang penggiat soal pendidikan terhadap anak, yang kerap membahas bagaimana semoga anak bisa bermain sesuka hati, bersenang-senang tanpa perlu membahayakan diri dengan keluar rumah. Berbanding terbalik dengan sang suami, Mahesa (Darius Sinathrya), yang sejatinya ingin Sterling mengeksplorasi dunia luar, namun enggan menyulut problem dengan Beth. Sterling, yang selama ini tinggal di Hong Kong, menjadi YouTuber tenar berkat bermacam-macam konten kreatif, berinteraksi dengan ribuan “teman” meski tak ada satu pun pernah ia temui langsung.

Kesuksesan itu menciptakan Sterling berat hati kala orang tuanya memutuskan pindah ke Jakarta. Sementara persiapan kepindahan dilakukan, Sterling dititipkan di  rumah kakeknya (Slamet Rahardjo) di Selo, Boyolali. Kekhawatiran bakal merasa jengah lantaran tinggal di kampung seketika sirna pasca bertemu Gianto alias Jaiyen (Fatih Unru) dengan segala gairahnya soal film khususnya akting. Mengetahui acara Sterling di YouTube, Jaiyen pun pribadi mengajaknya menciptakan film mengenai legenda Ki Ageng Sela yang konon, sanggup menangkap petir ketika tengah bertani.

Aktivitas Sterling di Selo mengasyikkan, apalagi bagi penonton menyerupai saya yang berasal dari tempat pedesaan di Jawa. Semua terasa familiar, dari lokasi hingga cara interaksi penuh selorohan menggelitik warga berlogat setempat, termasuk kemunculan singkat duo Pangsit-Benjo sebagai penjual jamu tradisional. Para pemain drama ciliknya pun tampak menikmati, yangjadi elemen terkait anak terbaik di film ini. Bima Azriel apik memerankan seorang bocah yang jengah atas tekanan bertubi-tubi ibunya. Bima memperlihatkan menyerupai apa kekesalan terpendam yang pelan-pelan dipupuk, menunggu meledak di kemudian hari. Keberhasilan Putri Ayudya memerankan ibu super protektif yang memudahkan kita mendukung “pemberontakan” Sterling. Jangan kaget bila Beth mengingatkan pada sosok-sosok di sekitar anda.

Tapi pencuri perhatian terbesar tetap Fatih Unru yang bukan cuma hebat mengocok perut, juga melakoni momen dramatik. Ada adegan ketika ia dituntut melaksanakan akting dalam akting, dan itu tampak meyakinkan, mematenkan Jaiyen sebagai pondasi motivasi pengejaran mimpi filmnya. Agak absurd tolong-menolong ketika motivasi motivasi itu tiba dari sosok pendukung ketimbang Sterling yang seringkali sekedar mengikuti kemauan sobatnya. Jaiyen sendiri bicara kolam orang remaja penggemar film alih-alih anak kecil dengan kemurnian mimpinya. Eddie Cahyono (Siti) dan Jujur Prananto (Ada Apa Dengan Cinta? Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara) selaku penulis naskah berusaha memposisikan diri sebagai anak kecil, kemudian gagal, kolam pemain drama yang berakting buruk.

Guna menolong proses pembuatan film, Sterling dan Jaiyen meminta santunan dua videografer pernikahan, Arifin (Abimana Aryasatya) dan Kriwil (Arie Kriting), yang konon pernah menciptakan film fenomenal, namun secara tersirat disampaikan bahwa mereka tak pernah menyelesaikan karya itu, sehingga mengembangkan mimpi serupa kedua bocah tersebut. Menurut Ifa Isfansyah selaku produser eksekutif, Petualangan Menangkap Petir didasari mimpinya bersama Kuntz Agus menciptakan film anak dan film wacana film. Sayang, mereka sulit menahan diri untuk tidak menyelipkan filosofi mengenai film, menyerupai kalimat “film itu magis” atau penyebutan istilah macam “Mise-en-scène”, yang terdengar kurang pas di film anak. Semoga beruntung menjelaskan artinya pada bawah umur anda. Hal-hal “ke-sinema-an” tadi dicuapkan Abimana, yang hasilnya memerankan abjad “serius tapi santai” menyerupai ketika mencuri perhatian tujuh tahun kemudian di Catatan Harian Si Boy walau penokohan Arifin sendiri dangkal.

Seperti saya sebutkan di awal, di luar setumpuk kelemahannya, Petualangan Menangkap Petir masih sebuah tontonan menyenangkan. Kuntz Agus bisa membungkus kegiatan karakternya menciptakan film dengan seru. Bocah-bocah ini tidak peduli meski cuma berbekal properti buatan tangan seadanya juga akting sebisanya, alasannya ialah mereka hanya berniat bersenang-senang. Setidaknya Petualangan Menangkap Petir berpotensi menyediakan alternatif kegiatan aktif bagi anak: Membuat film. Walau lagi-lagi, berdasarkan film ini, semuanya tergantung pada orang tua.

Jumat, 28 Desember 2018

Ringkasan Cerita Filim 7 Days 2018

Ringkasan Cerita Filim 7 Days 2018

Ringkasan Cerita Filim 7 Days 2018
Ringkasan Cerita Filim 7 Days 2018

Ringkasan Cerita Filim 7 Days 2018, 7 Days, selaku, punya konsep indah nan mendalam yang dituangkan dalam perjalanan karakternya, yang diperlukan berujung pada konklusi menyentuh. Ya, saya menitikkan air mata di akhir, tapi bukan banjir tangis sebagaimana tujuan filmnya. Bukan berarti buruk, alasannya saya mengagumi caranya mengkreasi proses berbasis memori, namun ada jurang pemisah lebar antara “Salah satu film TERBAIK” dengan “Salah satu film YANG BAIK”. Karya penyutradaran keempat Panjapong Kongkanoy (The Rooms, The Moment) ini nyaris jadi kategori pertama sebelum berakhir sebagai kategori kedua akhir naskah lemah, atau tepatnya terlambat memasang pondasi.

7 Days 2018

Premis 7 Days yaitu mengenai Tan (Kan Kantathavorn) yang tiap pagi terbangun di badan berlainan, tapi telepon genggam miliknya selalu ikut serta, lantaran filmnya kesulitan memikirkan cara lain supaya beliau dan kekasihnya, Meen (Nittha Jirayungyurn), bisa tetap berhubungan. Kisah dimulai ketika Tan telah merasuk ke dalam badan seorang laki-laki tambun yang duduk sempurna di depan rumah Meen. Kita belum tahu siapa Tan maupun bagaimana hubungannya dengan Meen berlangsung. Rasanya menyerupai sedang menyaksikan dongeng yang dimulai dari pertengahan.

Jalannya Cerita 7 Days 2018

Mungkin Panjapong hendak menempatkan penonton di posisi serupa Tan, yang juga kehilangan ingatan, tidak tahu siapa dirinya. Tapi perspektif tersebut kurang sesuai di sini, alasannya supaya penonton bisa terikat oleh perjalanan absurdnya, mengenal baik karakternya merupakan tahap yang lebih dulu wajib dilalui. Setelah si laki-laki tambun, Tan terus melalui hari ke hari dengan berpindah dari badan ke tubuh, mulai mitra bulenya, sampai pemilik restoran daerah Tan bekerja sebagai koki, sekaligus lokasi kali pertama beliau bertemu Meen, yang berpforesi sebagai kritikus masakan sehabis menyerahkan mimpinya menjadi koki. Jiwa Tan mondar-mandir tanpa tujuan jelas, demikian pula paruh awal filmnya, yang tetap mempunyai cukup energi berkat segelintir suntikkan humor.

Di antara perpindahan badan Tan, diselipkan pula flashback yang bertugas memperkenalkan kondisi kekerabatan dua tokoh utama, juga penegas bahwa Tan berpindah badan bukan secara acak. Saya tidak bisa mengungkap detail, pastinya masing-masing dari mereka berperan mendefinisikan asmara Tan-Meen, walau sayang, bobot imbas satu sama lain—yang turut bersinggungan dengan kata dan frasa yang tertulis di setiap permulaan hari (dream, mind and soul, passion, etc.)—kurang berimbang. Satu pihak memberi dampak kuat, sementara pihak lainnya kolam kebetulan lewat. Tapi pengembaraan jiwa Tan tetaplah cara penuh makna guna merangkum kekerabatan romansa. Karena setiap kekerabatan membuat momen, setiap momen membuat memori yang terdiri atas lokasi, waktu, serta orang-orang di sekitar. Dan perjalanan aneh ini menggambarkan betapa cinta lebih dari koneksi menurut ketertarikan fisik.

Terdapat 2 titik balik, pertama sewaktu Tan menyadari identitasnya, kedua ketika Meen mengetahui kondisi sang kekasih. Titik balik pertama tersaji lemah. Tan sekedar menebak, “So I guess I am him, I am Tan”, ketimbang menemukan kebenaran itu. Sebaliknya, titik balik kedua merupakan poin yang dibutuhkan 7 Days, yakni pondasi romantikanya. Inilah titik di mana kita karenanya menyadari seberapa berpengaruh cinta mereka. Inilah titik di mana elemen drama sarat emosi, humor, plus filosofi soal romansanya berbaur apik dan mulai mencuri hati. Andai titik ini tampil sejam lebih awal sehingga tautan rasa dengan karakternya berlangsung lebih usang dan kuat.  

Apalagi Nittha Jirayungyurn mempunyai kapasitas menangani momen tearjerker. Tangisannya menyayat perasaan, bersamaan dengan kemampuan Panjapong menangani momen emosional beruntun jelang akhir, berkat sensitivitas yang tak pernah terasa memaksa penontonnya mengalirkan air mata. Di paruh simpulan pula sekilas nampak talenta Panjapong menangani food porn menggugah selera guna merangkum proses kedua protagonis dengan memuaskan. Tan dan Meen berbeda pandangan perihal cara memasak. Meen mengutamakan metode textbook, sedangkan Tan gemar bereksperimen. Si gadis menggunakan otak, si laki-laki mementingkan hati. Begitu pun terkait jalan hidup. Tan ingin melanglang buana, Meen betah menetap di zona nyaman. Daripada mencari yang lebih baik, 7 Days kedua belah pihak harus eksis bersama untuk saling melengkapi, bagaimana pun bentuknya.

Selasa, 25 Desember 2018

Ringkasan Cerita Filim The Predator 2018

Ringkasan Cerita Filim The Predator 2018

Ringkasan Cerita Filim The Predator 2018
Ringkasan Cerita Filim The Predator 2018

Ringkasan Cerita Filim The Predator 2018, Di film ini sesosok Predator (the normal one, not the giant Ultimate Predator) mendarat di Bumi berlandaskan suatu tujuan. Tujuan yang terasa berlawanan dengan serangkaian pembantaian yang ia lakukan. Itulah plot hole terbesar filmnya, alasannya meski Predator yaitu monster berharga diri tinggi, liar, ganas, mereka juga makhluk cerdas. Walau kalau sang Predator berpikiran jernih, bisa menahan nafsu membunuh, filmnya akan berakhir bahkan sebelum menginjak second act. Saya menjabarkan lubang tersebut di awal agar anda bisa bersiap, sehingga tak perlu terlampau memikirkannya dan bisa duduk santai menikmati “slash slash bang bang” persembahan Shane Black (Iron Man 3, The Nice Guys).

The Predator 2018

Tidak gampang menciptakan sekuel di seri Predator. Setiap film punya protagonis berbeda tanpa kekerabatan satu sama lain, menimbulkan proses pengembangan abjad tidak mungkin dilakukan. Satu-satunya pilihan hanya memperlebar mitologi para mesin pembunuh berambut dreadlock, dan memang itu yang Black lakukan. Pasca mendarat (darurat) kemudian terlibat konforntasi dengan Quinn McKenna (Boyd Holbrook), penembak jitu Army Rangers yang kebetulan tengah menjalankan misi dan berujung mencuri beberapa teknologi alien, sang Predator dibawa ke kemudahan belakang layar untuk diteliti, salah satunya oleh jago Biologi berjulukan Casey Bracket (Olivia Munn).

Jalannya Cerita The Predator 2018

Casey menyadari anomali dalam DNA Predator, yang Black dan Fred Dekker (RoboCop 3) pakai di naskah hasil goresan pena mereka guna menjelaskan alasan Predator gemar mendatangi Bumi, sekaligus menegaskan tidak dianggapnya eksistensi dua judul Alien vs. Predator. Anda akan tahu “kenapa” dikala tujuan kedatangan Predator selama ini diungkap. Pembangunan mitologi lain dilakukan lewat pengenalan Ultimate Predator, pemburu para pemburu, yang berburu bersama anjing-anjing raksasa (Predogtor? Predadog?) yang juga berambut dreadlocks. Menurut Casey, rambut tersebut berfungsi sebagai penghantar sinyal. Ultimate Predator lebih besar, lebih kuat, tapi caranya beraki kolam monster kurang terpelajar ketimbang mesin pembunuh taktis layaknya Predator orisinal. Makara bila ada pertanyaan apakah ia menyeramkan, jawabannya “Tidak”.

Namun Shane Black berbekal kekhasan penulisannya terperinci tak berniat menciptakan The Predator sebagai horor kelam nan serius. Diperlihatkan kala kita bertemu sekelompok veteran perang bermasalah yang terdiri atas pengidap Tourette, ADHD, PTSD, dan lain-lain. Quinn, yang coba dibungkam sebagai saksi pendaratan Predator, termasuk salah satunya. Bergantian mereka melontarkan lelucon, khususnya Coyle (Keegan-Michael Key) dengan “mulut busuknya”. Tanpa penokohan mendalam, tidak pula memorable, setidaknya kehadiran mereka menghasilkan momen-momen menyenangkan. Trevante Rhodes paling menonjol, piawai menangani kalimat demi kalimat, menciptakan abjad Nebraska bagai mitra yang bisa diajak bicara hati-ke-hati di malam hari sembari menenggak sebotol bir dengan nyaman.

Keputusan Black memacu kencang The Predator sayangnya kerap menghalangi beberapa humor—yang dibawakan dengan apik oleh jajaran pemain—mencapai potensi puncak akhir comedic timing-nya sering berantakan, buru-buru melaju sebelum penonton bisa memproses banyolannya secara menyeluruh. Tapi dikala berhasil, tawa yang dihasilkan tidak tanggung-tanggung, apalagi Black menolak malu-malu mengumbar kekonyolan, termasuk melalui komedi slapstick.

Serupa film agresi popcorn masa lalu, khususnya periode 80an, The Predator digeber kencang, diiringi baku tembak serta kejar-kejaran pesawat yang semuanya gaduh, tanpa pernah berniat menginjak rem. Sebuah keputusan sempurna melihat tipisnya alur yang cuma diisi segelintir eksposisi mitologi, yang apabila dijajarkan, takkan berjalan hingga 15 menit. Singkatnya, ibarat film agresi oldskul dikala seorang pahlawan masuk hutan dan menghabisi sepasukan lawan seorang diri. Tapi ibarat film agresi oldskul pula, Black menyimpan amunisi sebagai ganti ketiadaan jalinan dongeng solid, yaitu gore. Predator mengunyah kepala manusia, menyayat perut hingga segala isinya berhamburan, mencabik-cabik wajah mereka, menyemburkan darah ke segala penjuru ruangan. Kebrutalan The Predator akan memuaskan para pencari sadisme over-the-top, termasuk berkat kepiawaian Black merangkai gugusan momen janjkematian kreatif. Mungkin sulit mengingat detail penokohan tiap orang, tapi tidak dengan cara mereka meregang nyawa.

Boyd Holbrook yaitu leading man yang solid, meyakinkan mengangkat senjata pula menebar senyum kharismatik. Begitu pun Olivia Munn yang sanggup berdiri tegak dalam franchise yang selama ini identik, atau tepatnya diawali dengan parade machismo Arnold Schwarzenegger dan kawan-kawan 31 tahun lalu. Turut tampil yaitu Jacob Tremblay, memerankan putera Quinn, Rory McKenna, pengidap autisme sekaligus seorang bocah jenius yang sanggup mengakali peralatan canggih milik Predator. Tremblay sebagaimana biasa tampil apik, dan rasanya bakal memainkan tugas besar di kelanjutan seri ini (jika dibuat), mengingat benih yang ditanam pada konklusi The Predator merujuk pada sekuel yang lebih futuristik.

Sabtu, 22 Desember 2018

Ringkasan Cerita Filim The House With A Clock In Its Walls 2018

Ringkasan Cerita Filim The House With A Clock In Its Walls 2018

Ringkasan Cerita Filim The House With A Clock In Its Walls 2018
Ringkasan Cerita Filim The House With A Clock In Its Walls 2018

The House With A Clock In Its Walls 2018, Dalam salah satu perubahan jalur karir paling ekstrim semenjak George Miller membuat Babe: Pig in the City (1998) dan Happy Feet (2006), Eli Roth (Cabin Fever, Hostel, Death Wish) beralih sejenak (?) dari kegemarannya mandi darah menuju pembiasaan novel The House with a Clock in Its Walls, buku pertama dari 12 seri Lewis Barnavelt buatan John Bellairs (diteruskan Brad Strickland semenjak buku ketujuh sesudah Bellairs meninggal). Seperti banyak produksi klasik Amblin Entertainment, film ini erat bagi penonton anak. Jika biasanya Roth menusuk dan merobek hati, kali ini ia coba menghangatkannya, meski balasannya sang sutradara total bergantung pada jajaran pemain untuk mencapai itu.

The House With A Clock In Its Walls 2018

Kasus lain wacana perubahan karir absurd ialah dikala Sam Raimi membuat trilogi Spider-Man. Raimi berhasil lantaran sutradara horor yang baik selalu mempunyai sensitivitas dalam membuat intensitas, yang mana penting bagi “film popcorn”. Itu sebabnya saya menaruh kepercayaan terhadap Aquaman garapan James Wan.  Berbeda dengan para kompatriotnya, Roth lebih banyak mengandalkan parade kekerasan brutal nan vulgar ketimbang memainkan tensi, yang berujung membuat kelemahan terbesar The House with a Clock in Its Walls.

Filmnya menghabiskan lebih banyak didominasi durasi untuk: 1) Memperkenalkan Lewis Barnavelt (Owen Vaccaro), si bocah tertutup yang dianggap absurd oleh teman sebayanya, kepada dunia sihir ketika sang paman, Jonathan (Jack Black), menampung Lewis pasca kedua orang tuanya meninggal; dan 2) Menyoroti proses Lewis mencar ilmu menjadi warlock alias penyihir sebagaimana Jonathan. Tentu skenario buatan Eric Kripke (Boogeyman) kental aroma “underdog story”, lengkap dengan pesan soal “Kamu mempunyai kelebihan walau dipandang sebelah mata”.

Jalannya Cerita The House With A Clock In Its Walls 2018

Apabila anda perhatikan, dua poin di atas tak mengandung elemen pertempuran kebaikan melawan kejahatan menyerupai jamaknya film anak-anak. Elemen serupa tetap ada, namun tiba begitu kisahnya melewati separuh jalan. Sebelum hingga di sana, Roth sanggup membawa kita mengarungi perjalanan menghibur. Visualnya, yang melibatkan beling patri yang rutin berubah gambar, perabotan yang sanggup bergerak, serta singa dari rumput yang menolak buang air di kolam pasir, terlihat menarik  dalam balutan sinematografi Rogier Stoffers (School of Rock, The Vow, Death Wish). Deretan wangsit imajinatif tersebut memang didasari materi aslinya, tetapi visi kreatif Roth berjasa menghidupkannya.

Mengikuti formula “underdog story”, tentu montage berisi perjuangan Lewis melatih ilmu sihirnya bisa kita temui. Montage yang berjalan singkat namun memikat lewat humor yang tampil berpengaruh berkat keberadaan Jack Black selaku salah satu keputusan casting yang tepat. Black tepat menangani tugas di dunia fantasi gila menyerupai ini. Vaccaro si pemain film cilik pun tampil apik, khususnya dikala diminta menangis tanpa perlu terlihat menyebalkan. Tapi bintang terbesar film ini terang Cate Blanchett sebagai Florence Zimmerman, penyihir perempuan tetangga Jonathan dengan obsesi terhadap warna ungu. Pakaiannya berwarna ungu, bahkan ia berusaha mengubah ularnya menjadi ungu.

Blanchett mengajarkan bagaimana cara berakting di tontonan family-friendly. Dia bersenang-senang di adegan-adegan ringan, entah dikala bertukar olok-olokan dengan Black atau ketika secara elegan tetapi playful, terlibat di tengah-tengah aksi. Pun The House with a Clock in Its Wall tak ubahnya film keluarga lain yang mempunyai cuilan dramatis, dan sewaktu momen itu tiba, cukup melalui satu monolog pendek, Blanchett berhasil mencengkeram perasaan. Anda akan tahu adegan yang mana dikala menontonnya. Dengarkan getaran suaranya, perhatikan tatapan matanya, pula keraguan kala melangkah, yang menyerupai halnya seseorang ketika dikuasai emosi, tak tahu mesti berbuat apa.

Tanpa kebolehan akting pemainnya, film ini akan menjadi perjalanan yang yummy dilihat namun nihil kepekaan akan intensitas. Narasinya terasa draggy, juga nyaris tanpa sentakan, alasannya sekali lagi, Roth bukan ahlinya membuat ketegangan bahkan dikala menggarap horor. Tanpa gore ia kehilangan banyak taring, walau untungnya tidak hingga jadi macan ompong. Roth memanfaatkan kesintingannya demi menghasilkan teror. Dia terbiasa mendobrak batas. Itulah mengapa imajinasinya bergerak liar tatkala menangani hiburan visual, dan rasanya nyaris tak ada sutradara yang bernyali mengatakan sosok iblis dalam tampilan se-disturbing Azazel versi Roth di sini.

Akibat sisi lemah penyutradaraan Roth, saya tak sabar guna beralih dari dua poin alur di atas untuk segera mencapai titik di mana ancaman besar, hasil dari jam yang disembunyikan dalam dinding rumah Jonathan oleh seorang penyihir, mulai merangsek masuk. Jam itu terus berdetak tiap malam. Jonathan dan Florence tak tahu ke mana jam itu bakal membawa mereka, walau pastinya bukan menuju hal menyenangkan. Bahaya itu balasannya menampakkan wujudnya sewaktu Lewis, didorong keputusasaannya untuk mencari teman melalui pembuktian bahwa ia bisa menguasai sihir, nekat melaksanakan hal terlarang. Timbul pertanyaan, “Kenapa Lewis tak memamerkan kemampuannya menggerakkan barang yang telah dikuasainya saja?”. Saya yakin itu sudah cukup memesona bagi kawan-kawannya.

The House with a Clock in Its Walls bermuara di pertempuran trio protagonis melawan monster labu plus banyak sekali makhluk absurd lain, yang kembali, gagal menyentuh intensitas maksimum, salah satunya akhir titik puncak yang berakhir terlampau mudah. Setidaknya, satu momen konyol (dan agak creepy) yang melibatkan “badan Jack Black” mengambarkan sebenarnya Roth, biarpun bukan produsen ketegangan handal, mempunyai otak sinting yang sanggup memproduksi hiburan.

Ringkasan Cerita Filim Adrift 2018

Ringkasan Cerita Filim Adrift 2018 Ringkasan Cerita Filim Adrift 2018 Ringkasan Cerita Filim Adrift 2018, Sepasang kekasih ( or soo-...