Tampilkan postingan dengan label Comedy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Comedy. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Januari 2019

Ringkasan Cerita Filim The Spy Who Dumped Me 2018

Ringkasan Cerita Filim The Spy Who Dumped Me 2018

Ringkasan Cerita Filim The Spy Who Dumped Me 2018
Ringkasan Cerita Filim The Spy Who Dumped Me 2018

Ringkasan Cerita Filim The Spy Who Dumped Me 2018, The Spy Who Dumped Me
 adalah 2 hal: 1) Film dengan bahan sangat lemah sehingga sepenuhnya bergantung pada penampilan cast, dan 2) Aktris dengan bakat luar biasa sehingga bisa mengangkat kualitas film, melaksanakan yang terbaik supaya filmnya sanggup bekerja  di bahan terlemah sekalipun. Sambutlah Kate McKinnon, salah satu anggota terlucu Saturday Night Live (SNL) masa sekarang yang masih mencari breakthrough movie pasca reboot Ghostbusters (2016) remuk di pasaran. McKinnon amat memikat, bisa jadi anda terkekeh hanya alasannya melihat ekspresinya, bahkan dalam lawakan yang tidak lucu.

The Spy Who Dumped Me 2018

McKinnon memerankan Morgan (nama belakangnya bakal jadi amunisi humor nantinya), perempuan dengan sikap eksentrik yang juga sahabat Audrey (Mila Kunis), yang dalam buddy comedy ini berperan sebagai “si normal”. Dialah gadis yang dicampakkan oleh seorang mata-mata, yakni biro CIA berjulukan Drew (Justin Theroux), yang suatu hari mendadak hilang dari kehidupan Audrey. Drew kembali bersama serombongan pembunuh, juga jajaran MI6, yang semuanya mengincar flash drive yang disembunyikan Drew. Bisa ditebak, flash drive itu jatuh ke tangan Audrey, dan membawanya bersama Morgan terlibat kucing-kucingan berskala internasional, sebagaimana James Bond selalu lakukan.

Jalannya Cerita Filim The Spy Who Dumped Me 2018

Tentu flash drive itu sebatas MacGuffin dengan satu-satunya fungsi yaitu membawa kedua tokoh utama menuju petualangan gila di bermacam-macam lokasi. Penulis naskahnya, Susanna Fogel (juga sebagai sutradara) dan David Iserson pun tak berusaha menyamarkan tugas tersebut. Kita hanya tahu, isi flash drive tersebut sanggup membobol jaringan internet di seluruh dunia lewat “pintu belakang”. Cara pastinya, pembuatnya, serta segala detail lain seutuhnya dikesampingkan. Terpenting, Audrey dan Morgan tak boleh membiarkannya jatuh ke tangan musuh, biar alurnya sendiri bisa terus bergerak menuju tempat-tempat berikutnya. Apa yang terjadi sesudah datang di destinasi tidak penting, bukan mustahil, sepanjang petualangan, anda akan melupakan eksistensi flash drive itu.

Menu utama petualangannya ialah kebodohan. Hampir semua tokoh film ini punya kebodohan. Dari biro CIA yang selalu membanggakan status sebagai alumni Harvard, hingga si pembunuh berdarah hambar yang (nyaris) selalu tanpa verbal turut memperoleh porsi humor. Tapi materinya lemah, takkan memberi efek walau sekedar sebersit senyum andai tidak ada McKinnon yang memberi dorongan daya. Serupa komedian-komedian terbaik di luar sana, McKinnon tahu bagaimana menimbulkan tiap serpihan dirinya aset kelucuan, kemudian mengerahkan segalanya, mulai mata, senyum, hingga gerakan-gerakan eksentrik sebagai perempuan yang bersikap kolam cuma didasari intuisi gila. Saya pun yakin jikalau beberapa momen terbaik merupkan hasil dari improvisasinya. Sementara Kunis cukup sukses mengimbangi biar tak karam di balik pesona lawan mainnya.

Bahkan sesudah mendapatkan injeksi energi dari McKinnon, pula chemistry solidnya bersama Kunis, The Spy Who Dumped Me hanya berhenti di taraf “layak tonton”. Filmnya malah lupa melucu kala mengeksekusi porsi aksi, yang secara mengejutkan tampil brutal dan kental kekerasan. Pria yang terlontar dari sepeda motor, perempuan paruh baya yang tangannya tertusuk pisau dapur, menjadi beberapa pola perjuangan Susanna Fogel (Life Partners) menunjukan bahwa komedi-aksi dengan perempuan selaku pemeran utama tidak kalah “gahar” dibanding yang menampilkan bintang film pria. Sedikit berlawanan dengan tujuan membuat hiburan ringan, keberhasilan penyutradaraan Fogel merangkai agresi high octane membuatnya tak lagi jadi masalah.

Tingkat kekerasan itu sejatinya sudah cukup menghadirkan pesan subtil, tapi Fogel dan Iserson bagai kurang puas jikalau belum berpesan melalui alurnya. Audrey digambarkan tidak pernah menuntaskan apa pun yang ia mulai. Apa tepatnya? Kita tak pernah melihat Audrey enggan menuntaskan sesuatu. She even finished so many lives with her gun and driving skil. Sedangkan Morgan terganggu atas cap “aneh” yang disematkan padanya dan ingin menunjukan anggapan itu keliru. Tapi The Spy Who Dumped Me terang memanfaatkan, mengeksploitasi kecacatan itu, sengaja menjadikannya seabsurd mungkin. Film ini rupanya juga bermuka dua, ibarat beberapa tokohnya yang menyimpan identitas belakang layar guna melangsungkan pengkhianatan. Begitu usai, secara umum dikuasai kontennya akan terlupakan kecuali McKinnon yang sepadan dengan harga tiketnya.

Sabtu, 12 Januari 2019

Ringkasan Cerita Filim Kasinem Is Coming 2018

Ringkasan Cerita Filim Kasinem Is Coming 2018

Ringkasan Cerita Filim Kasinem Is Coming 2018
Ringkasan Cerita Filim Kasinem Is Coming 2018

Ringkasan Cerita Filim Kasinem Is Coming 2018, Kasinem is Coming bukan produk berkualitas kancut, lantaran filmnya sendiri tidak layak disejajarkan dengan kancut yang masih mempunyai fungsi penting dalam hidup insan di seluruh semesta Indonesia. Bukan saya tidak menghargai usaha tim produksi, khususnya kru yang bekerja banting tulang (skor setengah yang saya berikan dipersembahkan bagi mereka), tapi filmnya sendiri seolah tak menghargai waktu, tenaga, serta uang yang diluangkan penonton. Di luar gedung bioskop biasanya berjejer beberapa warung makanan. Jika dikala membaca review ini anda sedang berjalan memasuki bioskop untuk menonton Kasinem is Coming, segera berbalik, masuk ke salah satu warung, pakai uang 35 ribu rupiah itu demi menghapuskan lapar dan dahaga.

Kasinem Is Coming 2018

Kasinem yang konon segera tiba itu ialah gadis elok kembang desa (Naysila Mirdad), yang tengah bimbang ketika secara mendadak, sang ibu (Yanti Yaseer) meminta meneruskan pekerjaannya sebagai pembantu di Jakarta. Kasinem bimbang lantaran di dikala bersamaan, ia telah diterima bekerja sebagai sekretaris di Singapura. Kabar itu gres Kasinem terima sehabis sang ibu meneleponnya dari kereta dalam perjalanan pulang. Mengapa tidak semenjak jauh-jauh hari? Sebaliknya, mengapa pula Kasinem tak menghubungi ibunya wacana pekerjaan di Singapura? Semua duduk kasus di film ini takkan terjadi andai karakternya berkomunikasi sebagaimana insan normal.

Jalannya Cerita Filim Kasinem Is Coming 2018

Kasinem nekat belakang layar berangkat ke Singapura bersama Luna Asmara alias Lunas (Nadya Pasha), penyalurnya. Kasinem is Coming pun memulai proses selaku road movie, yang sesuai hukum tak tertulis, wajib menghadirkan sederet konflik pengacau perjalanan. Kekacauan-kekacauan milik Kasinem is Coming sungguh tidak terduga. Bukan disebabkan twist cerdik, melainkan keputusan naskah hasil goresan pena Bagus Laksono berdasarkan inspirasi dongeng sang produser, Letsman Tendy, menantang nalar sehat. Deretan filmografi Letsman Tendy sendiri terdiri atas judul-judul macam Missing You (2016) sampai Lasjkar di Tapal Batas (2016), sehingga saya tak terkejut mendapati hasil karya terbarunya ini.

Kasinem kolam perempuan terkutuk pembawa sial. Bus yang ditumpangi terhalang jembatan yang terendam banjir, terhenti sehabis menabrak seorang nenek, kemudian mesinnya mati.  Bus kedua mengalami kebocoran ban. Sebelumnya, kereta yang dinaiki terpaksa menghentikan laju akhir rel tertutup air bah. Kualitas CGI-nya bakal membawamu terbang ke langit ketujuh, di mana rel kereta asal dipasang pada latar sungai kawasan warga desa biasa buang air besar. Satu-satunya pelajaran yang bisa dipetik dari road trip Kasinem dan Lunas hanya citra buruknya transportasi negeri ini. Bahkan realitanya tak separah itu. Setidaknya, takkan terjadi dalam satu rangkaian perjalanan seseorang. Jadi, satu-satunya klarifikasi masuk nalar adalah: Kasinem terkutuk!

Jika anda rindu paras ayu Naysila Mirdad yang menjalani debut layar lebarnya di sini, Kasinem is Coming akan cukup mengobati, walau aktingnya tak pernah beranjak dari stereotip gadis kampung yang bicara selembut sutra, selambat siput, selembek kotoran ayam. Namun itu lebih baik dibanding menyaksikan Limbad, oh maaf, MASTER Limbad. Ingat agresi pertamanya di layar beling yang misterius, mengerikan, sewaktu berjalan di atas belati? Sosok tersebut sudah usang hilang, dan mencapai titik nadir di film ini, ketika ia tampil kolam memparodikan diri sendiri. Memerankan bodyguard yang senantiasa membisu, konyol, tidak bisa berbuat apa pun kecuali menggerutu sambil menjaga pintu. Rupanya “Master of Fakir Magician” itu sekarang sebatas satpam yang tak lucu.

Bukan cuma Limbad yang gagal melucu. Keseluruhan filmnya pun demikian. Sepanjang durasi hanya 2 kali saya tertawa: Dalam sebuah momen slapstick di pesawat dan dikala Kasinem menyebut minuman keras sebagai wedang jahe. Keduanya efektif berkat kesempurnaan timing. Dinamis, pribadi menerjang di titik yang tepat, tanpa diulur-ulur seolah menarik hati penonton, “Hayoo ternyata yang lucu apa hayooo???” sebagaimana humor lainnya dikemas oleh Hasto Broto (Surga Menanti, Jembatan Pensil) di bangku sutradara. Belum sempat punchline-nya muncul, saya terlanjur dibentuk kesal akhir metode itu.

Komedi Kasinem is Coming memang mengesalkan kala menghabiskan 100 menit mengolok-olok ukuran badan Nadya Pasha. Ke mana pun destinasinya, apa pun duduk kasus yang dihadapi, leluconnya urung beranjak dari “sulitnya orang gemuk beraktivitas”. Satu-dua kali “main fisik” wajar. Saya tak seekstrim itu soal bodyshaming. Namun melakukannya hampir di setiap kesempatan mengambarkan kemalasan penulis. Sudah ofensif, repetitif pula. Humor berdasarkan Bagus Laksono hanya berkutat di 2 hal: ekspresi mesum lelaki melihat kecantikan Naysila serta badan Nadya Pasha. Sekalinya mencoba gaya berbeda, kita disuguhi tiga orang, termasuk cameo Cassandra Lee, mengenakan topi bertuliskan “Kasinem is Coming Film”. Was that supposed to be a meta jokes? Was that supposed to be a joke at all???

Tanpa klimaks, konflik diakhiri semudah menggaruk ketiak. Kasinem hingga di Singapura, menyadari ia ialah korban penipuan dan dijual hanya untuk memuaskan hasrat sang bos, berhasil kabur dengan alasan kembali sejenak ke kamar, bertemu gadis asal Indonesia yang ternyata merupakan sepupu Radit (Randy Martin), anak majikan kawasan sang ibu bekerja dulu, kemudian bertemu lagi dengan ibunya. Mereka berbahagia, penonton bermuram durja. Saya gres saja membocorkan ending filmnya biar anda tidak perlu buang-buang uang, tenaga, dan waktu menonton kekacauan memalukan nan mengesalkan ini. Thank me later.

Senin, 07 Januari 2019

Ringkasan Cerita Filim Doa (Doyok-Otoy-Ali Oncom): Cari Jodoh 2018

Ringkasan Cerita Filim Doa (Doyok-Otoy-Ali Oncom): Cari Jodoh 2018

Ringkasan Cerita Filim Doa (Doyok-Otoy-Ali Oncom): Cari Jodoh 2018
Ringkasan Cerita Filim Doa (Doyok-Otoy-Ali Oncom): Cari Jodoh 2018

Ringkasan Cerita Filim Doa (Doyok-Otoy-Ali Oncom): Cari Jodoh 2018, Sebuah adegan di trailer memperlihatkan Mang Ujang (Ence Bagus) si penjual kopi mengomel sementara kopi mengucur dari mulutnya. Di film, dikala Mang Ujang hendak mengulangi perbuatan sama (membuat kopi dalam verbal alih-alih cangkir), Ali Oncom (Dwi Sasono) menyela dengan berkata “Jangan diulang Bang, yang tadi aja nggak lucu”. Ucapan Ali sesungguhnya bisa ditujukan bagi keseluruhan DOA (Doyok-Otoy-Ali Oncom): Cari Jodoh, selaku komedi yang keliru menyamakan definisi “lucu” dengan “aneh” dan “absurd”.

Doa (Doyok-Otoy-Ali Oncom): Cari Jodoh 2018

Saya ambil satu lagi adegan dari trailer dikala Doyok (Fedi Nuril) ditelepon oleh mendiang sang ibu (Yati Surachman), yang muncul dalam wujud pocong. Doyok diminta semoga cepat mencari jodoh, kemudian bermuara pada adegan musikal di mana Doyok menyanyikan Cari Jodoh milik Wali, berlagak kolam rock star, sedangkan sang ibu bersama pocong-pocong lain jadi penari latar. Daripada seru dan lucu, saya malah dibentuk kebingungan. Saya mesti merespon bagaimana? Musikal berikutnya, walau tak sebegitu aneh, tampil datar dalam kemasan medioker. Entah apa alasan mengganti lirik lagu-lagunya, yang alih-alih lucu justru mengurangi hook lagu. Padahal lagu tema, yang telah lebih dulu mengiringi serial animasi televisinya, luar biasa catchy.

Jalannya Cerita Jodoh 2018

Mengadaptasi komik strip rubrik Lembergar (Lembar Bergambar) milik harian Pos Kota, film ini mengisahkan persahabatan tiga pengangguran: Doyok, Otoy (Pandji Pragiwksono), dan Ali Oncom. Otoy selalu jadi target kemarahan istrinya, Elly (Nirina Zubir) akhir hanya bermalas-malasan, Ali Oncom gemar menarik hati perempuan walau telah memacari Yuli (Jihane Almira), sedangkan Doyok, masih melajang. Otoy dan Ali Oncom pun tergerak mencarikan kawannya jodoh melalui aneka macam cara. Salah satunya lewat situs “Minder”. Ya, satu lagi humor plesetan brand yang bagai kegemaran Anggy, yang kali ini tak hanya menyutradarai, pula menulis naskahnya bersama Fico Fachriza.

Tapi plesetan di atas masih lebih baik daripada 2 gaya komedi yang diandalkan film ini, yaitu 1) Komedi abstrak yang dibentuk seabsurd serta seaneh mungkin, dan 2) Komedi jorok yang dikemas, well, sejorok mungkin. Namun seolah tidak ada yang berusaha dijadikan selucu mungkin. Seberapa absurd? Bayangkan Anggy Umbara, tampil sebagai cameo, memerankan juri lomba debat berjulukan Manoj P., yang membuka perlombaan dengan teriakan “Action!”. Seberapa jorok? Pada satu titik, kita diserbu humor berlandaskan alat kelamin yang menampilkan penis salah satu tokoh terjebit dua kali. Anggy memang liar. Saat keliaran itu tersalurkan secara sempurna dan terkontrol, ia bisa melahirkan kreativitas tinggi. Sayangnya tidak di sini. Biar seorang sutradara agresi yang bagus, Anggy bukan sutradara komedi mumpuni. DOA (Doyok-Otoy-Ali Oncom): Cari Jodoh adalah bukti nyata.

Karena bagaimana bisa sebuah film amat tidak lucu dikala diisi nama-nama bertalenta? Selain bahan lemah, fakta bahwa pemeran pendukung tampil lebih solid ketimbang lebih banyak didominasi pemain utama merupakan salah satu faktor. Ketika Dwi Sasono, dengan riasan yang membuatnya sulit dikenali, memikat berkat kemampuan membuat tawa unik, Pandji yaitu Pandji menyerupai biasa, hanya gaya rambut aneh plus perut (lebih) buncit yang membedakan. Kemudian Fedi Nuril, meski mengenakan gigi tonggos palsu sembari menyindir Fahri si pujaan perempuan yang ia perankan di Ayat-Ayat Cinta, terang belum sepenuhnya piawai berkomedi. Berbeda dengan gugusan pemain pendukung, khususnya para wanita. Nirina yang masih hebat mengoceh kolam lesatan peluru, Titi Kamal dengan cara bicara dan gerak bibir aneh, hingga Laura Basuki yang menggila, menjaga filmnya dari kehancuran total.

Dan kita pun tahu niscaya gaya khas Anggy Umbara. Dia takkan membiarkan DOA (Doyok-Otoy-Ali Oncom): Cari Jodoh berakhir sebagai film mengenai pencarian jodoh berlatar kehidupan masyarakat kampung kelas menengah ke bawah semata. Sehingga, third act-nya, melompat ke satu lagi twist berkonsep tinggi yang menggiring kita menuju titik puncak berupa baku hantam sarat kekacauan. Ketika saya berpikir Anggy mulai bisa mengontrol takaran keliaran eksplorasinya untuk digunakan seperlunya menyerupai dalam Insya Allah Sah 2, sang sutradara justru menghasilkan absurditas berikutnya, yang juga karya terburuknya semenjak Comic 8: Casino Kings Part 1 (2015).

Kamis, 03 Januari 2019

Ringkasan Cerita Filim Christopher Robin 2018

Ringkasan Cerita Filim Christopher Robin 2018

Ringkasan Cerita Filim Christopher Robin 2018
Ringkasan Cerita Filim Christopher Robin 2018



Ringkasan Cerita Filim Christopher Robin 2018, Bahkan sebelum Christopher Robin memaparkan permasalahannya, ketika gres mencapai sekuen pembuka berupa hari perpisahan Christopher dengan teman-temannya para penghuni Hundred Acre Wood, mata saya sudah basah. Karena saya, dan kemungkinan banyak penonton cukup umur lain, mengamini ketika Christopher berkata, “I’ve cracked”. Ditekan oleh apa yang sering disebut “realita”, yang pelan tapi niscaya melucuti kebahagiaan kita. Momen pembuka itu menghadirkan haru lantaran mengembalikan ingatan saya akan hari-hari kemudian yang lebih sederhana namun bahagia, tatkala tawa jadi barang yang murah harganya.

Christopher Robin 2018



Beberapa ulasan menuding film ini melaksanakan simplifikasi terhadap problematika dunia nyata, ada juga yang menyebutnya memperlihatkan solusi tidak sehat lantaran mengajak penonton berlindung di bawah memori masa kecil ketimbang bangkit tegak menghadapi segala masalah. Yes, I’ve cracked indeed. Tapi saya bersyukur tidak jatuh sedalam penulis ulasan-ulasan di atas yang terlanjur dikuasai pil pahit kehidupan. Dan Christopher Robin kolam pengingat biar tak terjerumus ke lubang serupa.

Jalannya Cerita Christopher Robin 2018

Walau benar bahwa film ini sederhana. Ditulis oleh Alex Ross Perry (Queen of Earth, Nostalgia), Tom McCarthy (Up, Spotlight), dan Allison Schroeder (Hidden Figures) yang terinspirasi dari buku Winnie-the-Pooh karya A. A. Milne dan E. H. Shepard, yang juga menginspirasi terciptanya seri animasi produksi Disney, naskahnya setia mengikuti formula film keluarga khususnya soal hubungan berjarak ayah dan anak. Tentu perlu diingat bahwa petualangan Pooh dan kawan-kawan memang selalu sederhana, lantaran kisahnya menelusuri masa kanak-kanak, di mana logika kaku serta kompleksitas pikir belum mengalahkan kekayaan imajinasi.

Bagi Christopher Robin (Ewan McGregor), logika dan kerumitan sekarang merupakan masakan sehari-hari. Gemblengan sekolah asrama sampai terjun ke medan perang membentuk rujukan pikir Christopher dewasa, yang telah menikahi Evelyn (Hayley Atwell), dan mempunyai seorang puteri berjulukan Madeline (Bronte Carmichael). Kesibukan Christopher menghadirkan jarang antara ia dan Madeline, yang sebentar lagi bakal mengikuti jejaknya bersekolah di asrama, meski si gadis sendiri tak menginginkannya. Ditambah tekanan di kantor, makin runyam gejolak di hati Christopher. Sampai Pooh (Jim Cummings) tiba berkunjung.

Christopher belum (atau menolak?) menyadari bahwa ia membutuhkan Pooh. Pikirannya berisi hal-hal yang (dia kira) diharapkan untuk menggapai kebahagiaan, daripada hal-hal yang sebenarnya ia inginkan, yang dapat mempersembahkan kebahagiaan ketika itu juga. Tapi film ini memastikan Christopher masih punya hati. Orientasinya pekerjaan, tapi ketika si atasan, Giles Winslow Jr. (Mark Gatiss), menyuruhnya memecat sejumlah karyawan demi penghematan, nuraninya menolak. Pun ketika Pooh meminta pemberian mencari teman-temannya yang hilang, meski dikejar deadline, Christopher risikonya bersedia. Kesediaan yang membawanya menuju rangkaian petualangan, termasuk pertarungan melawan Heffalumps, monster berwujud gajah yang memangsa rasa bahagia. Sejatinya Christopher lah Heffalumps itu. Dia memangsa kebahagiaannya sendiri, dan bukan mustahil, sang puteri.

Bila telah familiar dengan dongeng Winnie the Pooh, atau setidaknya menonton animasi tahun 2011 yang menawan itu, anda tahu mesti berekspektasi apa. Sebuah petualangan make-believe sederhana tetapi sarat imajinasi yang menyenangkan diikuti berkat tingkah tokoh-tokohnya. Dihidupkan oleh CGI bernuansa realisme tanpa perlu kehilangan sentuhan cartoonish, mereka masih gemar (tanpa diniati) melontarkan dagelan kolot yang mencapai puncak kelucuan tiap melibatkan permainan kata.

CGI mumpuni memudahkan kita percaya kalau Ewan McGregor, yang punya pesona memadahi selaku tokoh utama di dunia semi-fantasi, benar-benar menggendong Eeyore atau membelai bulu lembut Pooh yang menggemaskan. Melengkapi elemen visualnya yakni sinematografi, yang berkat sensibilitas Matthias Koenigswieser di belakang kamera dalam menangkap cahaya senja maupun ekosistem Hundred Acre Wood, tampil selaras dengan kelihaian sutradara Mark Forster (Finding Neverland, Quantum of Solace, World War Z) menyusun adegan lembut yang ampuh menyentil rasa.



Butuh waktu sampai kisahnya mulai konsisten menampilkan kehangatan serta momen magis, pun perubahan 180 derajat hati Christopher Robin terasa mendadak. Proses untuk mencapai sana sudah cukup panjang, hanya untuk keteteran kala harus menampilkan titik balik yang meyakinkan. Namun Christopher Robin sudah cukup indah sekaligus bermakna, sehingga saya bersedia melupakan kekurangan-kekurangan tersebut. Film ini tidak mengajak menutup mata akan realita, tetapi kalau kita bersedia berkorban guna mengejar keberhasilan dunia nyata, tidak ada salahnya sesekali berkorban meluangkan waktu sejenak, melupakan segalanya, kemudian berbahagia bersama orang-orang tercinta.

Selasa, 01 Januari 2019

Ringkasan Cerita Filim Cinta Sama Dengan Cindolo Na Tape 2018

Ringkasan Cerita Filim Cinta Sama Dengan Cindolo Na Tape 2018

Ringkasan Cerita Filim Cinta Sama Dengan Cindolo Na Tape 2018
Ringkasan Cerita Filim Cinta Sama Dengan Cindolo Na Tape 2018

Cinta Sama dengan Cindolo na Tape ialah tontonan membingungkan, canggung, layaknya pertemuan dengan gebetan yang berujung kekacauan, grogi, tidak tahu mesti berkata apa. Akhirnya untuk memberikan maksud sederhana pun sulit, hanya bisa meracau, bicara tidak keruan. Seperti film ini, yang bermaksud memberikan tentang sederhana, bahwa cinta serupa cendol dan tape, walau manis di awal akan kedaluwarsa jikalau dibiarkan terlalu lama, tapi terbata-bata akhir terjebak dalam narasi tanpa arah pasti.

Cinta Sama Dengan Cindolo Na Tape 2018

Film ini melanjutkan kisah film pendek berjudul sama karya Rusmin Nuryadin (kini menjadi penulis naskah) yang beberapa tahun kemudian “meledak” di Makassar. Dua sahabat, Timi (A Thesar Resandy) dan Ian (Brilian Rexy Sondakh), yang di film pendeknya masih siswa SMP, kini telah duduk di dingklik SMA. Hubungan mereka merenggang sesudah Timi merasa menerima imbas jelek dari Ian, yang gemar membolos, malas belajar, dan bergaul dengan berandalan. Singkatnya, Timi ingin bertobat. Sampai tiba Cinde (Maizura), siswi pindahan dari Jakarta, yang seketika merenggut hati Timi, pun sebaliknya.

Ian menganggap kehadiran Cinde membuat Timi melupakannya. Dia bingung, mengapa mitra lamanya menjauh. Ian tidak sendiri. Saya pun bingung, kesulitan memahami jalan pikiran atau motivasi perbuatan semua karakternya. Ambil satu adegan sebagai contoh. Ian mendatangi Cinde, mencurahkan kekesalannya soal perubahan Timi. Cinde mengamini. Namun ketika Cinde coba menenangkan, Ian tersinggung, merasa si gadis malah membela Timi. Lalu Ian pergi sambil tetap mengomel, memaksa Cinde mengaku jikalau sebetulnya ia menyukai Timi. Apa ada cinta segitiga di sini? Tersirat demikian di satu kesempatan, hanya untuk dibantah di kesempatan lain.

Jalannya Cerita Filim Cinta Sama Dengan Cindolo Na Tape 2018

Semakin membingungkan, selain akhir naskahnya, juga alasannya ialah ketidakmampuan sutradara Andi Burhamzah bertutur lewat visual dalam debutnya ini. Konon, membisu punya jutaan arti, tapi Cinta Sama dengan Cindolo na Tape membuatnya jadi milyaran alias gagal memberi titik terang. Kesubtilan bisa berujung baik. Artinya sang pencerita menghargai intelegensi penonton, enggan menyuapi mereka. Tapi kesubtilan yang baik mesti mengandung petunjuk-petunjuk yang mengarahkan pemaknaan menuju satu tujuan, pula tidak saling berkontradiksi sebagaimana terjadi di sini.

Penampilan jajaran pemain makin menambah kekusutan, khususnya kala dituntut bicara melalui mimik wajah, yang ketimbang menyiratkan isi hati, justru menegaskan kecanggungan serta ketidaknyamanan di depan kamera. Apalagi sewaktu muncul jeda berhiaskan keheningan. Saya dibentuk bertanya-tanya, apakah ada humor yang hendak menyusul? Apakah ini momen dramatis dikala seseorang begitu terpana? Atau sekedar adegan yang dibiarkan mengalir terlalu usang di ruang penyuntingan? Departemen penyuntingan memang bermasalah.  Banyak adegan dimulai terlalu cepat atau diakhiri terlalu lama. Miskin dinamika, apalagi dikala bersinggungan dengan tukar barang kalimat antara pemain.  Kelemahan yang turut menyulut dilema pada komedinya.

Sebagian humornya berpotensi lucu. Di atas kertas, ide-ide segar Rusmin Nuryadin sanggup dirasakan. Namun ide-ide tersebut dominan berupa humor yang membutuhkan gerak dinamis guna membuat kesan dadakan supaya bisa tampil lucu. Lelucon soal cokelat ialah pola tepat ketika seluruh kekurangan-kekurangan bersatu membunuh kelucuan komedi. Naskah yang menambahkan obrolan tak perlu pasca punch line, sutradara yang luput memainkan dinamika, penyuntingan yang sekedar “potong-dan-sambung”, sampai akting para pemain yang ada di ambang batas antara deadpan comic atau murni datar.

Sebaliknya, paparan dramanya justru bergerak liar ke sana kemari layaknya setumpuk film pendek dengan abjad sama namun tema berbeda yang dipaksa bersatu. Cinta Sama dengan Cindolo na Tape awalnya cuma kisah cinta biasa berbalut lika-liku dunia remaja: pria bertemu perempuan, sang sahabat cemburu, pertemanan mereka renggang. Itu saja merupakan pondasi solid, tapi kolam merasa belum cukup kompleks, konflik di atas menemukan resolusi di pertengahan durasi, kemudian filmnya berpindah menuju permasalahan berikutnya. Benang merahnya tetap sama. Tetap soal “Cinta ialah cindolo na tape”, tetap membahas para pria “mati kiri” yang dibutakan cinta, melupakan teman-temannya. Tapi serupa karakternya, yakni sampaumur yang terombang-ambing tak menentu, Cinta Sama dengan Cindolo na Tape bergerak semaunya ke segala penjuru, menggantung penonton dalam ketidakpastian, layaknya selesai pahit sebuah relasi romansa.

Minggu, 30 Desember 2018

Ringkasan Cerita Filim Petualangan Menangkap Petir 2018

Ringkasan Cerita Filim Petualangan Menangkap Petir 2018

Ringkasan Cerita Filim Petualangan Menangkap Petir 2018
Ringkasan Cerita Filim Petualangan Menangkap Petir 2018

Ringkasan Cerita Filim Petualangan Menangkap Petir 2018, Petualangan Menangkap Petir ialah film menyenangkan dengan tokoh sentral anak-anak, meski bukan film anak yang sepenuhnya berhasil. Sebab bila terlontar pertanyaan mengenai pesan apa yang sanggup diserap, saya hanya bisa menjawab, “Jadi orang bau tanah jangan protektif secara berlebihan”, dan “Cobalah memahami harapan anak”. Sebagai film anak, karya penyutradaraan ketiga Kuntz Agus (#republiktwitter, Surga yang Tak Dirindukan) ini malah lebih lantang mengkritisi kalangan remaja walau meluangkan sepanjang durasi menyoroti acara abjad bocahnya. Mungkin ini hasil proses bawah sadar ketika para pembuatnya, serupa salah satu obrolan yang mereka tulis, kerap “lupa cara menjadi anak kecil”.

Petualangan Menangkap Petir 2018

Tujuan dasar Petualangan Menangkap Petir tolong-menolong sederhana, yakni melecut supaya bawah umur tak ragu mengejar mimpi, juga berpetualang ke luar rumah, bertemu teman-teman kasatmata ketimbang melulu berkutat di balik gadget dan dunia maya. Tapi dalam konteks film ini, bila pokok-pokok bahasan di atas dirunut kembali, semua problem justru berpangkal di orang bau tanah ketimbang anak. Bukan sang anak, Sterling (Bima Azriel) yang meragu, melainkan sang ibu, Beth (Putri Ayudya) yang mengekang. Semua tergantung pada Beth. Masalah hanya akan tuntas ketika Beth yang tersadar, bukan Sterling.

Jalannya Cerita Petualangan Menangkap Petir 2018

Meninjau situs personalnya, sanggup disimpulkan Beth ialah seorang penggiat soal pendidikan terhadap anak, yang kerap membahas bagaimana semoga anak bisa bermain sesuka hati, bersenang-senang tanpa perlu membahayakan diri dengan keluar rumah. Berbanding terbalik dengan sang suami, Mahesa (Darius Sinathrya), yang sejatinya ingin Sterling mengeksplorasi dunia luar, namun enggan menyulut problem dengan Beth. Sterling, yang selama ini tinggal di Hong Kong, menjadi YouTuber tenar berkat bermacam-macam konten kreatif, berinteraksi dengan ribuan “teman” meski tak ada satu pun pernah ia temui langsung.

Kesuksesan itu menciptakan Sterling berat hati kala orang tuanya memutuskan pindah ke Jakarta. Sementara persiapan kepindahan dilakukan, Sterling dititipkan di  rumah kakeknya (Slamet Rahardjo) di Selo, Boyolali. Kekhawatiran bakal merasa jengah lantaran tinggal di kampung seketika sirna pasca bertemu Gianto alias Jaiyen (Fatih Unru) dengan segala gairahnya soal film khususnya akting. Mengetahui acara Sterling di YouTube, Jaiyen pun pribadi mengajaknya menciptakan film mengenai legenda Ki Ageng Sela yang konon, sanggup menangkap petir ketika tengah bertani.

Aktivitas Sterling di Selo mengasyikkan, apalagi bagi penonton menyerupai saya yang berasal dari tempat pedesaan di Jawa. Semua terasa familiar, dari lokasi hingga cara interaksi penuh selorohan menggelitik warga berlogat setempat, termasuk kemunculan singkat duo Pangsit-Benjo sebagai penjual jamu tradisional. Para pemain drama ciliknya pun tampak menikmati, yangjadi elemen terkait anak terbaik di film ini. Bima Azriel apik memerankan seorang bocah yang jengah atas tekanan bertubi-tubi ibunya. Bima memperlihatkan menyerupai apa kekesalan terpendam yang pelan-pelan dipupuk, menunggu meledak di kemudian hari. Keberhasilan Putri Ayudya memerankan ibu super protektif yang memudahkan kita mendukung “pemberontakan” Sterling. Jangan kaget bila Beth mengingatkan pada sosok-sosok di sekitar anda.

Tapi pencuri perhatian terbesar tetap Fatih Unru yang bukan cuma hebat mengocok perut, juga melakoni momen dramatik. Ada adegan ketika ia dituntut melaksanakan akting dalam akting, dan itu tampak meyakinkan, mematenkan Jaiyen sebagai pondasi motivasi pengejaran mimpi filmnya. Agak absurd tolong-menolong ketika motivasi motivasi itu tiba dari sosok pendukung ketimbang Sterling yang seringkali sekedar mengikuti kemauan sobatnya. Jaiyen sendiri bicara kolam orang remaja penggemar film alih-alih anak kecil dengan kemurnian mimpinya. Eddie Cahyono (Siti) dan Jujur Prananto (Ada Apa Dengan Cinta? Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara) selaku penulis naskah berusaha memposisikan diri sebagai anak kecil, kemudian gagal, kolam pemain drama yang berakting buruk.

Guna menolong proses pembuatan film, Sterling dan Jaiyen meminta santunan dua videografer pernikahan, Arifin (Abimana Aryasatya) dan Kriwil (Arie Kriting), yang konon pernah menciptakan film fenomenal, namun secara tersirat disampaikan bahwa mereka tak pernah menyelesaikan karya itu, sehingga mengembangkan mimpi serupa kedua bocah tersebut. Menurut Ifa Isfansyah selaku produser eksekutif, Petualangan Menangkap Petir didasari mimpinya bersama Kuntz Agus menciptakan film anak dan film wacana film. Sayang, mereka sulit menahan diri untuk tidak menyelipkan filosofi mengenai film, menyerupai kalimat “film itu magis” atau penyebutan istilah macam “Mise-en-scène”, yang terdengar kurang pas di film anak. Semoga beruntung menjelaskan artinya pada bawah umur anda. Hal-hal “ke-sinema-an” tadi dicuapkan Abimana, yang hasilnya memerankan abjad “serius tapi santai” menyerupai ketika mencuri perhatian tujuh tahun kemudian di Catatan Harian Si Boy walau penokohan Arifin sendiri dangkal.

Seperti saya sebutkan di awal, di luar setumpuk kelemahannya, Petualangan Menangkap Petir masih sebuah tontonan menyenangkan. Kuntz Agus bisa membungkus kegiatan karakternya menciptakan film dengan seru. Bocah-bocah ini tidak peduli meski cuma berbekal properti buatan tangan seadanya juga akting sebisanya, alasannya ialah mereka hanya berniat bersenang-senang. Setidaknya Petualangan Menangkap Petir berpotensi menyediakan alternatif kegiatan aktif bagi anak: Membuat film. Walau lagi-lagi, berdasarkan film ini, semuanya tergantung pada orang tua.

Jumat, 28 Desember 2018

Ringkasan Cerita Filim 7 Days 2018

Ringkasan Cerita Filim 7 Days 2018

Ringkasan Cerita Filim 7 Days 2018
Ringkasan Cerita Filim 7 Days 2018

Ringkasan Cerita Filim 7 Days 2018, 7 Days, selaku, punya konsep indah nan mendalam yang dituangkan dalam perjalanan karakternya, yang diperlukan berujung pada konklusi menyentuh. Ya, saya menitikkan air mata di akhir, tapi bukan banjir tangis sebagaimana tujuan filmnya. Bukan berarti buruk, alasannya saya mengagumi caranya mengkreasi proses berbasis memori, namun ada jurang pemisah lebar antara “Salah satu film TERBAIK” dengan “Salah satu film YANG BAIK”. Karya penyutradaran keempat Panjapong Kongkanoy (The Rooms, The Moment) ini nyaris jadi kategori pertama sebelum berakhir sebagai kategori kedua akhir naskah lemah, atau tepatnya terlambat memasang pondasi.

7 Days 2018

Premis 7 Days yaitu mengenai Tan (Kan Kantathavorn) yang tiap pagi terbangun di badan berlainan, tapi telepon genggam miliknya selalu ikut serta, lantaran filmnya kesulitan memikirkan cara lain supaya beliau dan kekasihnya, Meen (Nittha Jirayungyurn), bisa tetap berhubungan. Kisah dimulai ketika Tan telah merasuk ke dalam badan seorang laki-laki tambun yang duduk sempurna di depan rumah Meen. Kita belum tahu siapa Tan maupun bagaimana hubungannya dengan Meen berlangsung. Rasanya menyerupai sedang menyaksikan dongeng yang dimulai dari pertengahan.

Jalannya Cerita 7 Days 2018

Mungkin Panjapong hendak menempatkan penonton di posisi serupa Tan, yang juga kehilangan ingatan, tidak tahu siapa dirinya. Tapi perspektif tersebut kurang sesuai di sini, alasannya supaya penonton bisa terikat oleh perjalanan absurdnya, mengenal baik karakternya merupakan tahap yang lebih dulu wajib dilalui. Setelah si laki-laki tambun, Tan terus melalui hari ke hari dengan berpindah dari badan ke tubuh, mulai mitra bulenya, sampai pemilik restoran daerah Tan bekerja sebagai koki, sekaligus lokasi kali pertama beliau bertemu Meen, yang berpforesi sebagai kritikus masakan sehabis menyerahkan mimpinya menjadi koki. Jiwa Tan mondar-mandir tanpa tujuan jelas, demikian pula paruh awal filmnya, yang tetap mempunyai cukup energi berkat segelintir suntikkan humor.

Di antara perpindahan badan Tan, diselipkan pula flashback yang bertugas memperkenalkan kondisi kekerabatan dua tokoh utama, juga penegas bahwa Tan berpindah badan bukan secara acak. Saya tidak bisa mengungkap detail, pastinya masing-masing dari mereka berperan mendefinisikan asmara Tan-Meen, walau sayang, bobot imbas satu sama lain—yang turut bersinggungan dengan kata dan frasa yang tertulis di setiap permulaan hari (dream, mind and soul, passion, etc.)—kurang berimbang. Satu pihak memberi dampak kuat, sementara pihak lainnya kolam kebetulan lewat. Tapi pengembaraan jiwa Tan tetaplah cara penuh makna guna merangkum kekerabatan romansa. Karena setiap kekerabatan membuat momen, setiap momen membuat memori yang terdiri atas lokasi, waktu, serta orang-orang di sekitar. Dan perjalanan aneh ini menggambarkan betapa cinta lebih dari koneksi menurut ketertarikan fisik.

Terdapat 2 titik balik, pertama sewaktu Tan menyadari identitasnya, kedua ketika Meen mengetahui kondisi sang kekasih. Titik balik pertama tersaji lemah. Tan sekedar menebak, “So I guess I am him, I am Tan”, ketimbang menemukan kebenaran itu. Sebaliknya, titik balik kedua merupakan poin yang dibutuhkan 7 Days, yakni pondasi romantikanya. Inilah titik di mana kita karenanya menyadari seberapa berpengaruh cinta mereka. Inilah titik di mana elemen drama sarat emosi, humor, plus filosofi soal romansanya berbaur apik dan mulai mencuri hati. Andai titik ini tampil sejam lebih awal sehingga tautan rasa dengan karakternya berlangsung lebih usang dan kuat.  

Apalagi Nittha Jirayungyurn mempunyai kapasitas menangani momen tearjerker. Tangisannya menyayat perasaan, bersamaan dengan kemampuan Panjapong menangani momen emosional beruntun jelang akhir, berkat sensitivitas yang tak pernah terasa memaksa penontonnya mengalirkan air mata. Di paruh simpulan pula sekilas nampak talenta Panjapong menangani food porn menggugah selera guna merangkum proses kedua protagonis dengan memuaskan. Tan dan Meen berbeda pandangan perihal cara memasak. Meen mengutamakan metode textbook, sedangkan Tan gemar bereksperimen. Si gadis menggunakan otak, si laki-laki mementingkan hati. Begitu pun terkait jalan hidup. Tan ingin melanglang buana, Meen betah menetap di zona nyaman. Daripada mencari yang lebih baik, 7 Days kedua belah pihak harus eksis bersama untuk saling melengkapi, bagaimana pun bentuknya.

Rabu, 26 Desember 2018

Ringkasan Cerita Filim Crazy Rich Asians 2018

Ringkasan Cerita Filim Crazy Rich Asians 2018

Ringkasan Cerita Filim Crazy Rich Asians 2018
Ringkasan Cerita Filim Crazy Rich Asians 2018

Ringkasan Cerita Filim Crazy Rich Asians 2018, Di luar menjadi film berlatar modern produksi studio besar Hollywood pertama yang lebih banyak didominasi pemainnya diisi jajaran pemain Asia semenjak The Joy Luck Club (1993), Crazy Rich Asians tidak berusaha membongkar pakem. Filmnya menerapkan formula komedi-romantis mengenai jatuh-bangun kekerabatan romansa, mencampurnya dengan formula lain ihwal “Cerita Cinderella” lengkap dengan momen makeover  yang bakal membuatmu berharap didatangi ibu peri beserta kereta labu ajaib. Adaptasi novel bestseller berjudul sama karya Kevin Kwan ini tak berusaha menjauh, tapi memperkaya, memperdalam, sekaligus mempercantik formula yang telah paten. Demikian, Crazy Rich Asians berpeluang membangkitkan komedi-romantis arus utama dari mati suri.

Crazy Rich Asians 2018

Aksi kucing-kucingan untuk mendapatkan pria/gadis idaman ditiadakan (setidaknya hingga babak akhir), diganti perjuangan merebut hati calon mertua. Rachel Chu (Constance Wu), gadis Cina-Amerika yang menjabat profesor ekonomi di New York University mendapatkan permintaan sang kekasih, Nick Young (Henry Golding) menghadiri ijab kabul sahabatnya, Colin Khoo (Chris Pang) dengan Araminta (Sonoya Mizuno) di Singapura, sekaligus bertemu ibunya, Eleanor (Michelle Yeoh). Satu hal yang Rachel belum ketahui, Nick merupakan anak sulung salah satu keluarga terkaya di sana.

Pesona Golding membuatnya tampak meyakinkan sebagai pewaris tahta dinasti keluarga terpandang dan figur publik idola, sementara Wu, menampilkan kepolosan yang seiring waktu berkembang jadi kepercayaan diri. Berdua, mereka membuat pasangan komedi-romantis sempurna, tapi tidak di mata Eleanor yang menyatakan keengganan mendapatkan Rachel lewat kesopnanan tutur yang menusuk. Tapi Eleanor bukan antagonis dangkal berupa sosok ibu kejam. Dia mengasihi Nick dan sebagai orang tua, sepenuhnya berhak mencurigai Rachel. Eleanor tidak jahat, melainkan tradisional.

Jalannya Cerita Crazy Rich Asians 2018

Karena di samping kemewahan lokasi, properti, pula busananya, Crazy Rich Asians bicara soal tradisi masyarakat Asia (termasuk Indonesia), yang mementingkan restu keluarga sebelum membawa kekerabatan ke tingkat lanjut. Sementara pihak keluarga menimbang “bibit, bebet, bobot”. Petuah “Menikahlah dengan orang yang satu ras/daerah /agama” seolah bergema sepanjang film. Rachel dianggap berbeda alasannya ialah merupakan Cina-Amerika, tidak “murni”, dan Amerika, atau negeri Barat secara umum, terlihat negatif bagi Eleanor. Mereka rela mengorbankan keluarga demi impian. Kata “mandiri” pun kolam bersinonim dengan “membuang keluarga”. Maka ketika Nick berkata, “I’ll figure it out ON MY OWN”, Eleanor merespon sinis, menyebutnya sebagai “aksen Amerika”.

Crazy Rich Asians tidak berusaha mencela perspektif Eleanor, melainkan mengajak penonton mengobservasi pemicunya, yakni tradisi panjang nan mengakar, yang mau tidak mau wajib Eleanor terima dan internalisasikan sebagai kepercayaannya sendiri. Michelle Yeoh memastikan di setiap respon hambar atau keheningan dengan senyum yang terasa intimidatif untuk calon menantu mana pun, terdapat lapisan lain. Eleanor hening di luar, namun pembawaan Yeoh membuat saya yakin bahwa di dalam, otaknya sibuk bekerja, mengkalkulasikan tiap opsi langkah layaknya pemain mahjong berpengalaman.

Mahjonng turut memainkan tugas di sebuah momen penting yang mempunyai kegunaan memberikan salah satu pesan utama filmnya: proses mengenali. Pertama kali kita bertemu Rachel, ia sedang mengajar di kelas, menawarkan kepada murid-muridnya jikalau kunci kemenangan dalam permainan apa pun ialah mengenali lawan. Itu pula yang terjadi sepanjang film. Permainan. Guna memenangkannya, Rachel—atau siapa saja yang mencari kelanggengan hubungan—mesti mengenali sang lawan, entah itu si calon mertua, atau sang kekasih sendiri. Crazy Rich Asians dipenuhi konflik serupa, ketika belakang layar dan ketidaktahuan berujung membuat masalah.

Di Singapura, bukan Eleanor saja lawan Rachel, wanita-wanita sosialita pemuja Nick yang cemburu melihat si pangeran idola jatuh ke pelukannya pun jadi rintangan. Beruntung, Rachel ditemani beberapa mitra yang selalu siap sedia memberi dukungan. Salah satunya Peik Lin, sahabat Rachel semasa kuliah, yang berkat keeksentrikan Awkwafina, menjadi sumber tawa. Apabila Peik Lin ialah “Asian Ellen”, maka Gemma Chan sebagai Astrid, saudari Nick sekaligus ikon fashion Singapura, bagaikan “Asian Audrey Hepburn”. Glamor, memesona, mengenakan gaun serta pemanis glamor ketimbang “dikenakan” oleh mereka. Keduanya, juga tokoh pendukung lain termasuk ibunda Rachel, Kerry (Tan Kheng Hua), memegang tugas penting dalam perjalanan protagonis kita memahami kalau ia harus gembira akan dirinya, kemudian memanfaatkan seluruh talentanya semoga menjadi kekuatan. The Cinderella doesn’t needs a fairy in this fairy tale.

Anda mungkin sudah mendengar puja-puji bagi adegan ijab kabul film. Saya pastikan puja-puji tersebut tidaklah berlebihan. Pernikahan Colin-Araminta  adalah adegan terbaik Crazy Rich Asians, pula salah satu momen film terindah sepanjang tahun. Pertama, tentu saja berkat hasil kerja menakjubkan departemen artistik yang turut melibatkan bakat lokal, Teddy Setiawan (Beirut) sebagai drafter. Diceritakan ijab kabul itu memakan biaya $40 juta, lebih mahal dari bujet $30 juta milik filmnya. Namun ketika kreativitas mengambil alih, tiada yang mustahil. Rerumputan dan bunga-bunga di kapel hingga tongkat bercahaya yang digenggam masing-masing tamu menghasilkan nuansa surgawi. Hasil karya di momen-momen lain tak kalah memikat, termasuk dekorasi ruang kelas satu pesawat yang mesti dibangun dari nol jawaban maskapai Singapore Airlines menolak proposal kerja sama.

Sutradara Jon M. Chu (Step Up 3D, Justin Bieber: Never Say Never, G.I. Joe: Retaliation) sudah terbiasa menangani film berbasis parade visual, tapi pada pengikatan kesepakatan suci Colin-Araminta, Chu pertanda ia bukan saja andal mengkreasi gambar cantik. Penyutradaraannya mewakili keyakinan bahwa ijab kabul itu sakral. Chu menghasilkan nuansa yang nyaris mystical (dan pastinya magical). Puncaknya ketika kapel dialiri air dan Chu menghentikan semua sumber bunyi termasuk iringan manis Can’t Help Falling in Love versi Kina Grannis. Keheningan magis yang sulit ditandingi film lain tahun ini pun merobohkan pertahanan emosi saya. Pernikahan ini tidak hanya perihal festival visual, juga interaksi karakter, dari bisikan “I love you” dua protagonis hingga kedatangan Astrid bersama sang nenek (Lisa Lu), menampakkan ragam wujud cinta, baik antar-kekasih juga keluarga.

Crazy Rich Asians ialah film yang bertujuan mengembangkan kebahagiaan, entah melalui romansa manis dan uplifting-nya, komedi segar, enegi, maupun keglamoran yang bersinar jelas berkat kerja luar biasa departemen artistiknya. Mengikuti formula, di atas permukaan kisahnya takkan terlihat spesial, namun sebagaimana karakternya lakukan, cobalah mencari tahu, mengenali lebih lanjut. Amati, dapatkan pemahaman lebih lanjut, dan anda bakal menemukan berlian yang sama menyilaukannya dengan koleksi Astrid.

Senin, 24 Desember 2018

Ringkasan Cerita Filim Gila Lu Ndro! 2018

Ringkasan Cerita Filim Gila Lu Ndro! 2018

Ringkasan Cerita Filim Gila Lu Ndro! 2018
Ringkasan Cerita Filim Gila Lu Ndro! 2018

Sebagaimana mestinya komedi satir, Gila Lu Ndro! menyindir realita dengan humor. Diharapkan, penonton tertawa sembari merenungkan insiden yang tengah disaksikan. Namun film keempat sutradara Herwin Novianto (Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara, Tanah Surga...Katanya, Jagad X Code) ini di satu titik lupa akan niatnya memberikan sesuatu alasannya yaitu terlampau sibuk berusaha sekonyol mungkin, sebaliknya, di titik lain getol berceramah sehingga lalai melucu. Mau yang mana pun, bobot pesannya berujung terlemahkan.

Gila Lu Ndro! 2018

Guna memahami poin utama film ini, kita perlu mengikuti kisah yang dituturkan Indro (Tora Sudiro) kepada sang istri, Nita—nama istri Indro Warkop di dunia nyata—yang diperankan Mieke Amalia, yang cukup beruntung mendapat jatah kalimat-kalimat terlucu dalam naskah garapan Upi (Tusuk Jelangkung, My Stupid Boss, Sweet 20) bersama “anak didiknya”, Aline Djayakusuma. Deretan kalimat tersebut kebanyakan berfungsi mengutarakan keheranan sekaligus kekesalannya terhadap kisah abstrak sang suami yang mengaku bertemu Al (Indro Warkop) alias Alien, Raja dari planet Alienus.

Jalannya Cerita Gila Lu Ndro! 2018

Sebagai Raja, Al merasa perlu menemukan jalan menuntaskan konflik tak berkesudahan antara warga Alienus. Untuk itulah dia mencari “Sumber Damai”, yang konon dimiliki Bumi. Dibantu Indro, Al pun melaksanakan perjalanan mengitari Bumi (baca: Jakarta), menemui ragam insiden yang filmnya pakai sebagai alat menyindir isu-isu sosial di sekitar. Mulai dari yang mereka lihat pribadi ibarat penyebaran hoax, penerimaan suap oleh polisi, pembeli yang menawar harga semaunya, dialog singkat soal kegemaran wakil rakyat tidur pulas tatkala sidang, hingga baliho berupa usul berdoa (alih-alih mengusahakan jalan keluar) apabila terkena banjir.

Jadi apa yang Gila Lu Ndro! tawarkan demi menuntaskan segala problem di atas? Al sebagai Raja merupakan metafora pemimpin bangsa ini, dan filmnya secara gamblang nan lantang menyebut bahwa turun ke jalan menemui rakyat pribadi alias blusukan merupakan jalan keluar. Kata “blusukan” bahkan Indro ucapkan, meniadakan ruang bagi kesubtilan. Daripada “merasakan”, rasanya ibarat disuapi oleh Indro, yang penokohannya bisa dirangkum dalam 2 kata, “penengah konflik”. Tidak lebih, tetapi bisa kurang. Sebab di beberapa situasi, dia bahkan tak menengahi permasalahan, sebatas berdiri, mengamati, atau malah kabur.

Bagaimana dengan kita? Para insan biasa, bukan pemimpin bangsa atau alien dengan sumber daya tanpa batas. Sejujurnya sulit dipahami akhir masing-masing problematika tak memiliki kekerabatan pasti, seolah tanpa citra besar untuk disampaikan. Terkesan, tiap problem dipilih bukan atas dasar kebutuhan narasi, melainkan dari pertimbangan, “mana yang paling konyol”. Bahkan ada subplot ketika Al mendapat tugas di sebuah film buatan Alex Abbad sesudah seluruh pemain menolak hadir di lokasi. Apa kaitannya dengan pencarian kedamaian?

Untunglah, walau membayangi pesannya, komedi film ini bisa memproduksi tawa. Masih terjadi inkonsistensi, meleset di sana-sini khususnya ketika Herwin Novianto tampak kurang cakap mengatur timing, namun berhasil juga sempurna target di banyak sisi berkat sederet inspirasi kreatif Aline dan Upi, yang tetap mengedepankan kelucuan ketimbang berusaha seaneh mungkin (like you-know-who). Saya suka setiap kali Nita memotong kisah Indro, yang dibungkus lewat banyak sekali cara unik.

Berlawanan dengan sang istri, Tora kurang lepas membanyol alasannya yaitu di ketika bersamaan dibebani tugas selaku penyampai pesan moral. Sebaliknya, Indro melakoni tugas layar lebar terlucunya pasca kala Warkop DKI, dengan humor cross-dressing di simpulan merupakan momen terbaik. Keseluruhan Gila Lu Ndro! memang lucu. Penonton yang mengisi penuh studio daerah saya menonton terang terpuaskan. Apabila cuma bertujuan memancin tawa, maka film ini sukses. Tapi Gila Lu Ndro! ingin menjadi lebih.....dan gagal. Coba tanyakan pada penonton yang tergelak sepanjang film mengenai intisari filmnya, besar kemungkinan mereka tidak bisa mengutarakan tanggapan pasti.

Sabtu, 22 Desember 2018

Ringkasan Cerita Filim The House With A Clock In Its Walls 2018

Ringkasan Cerita Filim The House With A Clock In Its Walls 2018

Ringkasan Cerita Filim The House With A Clock In Its Walls 2018
Ringkasan Cerita Filim The House With A Clock In Its Walls 2018

The House With A Clock In Its Walls 2018, Dalam salah satu perubahan jalur karir paling ekstrim semenjak George Miller membuat Babe: Pig in the City (1998) dan Happy Feet (2006), Eli Roth (Cabin Fever, Hostel, Death Wish) beralih sejenak (?) dari kegemarannya mandi darah menuju pembiasaan novel The House with a Clock in Its Walls, buku pertama dari 12 seri Lewis Barnavelt buatan John Bellairs (diteruskan Brad Strickland semenjak buku ketujuh sesudah Bellairs meninggal). Seperti banyak produksi klasik Amblin Entertainment, film ini erat bagi penonton anak. Jika biasanya Roth menusuk dan merobek hati, kali ini ia coba menghangatkannya, meski balasannya sang sutradara total bergantung pada jajaran pemain untuk mencapai itu.

The House With A Clock In Its Walls 2018

Kasus lain wacana perubahan karir absurd ialah dikala Sam Raimi membuat trilogi Spider-Man. Raimi berhasil lantaran sutradara horor yang baik selalu mempunyai sensitivitas dalam membuat intensitas, yang mana penting bagi “film popcorn”. Itu sebabnya saya menaruh kepercayaan terhadap Aquaman garapan James Wan.  Berbeda dengan para kompatriotnya, Roth lebih banyak mengandalkan parade kekerasan brutal nan vulgar ketimbang memainkan tensi, yang berujung membuat kelemahan terbesar The House with a Clock in Its Walls.

Filmnya menghabiskan lebih banyak didominasi durasi untuk: 1) Memperkenalkan Lewis Barnavelt (Owen Vaccaro), si bocah tertutup yang dianggap absurd oleh teman sebayanya, kepada dunia sihir ketika sang paman, Jonathan (Jack Black), menampung Lewis pasca kedua orang tuanya meninggal; dan 2) Menyoroti proses Lewis mencar ilmu menjadi warlock alias penyihir sebagaimana Jonathan. Tentu skenario buatan Eric Kripke (Boogeyman) kental aroma “underdog story”, lengkap dengan pesan soal “Kamu mempunyai kelebihan walau dipandang sebelah mata”.

Jalannya Cerita The House With A Clock In Its Walls 2018

Apabila anda perhatikan, dua poin di atas tak mengandung elemen pertempuran kebaikan melawan kejahatan menyerupai jamaknya film anak-anak. Elemen serupa tetap ada, namun tiba begitu kisahnya melewati separuh jalan. Sebelum hingga di sana, Roth sanggup membawa kita mengarungi perjalanan menghibur. Visualnya, yang melibatkan beling patri yang rutin berubah gambar, perabotan yang sanggup bergerak, serta singa dari rumput yang menolak buang air di kolam pasir, terlihat menarik  dalam balutan sinematografi Rogier Stoffers (School of Rock, The Vow, Death Wish). Deretan wangsit imajinatif tersebut memang didasari materi aslinya, tetapi visi kreatif Roth berjasa menghidupkannya.

Mengikuti formula “underdog story”, tentu montage berisi perjuangan Lewis melatih ilmu sihirnya bisa kita temui. Montage yang berjalan singkat namun memikat lewat humor yang tampil berpengaruh berkat keberadaan Jack Black selaku salah satu keputusan casting yang tepat. Black tepat menangani tugas di dunia fantasi gila menyerupai ini. Vaccaro si pemain film cilik pun tampil apik, khususnya dikala diminta menangis tanpa perlu terlihat menyebalkan. Tapi bintang terbesar film ini terang Cate Blanchett sebagai Florence Zimmerman, penyihir perempuan tetangga Jonathan dengan obsesi terhadap warna ungu. Pakaiannya berwarna ungu, bahkan ia berusaha mengubah ularnya menjadi ungu.

Blanchett mengajarkan bagaimana cara berakting di tontonan family-friendly. Dia bersenang-senang di adegan-adegan ringan, entah dikala bertukar olok-olokan dengan Black atau ketika secara elegan tetapi playful, terlibat di tengah-tengah aksi. Pun The House with a Clock in Its Wall tak ubahnya film keluarga lain yang mempunyai cuilan dramatis, dan sewaktu momen itu tiba, cukup melalui satu monolog pendek, Blanchett berhasil mencengkeram perasaan. Anda akan tahu adegan yang mana dikala menontonnya. Dengarkan getaran suaranya, perhatikan tatapan matanya, pula keraguan kala melangkah, yang menyerupai halnya seseorang ketika dikuasai emosi, tak tahu mesti berbuat apa.

Tanpa kebolehan akting pemainnya, film ini akan menjadi perjalanan yang yummy dilihat namun nihil kepekaan akan intensitas. Narasinya terasa draggy, juga nyaris tanpa sentakan, alasannya sekali lagi, Roth bukan ahlinya membuat ketegangan bahkan dikala menggarap horor. Tanpa gore ia kehilangan banyak taring, walau untungnya tidak hingga jadi macan ompong. Roth memanfaatkan kesintingannya demi menghasilkan teror. Dia terbiasa mendobrak batas. Itulah mengapa imajinasinya bergerak liar tatkala menangani hiburan visual, dan rasanya nyaris tak ada sutradara yang bernyali mengatakan sosok iblis dalam tampilan se-disturbing Azazel versi Roth di sini.

Akibat sisi lemah penyutradaraan Roth, saya tak sabar guna beralih dari dua poin alur di atas untuk segera mencapai titik di mana ancaman besar, hasil dari jam yang disembunyikan dalam dinding rumah Jonathan oleh seorang penyihir, mulai merangsek masuk. Jam itu terus berdetak tiap malam. Jonathan dan Florence tak tahu ke mana jam itu bakal membawa mereka, walau pastinya bukan menuju hal menyenangkan. Bahaya itu balasannya menampakkan wujudnya sewaktu Lewis, didorong keputusasaannya untuk mencari teman melalui pembuktian bahwa ia bisa menguasai sihir, nekat melaksanakan hal terlarang. Timbul pertanyaan, “Kenapa Lewis tak memamerkan kemampuannya menggerakkan barang yang telah dikuasainya saja?”. Saya yakin itu sudah cukup memesona bagi kawan-kawannya.

The House with a Clock in Its Walls bermuara di pertempuran trio protagonis melawan monster labu plus banyak sekali makhluk absurd lain, yang kembali, gagal menyentuh intensitas maksimum, salah satunya akhir titik puncak yang berakhir terlampau mudah. Setidaknya, satu momen konyol (dan agak creepy) yang melibatkan “badan Jack Black” mengambarkan sebenarnya Roth, biarpun bukan produsen ketegangan handal, mempunyai otak sinting yang sanggup memproduksi hiburan.

Jumat, 21 Desember 2018

Ringkasan Cerita Filim Belok Kanan Barcelona 2018

Ringkasan Cerita Filim Belok Kanan Barcelona 2018

Ringkasan Cerita Filim Belok Kanan Barcelona 2018
Ringkasan Cerita Filim Belok Kanan Barcelona 2018

Belum ada film yang bisa membawa saya dalam korelasi cinta/benci menyerupai Belok Kanan Barcelona. Saya menyayangi caranya menuturkan betapa cinta sanggup mendorong seseorang berkorban meski harus menembus batas jarak dan waktu. Saya menyayangi caranya mendefinisikan “cinta sejati” sebagai seseorang yang selalu ada di samping pujaan hatinya tanpa memaksa balik dicintai. Saya pun menyayangi masing-masing abjad utamanya. Namun saya membenci ketika narasinya mulai terjun ke cuilan agama bahkan terkesan offensive di beberapa titik.

Belok Kanan Barcelona 2018

Mengadaptasi novel Traveler’s Tale: Belok Kanan Barcelona karya Adhitya Mulya, Ninit Yunita, Alaya Setya, dan Iman Hidayat, filmnya mengisahkan persahabatan Francis (Morgan Oey), Retno (Mikha Tambayong), Yusuf (Deva Mahenra), dan Farah (Anggika Bolsterli) yang sekarang tinggal terpisah di empat negara berbeda. Francis yaitu pianis pemenang Grammy pertama asal Indonesia yang sekarang menetap di Los Angeles, Retno mengejar impiannya menjadi chef di Copenhagen, Yusuf mulai mendulang sukses di perusahaan di Cape Town, sedangkan Farah bekerja sebagai arsitek di Vietnam. Undangan ijab kabul Francis dengan Inez (Millane Fernandez) di Barcelona memberi mereka alasan untuk bertemu lagi, walau satu sama lain tak mengetahui intensi tersebut.

Jalannya Cerita Belok Kanan Barcelona 2018

Semua bermula dari masa SMA, tatkala persahabatan keempatnya mulai bersemi, demikian pula cinta. Francis menyukai Retno pun sebaliknya, Farah yang jadi daerah curhat Retno juga tertarik pada Francis, sementara Yusuf, si “penyedia bahu” bagi kesedihan Farah, turut belakang layar memendam rasa kepadanya. Apabila banyak film kita memposisikan kelulusan Sekolah Menengan Atas selaku pembuka, Belok Kanan Barcelona menempatkannya di tengah, sesudah terlebih dulu membawa penonton mengarungi flashback yang menyoroti dinamika empat tokoh utama semasa SMA, memantapkan pondasi abjad beserta persahabatan mereka. Naskah yang disusun Adhitya Mulya (Jomblo, Shy Shy Cat) apik dalam mempresentasikan manis sekaligus pahitnya menyayangi mitra sendiri, ketika pengungkapan perasaan kolam haram hukumnya demi menjaga kelanggengan pertemanan.

Departemen akting merupakan elemen terkuat filmnya. Morgan kharismatik menyerupai biasa sehingga gampang mendapatkan ketika Francis disukai dua gadis manis walau detail penokohannya tak seberapa digali (baca: ia terkenal lantaran ganteng dan keren). Mikha mencurahkan emosi yang cukup meyakinkan untuk menjadkan ini performa terbaik sepanjang karirnya, tatkala Deva hasilnya memperoleh bahan yang pas guna memfasilitasi bakat komediknya. Tapi magnet terbesar berasal dari Anggika melalui formasi verbal asing dan ketiadaan urat aib dalam berlagak konyol termasuk merangkak di aspal, Farah merupakan tugas yang bakal membuka lapang jalannya meraih status bintang kelas satu.

Sampai sini, Belok Kanan Barcelona bisa jadi salah satu film Indonesia terbaik 2018. Tontonan yang konsisten memberi tawa dalam pengalaman menonton menyenangkan. Penyutradaraan Guntur Soeharjanto (99 Cahaya di Langit Eropa, Ayat-Ayat Cinta 2) pun cukup efektif membuat adegan emosional ketika melukiskan momen “crack-and-heal” suatu persahabatan.  Berbeda dibanding caranya menangani 2 film 99 Cahaya di Langit Eropa, latar luar negeri urung dieksploitasi sebagai lokasi basuh mata belaka, melainkan panggung pembuktian bahwa kekuatan cinta bisa mendorong seseorang melintasi dunia.

Mengesankan, sampai elemen religi menggedor masuk, yang awalnya dipicu perbedaan iman Francis dan Retno. Saya suka sebaris kalimat ucapan ayah Retno (Cok Simbara) yang kurang lebih berbunyi, “Apa kau tega membuat Francis harus menentukan antara kau (Retno) atau Tuhannya?”. Itu cara lembut untuk berkata “Jangan memacari orang berbeda agama”. Saya tak menyalahkan perspektif tersebut, alasannya yaitu kenyataannya, hal itu sulit dijalani di Indonesia. (Spoiler starts here) Saya pun tak mempermasalahkan konklusi sewaktu Francis hasilnya memeluk Islam. Apa pun alasannya (sebatas untuk menikah atau memang iman personal), itu cara paling kondusif biar bisa menghabiskan hidup bersama.

Masalah mencuat ketika Belok Kanan Barcelona melukiskan orang Islam sebagai pemeluk agama luar biasa taat yang enggan berpindah iman demi ijab kabul dan bersedia solat di tengah padang pasir, tetapi sebaliknya, Pastor dan Suster di tengah situasi mengancam kala mesin pesawat yang ditumpang meledak, malah bertingkah konyol, saling menyatakan cinta, merengek alih-alih memanjatkan doa, sesudah sepanjang perjalanan diperlihatkan sebagai orang-orang menyebalkan yang tak mempedulikan sekitarnya. Apabila cuma memunculkan salah satu (Muslim luar biasa taat atau mengolok-olok Pastor sebagai bahan komedi), tidak jadi masalah. Namun ketika dihadirkan bersamaan, secara otomatis tercipta komparasi jomplang yang begitu mengganggu. Sengaja atau tidak, hal itu pertanda ketidakpekaan para pembuatnya.

Ringkasan Cerita Filim Adrift 2018

Ringkasan Cerita Filim Adrift 2018 Ringkasan Cerita Filim Adrift 2018 Ringkasan Cerita Filim Adrift 2018, Sepasang kekasih ( or soo-...