Tampilkan postingan dengan label Romance. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Romance. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Januari 2019

Ringkasan Cerita Filim Si Doel The Movie 2018

Ringkasan Cerita Filim Si Doel The Movie 2018

Ringkasan Cerita Filim Si Doel The Movie 2018
Ringkasan Cerita Filim Si Doel The Movie 2018
Ringkasan Cerita Filim Si Doel The Movie 2018, Terdapat cara mengidentifikasi apakah anda termasuk sasaran pasar Si Doel the Movie atau bukan. Apabila mendengar kepingan lirik “Aaanak Betawiiii...” membawa anda melayang ke ruang nostalgia bahkan emosional, atau anda bisa mengasosiasikan voice over, foto keluarga, sampai tanjidor dengan momen-momen tertentu dari sinetronnya, maka film ini untuk anda. Karena artinya, ibarat saya, keseharian anda sempat ditemani Si Doel Anak Sekolahan (1994-2003). Sedangkan bagi penonton baru, alias tanpa kenangan wacana sinetronnya, mungkin kedekatan emosi takkan didapat.

Si Doel The Movie 2018

Tapi jangan khawatir, lantaran Rano Karno, yang menjadi sutradara (debut layar lebarnya) sekaligus penulis naskah (pernah menulis Satu Jam Saja dan Anak-Anak Malam) selain tentunya memerankan Doel, berbaik hati mengatakan penjelasan. Bukan klarifikasi asal taruh layaknya kursus kilat, melainkan bersifat alami. Misalnya dari obrolan ketika Sarah (Cornelia Agatha) mengungkapkan alasannya meninggalkan Doel 14 tahun lalu. Kita diberi tahu latar belakang yang terjadi dalam sebuah pembicaraan yang masuk akal terjadi. Bisa juga lewat bahasa visual, ibarat kala Koh Ahong (Salman Alfarizi) melirik Zaenab (Maudy Koesnaedi), ketika Mak Nyak (Aminah Cendrakasih) bertanya, mengapa ia belum menikah? Penonton awam sanggup menangkap adanya perasaan khusus Koh Ahong.

Jalannya Cerita Filim Si Doel The Movie 2018

Bagi penggemar, mendapati tokoh-tokoh idola masih sama ibarat dalam ingatan sudah menjadi kepuasan tersendiri. Contohnya Mandra (Mandra), selaku abjad pertama yang mengisi layar. Langsung ia pamerkan lisan besar ciri khasnya, yang gemar pamer juga mengeluh, sekaligus berperan sebagai motor unsur komedi yang konsisten mencerahkan suasana sepanjang durasi. Kali ini beliau pamer lantaran akan diajak Doel ke Belanda demi memenuhi proposal pekerjaan dari Hans (Adam Jagwani). Paruh awal ini agak terganggu akhir lemahnya penataan bunyi yang kerap menciptakan obrolan tenggelam. Untungnya, duduk kasus ini tak berlangsung lama, hilang semenjak Doel dan Mandra berangkat, meninggalkan Atun (Suti Karno) dan Zaenab di rumah.

Zaenab pun sama, masih perempuan penyabar, ikhlas, selalu mendapatkan walau di belakang senantiasa terluka. Dia bersabar menanti Doel memberi kabar setibanya di Belanda, sama ibarat ketika ia sabar menanti sang pujaan hati membalas cintanya. Begitu sabar, walau dalam dua situasi itu, Sarah selalu menghalangi. Tanpa melihat trailer pun kita tahu kekhawatiran Zaenab mengenai pertemuan Doel dan Sarah bakal terwujud. Bukan Si Doel namanya tanpa konflik cinta segitiga mereka. Konflik yang bersama-sama “jalan di tempat”, meski kini, status ijab kabul menambah kompleksitas. Doel belum resmi menceraikan Sarah, sementara ia sudah menikah siri dengan Zaenab.

Keseluruhan alurnya, yang beberapa poinnya pernah ditampilkan di FTV Si Doel Anak Pinggiran (2011), bagai menjembatani dongeng usang menuju problematika baru, tak ubahnya episode pilot untuk story arc berikutnya. Layaknya pilot pula, dinamika permasalahan tak seberapa. Mengecewakan, namun bisa dipahami. Mayoritas franchise lawas yang dibangkitkan lagi, niscaya dimulai dengan sajian yang murni mengarah nostalgia demi merenggut kembali perhatian penggemar usang ketimbang eksklusif menjabarkan narasi gres yang utuh dan “layak”.

Doel balasannya bertemu dengan Sarah di Tropenmuseum. Pemilihan lokasinya sesuai. Museum merupakan daerah menyimpan artefak masa kemudian semoga tak terlupakan, sebagaimana Sarah yang sulit Doel lupakan walau kekerabatan keduanya telah berlalu. Mungkin ibarat kata Mandra, Doel ialah orang primitif yang menyukai masa lalu, atau sebaliknya, ibarat para pengunjung museum, ia menghargai meori, memperlakukannya dengan penuh cinta. Tokoh utama kita ini memang tidak pernah berubah. Masih diam, tertutup, penuh keraguan. Bahkan tatkala bertatap muka untuk kali pertama dengan Dul (Rey Bong), anaknya. Sikapnya terkesan terlalu dingin, toh sanggup dimaklumi, meningat “anak harus hormat kepada orang bau tanah apa pun kondisinya” termasuk nilai kekeluargaan yang Rano Karno, beserta dongeng Si Doel junjung semenjak dahulu.

Cornelia Agatha, yang balasannya kembali ke layar lebar sesudah 12 tahun semenjak Jatuh Cinta Lagi, sanggup mengubah kalimat klise ibarat “Aku yang salah!” menjadi emosional. Dia dan Rano Karno—dalam kapasitas selaku sutradara—saling mengisi bermodalkan pemahaman masing-masing atas mise en scène demi menguatkan dramatisasi. Cornelia, layaknya pemain film panggung yang baik, tahu kapan mesti bererak, berdiri, melangkah menjauh dari lawan bicara guna memberi penekanan. Terkait penempatan blocking pada penyutradaraan Rano Karno, saya menyukai sebuah adegan ketika Doel tengah kusut pikirannya, sementara Sarah dan Dul, jauh di belakang, di luar titik fokus kamera, beraktivitas tanpa sepengetahuan Doel. Momen non-verbal tersebut bicara banyak, khususnya soal isi pikiran Doel. Si Doel the Movie terang punya segalanya untuk menghasilkan lebih dari obat nostalgia. Tapi untuk sekarang, tujuan itu rasanya sudah cukup.

Selasa, 08 Januari 2019

Ringkasan Cerita Filim Rompis 2018

Ringkasan Cerita Filim Rompis 2018

Ringkasan Cerita Filim Rompis 2018
Ringkasan Cerita Filim Rompis 2018

Ringkasan Cerita Filim Rompis 2018, Di pinggir jembatan di sudut suatu kota di Belanda, Roman (Arbani Yasiz) ber-selfie bersama Wulandari (Adinda Azani). Bukan hal yang biasa Roman lakukan. “Buat dikasih lihat ke anak cucu”, begitu alasannya. Daripada tawa atau respon “Apaan sih?” yang biasa dipilih banyak film percintaan remaja, kita melihat Wulan terdiam, tersenyum canggung, sementara matanya berkaca-kaca. Saya pun demikian. Bagi remaja, kalimat itu mungkin terdengar gombal, tapi di indera pendengaran penonton berusia remaja awal, apalagi yang tengah menjalani kekerabatan jarak jauh, ucapan Roman bermakna lebih, berupa sebersit petunjuk bahwa orang yang kita cintai pun ingin menghabiskan hidup bersama hingga akhir. Lebih dalam dibanding seluruh puisi atau kalimat “Aku mencintaimu” yang tak kunjung Roman sampaikan.

Rompis 2018

Kemungkinan Roman tidak menyadari sejauh itu, tapi di situ poinnya, ialah sebuah kejujuran ungkapan rasa. Kejujuran, serta sedikit siratan kedewasaan yang tak mengejutkan, mengingat Rompis disutradarai Monty Tiwa, sosok dibalik bermacam-macam hidangan romansa remaja macam Critical Eleven (2017) dan Test Pack: You Are My Baby (2012). Alurnya sendiri formulaik, mempunyai elemen cinta segitiga hingga latar luar negeri ketika Roman terpaksa berpisah dengan Wulan ketika harus melanjutkan kuliah di Belanda bersama sahabatnya, Samuel (Umay Shahab). Kemudian Roman bertemu sesama orang Indonesia, mahasiswi S2 berjulukan Meira (Cut Beby Tshabina) yang belakang layar terpikat padanya. Situasi bertambah pelik ketika Wulan yang khawatir, mendadak tiba berkunjung.

Jalannya Cerita Rompis 2018

Saya bukan pemirsa sinetronnya, yang tentu memberi imbas lebih besar bagi skrip buatan Monty Tiwa, Haqi Achmad (Ada Cinta di SMA, Sajen), dan Putri Hermansjah (co-director Raksasa dari Jogja dan Sabtu Bersama Bapak), ketimbang film versi 1980 yang dibintangi Rano Karno dan Lydia Kandou, maupun novel karya Eddy D. Iskandar. Tapi saya tebak, sinetronnya serupa suguhan remaja lain yang jamak menghiasi layar kaca. Ditambah penokohan Roman sebagai penulis puisi handal (alasan ia dipanggil “Roman Picisan” alias “Rompis”), saya makin berprasangka buruk. Rupanya, Rompis tak bergantung pada buaian puisi, yang cuma kadangkala terdengar di momen yang tepat, sebagaimana sering terjadi dalam suasana Istimewa pemancing inspirasi, menyebabkan kita pujangga dadakan. Singkatnya, masuk akal.

Banyak film remaja terasa kekanak-kanakan jawaban berusaha terlampau keras terlihat dewasa. Sebaliknya, Rompis sengaja bersikap santai, tampil layaknya bocah yang gemar menarik hati dan bercanda, yang justru membuatnya terasa (lebih) dewasa. Para pembuatnya paham poin kekerabatan romantis bukan soal banjir kalimat indah namun interaksi menyenangkan. Kita melihat Roman dan Wulan saling goda, saling manja, tertawa bersama. Seringkali humor mengisi, menghadirkan tawa yang termasuk salah satu pondasi tiap hubungan. Saya turut senang (dan ingin) melihat mereka bahagia.

Tentu jajaran pemain turut berjasa. Tampil bersama sebanyak 107 episode, chemistry Arbani Yasiz-Adinda Azani mengalir lancar. Bahkan di beberapa bagian, interaksi keduanya kolam situasi faktual di luar naskah. Seperti seharusnya sepasang kekasih, mereka tampak nyaman satu sama lain. Menyenangkan pula menyaksikan gaya misterius serta "judes-tapi-mau" dari Cut Beby Tshabina, yang sekali lagi, hadir secara alamiah, tak melulu melalui tuturan verbal, juga sesekali mengandalkan gestur atau ekspresi kecil. Sedangkan Umay Shahab, yang paling banyak dibebani porsi humor, merupakan sosok pendukung yang baik. Menarik mendapati petuah paling bermakna justru keluar dari mulutnya, sewaktu Sam mengingatkan Roman ihwal “memprioritaskan masa depan yang sedang bersamanya ketika itu”.

Rompis tetap menyimpan kelemahan. Alurnya terdiri atas terlalu banyak konflik-konflik pendek yang direpetisi: Roman berniat menyenangkan Wulan, Meira datang, Wulan kesal, Roman berusaha minta maaf. Sekitar 3-4 kali kondisi serupa diulang, dan lantaran teramat sering, ketika tiba di resolusi pamungkas, dampak emosinya rendah, alasannya sebelumnya, kita sudah beberapa kali hingga di titik yang sama dengan skala pertaruhan yang tak jauh beda pula. Tapi jangan khawatir. Filmnya selalu punya cara menebus kekurangannya, sebagaimana naskahnya rutin menyebar beberapa detail penjelas dalam obrolan supaya penonton yang absurd dengan sinetronnya tak tersesat.  

Setiap Meira tiba “mengganggu”, saya merasa gemas, terpancing berujar “What the hell is she doing here?! Gosh! It’s gonna get ugly!”. Sedangkan sewaktu “penyakit gamang” menyerang Roman, saya kesal dibuatnya hingga ingin masuk ke layar untuk menceramahinya. Rasanya menyerupai ibu-ibu penggila sinetron yang gemar berceloteh mengomentari konflik fiktif di televisi. Artinya, tontonan itu berhasil mengikat mereka. Rompis memang dongeng cinta remaja ringan, tapi dongeng cinta remaja ringan yang langka, di mana penonton sanggup betah berlama-lama bersama karakternya, terjerat oleh permasalahan remeh namun pelik milik mereka.

Selasa, 01 Januari 2019

Ringkasan Cerita Filim Cinta Sama Dengan Cindolo Na Tape 2018

Ringkasan Cerita Filim Cinta Sama Dengan Cindolo Na Tape 2018

Ringkasan Cerita Filim Cinta Sama Dengan Cindolo Na Tape 2018
Ringkasan Cerita Filim Cinta Sama Dengan Cindolo Na Tape 2018

Cinta Sama dengan Cindolo na Tape ialah tontonan membingungkan, canggung, layaknya pertemuan dengan gebetan yang berujung kekacauan, grogi, tidak tahu mesti berkata apa. Akhirnya untuk memberikan maksud sederhana pun sulit, hanya bisa meracau, bicara tidak keruan. Seperti film ini, yang bermaksud memberikan tentang sederhana, bahwa cinta serupa cendol dan tape, walau manis di awal akan kedaluwarsa jikalau dibiarkan terlalu lama, tapi terbata-bata akhir terjebak dalam narasi tanpa arah pasti.

Cinta Sama Dengan Cindolo Na Tape 2018

Film ini melanjutkan kisah film pendek berjudul sama karya Rusmin Nuryadin (kini menjadi penulis naskah) yang beberapa tahun kemudian “meledak” di Makassar. Dua sahabat, Timi (A Thesar Resandy) dan Ian (Brilian Rexy Sondakh), yang di film pendeknya masih siswa SMP, kini telah duduk di dingklik SMA. Hubungan mereka merenggang sesudah Timi merasa menerima imbas jelek dari Ian, yang gemar membolos, malas belajar, dan bergaul dengan berandalan. Singkatnya, Timi ingin bertobat. Sampai tiba Cinde (Maizura), siswi pindahan dari Jakarta, yang seketika merenggut hati Timi, pun sebaliknya.

Ian menganggap kehadiran Cinde membuat Timi melupakannya. Dia bingung, mengapa mitra lamanya menjauh. Ian tidak sendiri. Saya pun bingung, kesulitan memahami jalan pikiran atau motivasi perbuatan semua karakternya. Ambil satu adegan sebagai contoh. Ian mendatangi Cinde, mencurahkan kekesalannya soal perubahan Timi. Cinde mengamini. Namun ketika Cinde coba menenangkan, Ian tersinggung, merasa si gadis malah membela Timi. Lalu Ian pergi sambil tetap mengomel, memaksa Cinde mengaku jikalau sebetulnya ia menyukai Timi. Apa ada cinta segitiga di sini? Tersirat demikian di satu kesempatan, hanya untuk dibantah di kesempatan lain.

Jalannya Cerita Filim Cinta Sama Dengan Cindolo Na Tape 2018

Semakin membingungkan, selain akhir naskahnya, juga alasannya ialah ketidakmampuan sutradara Andi Burhamzah bertutur lewat visual dalam debutnya ini. Konon, membisu punya jutaan arti, tapi Cinta Sama dengan Cindolo na Tape membuatnya jadi milyaran alias gagal memberi titik terang. Kesubtilan bisa berujung baik. Artinya sang pencerita menghargai intelegensi penonton, enggan menyuapi mereka. Tapi kesubtilan yang baik mesti mengandung petunjuk-petunjuk yang mengarahkan pemaknaan menuju satu tujuan, pula tidak saling berkontradiksi sebagaimana terjadi di sini.

Penampilan jajaran pemain makin menambah kekusutan, khususnya kala dituntut bicara melalui mimik wajah, yang ketimbang menyiratkan isi hati, justru menegaskan kecanggungan serta ketidaknyamanan di depan kamera. Apalagi sewaktu muncul jeda berhiaskan keheningan. Saya dibentuk bertanya-tanya, apakah ada humor yang hendak menyusul? Apakah ini momen dramatis dikala seseorang begitu terpana? Atau sekedar adegan yang dibiarkan mengalir terlalu usang di ruang penyuntingan? Departemen penyuntingan memang bermasalah.  Banyak adegan dimulai terlalu cepat atau diakhiri terlalu lama. Miskin dinamika, apalagi dikala bersinggungan dengan tukar barang kalimat antara pemain.  Kelemahan yang turut menyulut dilema pada komedinya.

Sebagian humornya berpotensi lucu. Di atas kertas, ide-ide segar Rusmin Nuryadin sanggup dirasakan. Namun ide-ide tersebut dominan berupa humor yang membutuhkan gerak dinamis guna membuat kesan dadakan supaya bisa tampil lucu. Lelucon soal cokelat ialah pola tepat ketika seluruh kekurangan-kekurangan bersatu membunuh kelucuan komedi. Naskah yang menambahkan obrolan tak perlu pasca punch line, sutradara yang luput memainkan dinamika, penyuntingan yang sekedar “potong-dan-sambung”, sampai akting para pemain yang ada di ambang batas antara deadpan comic atau murni datar.

Sebaliknya, paparan dramanya justru bergerak liar ke sana kemari layaknya setumpuk film pendek dengan abjad sama namun tema berbeda yang dipaksa bersatu. Cinta Sama dengan Cindolo na Tape awalnya cuma kisah cinta biasa berbalut lika-liku dunia remaja: pria bertemu perempuan, sang sahabat cemburu, pertemanan mereka renggang. Itu saja merupakan pondasi solid, tapi kolam merasa belum cukup kompleks, konflik di atas menemukan resolusi di pertengahan durasi, kemudian filmnya berpindah menuju permasalahan berikutnya. Benang merahnya tetap sama. Tetap soal “Cinta ialah cindolo na tape”, tetap membahas para pria “mati kiri” yang dibutakan cinta, melupakan teman-temannya. Tapi serupa karakternya, yakni sampaumur yang terombang-ambing tak menentu, Cinta Sama dengan Cindolo na Tape bergerak semaunya ke segala penjuru, menggantung penonton dalam ketidakpastian, layaknya selesai pahit sebuah relasi romansa.

Jumat, 28 Desember 2018

Ringkasan Cerita Filim 7 Days 2018

Ringkasan Cerita Filim 7 Days 2018

Ringkasan Cerita Filim 7 Days 2018
Ringkasan Cerita Filim 7 Days 2018

Ringkasan Cerita Filim 7 Days 2018, 7 Days, selaku, punya konsep indah nan mendalam yang dituangkan dalam perjalanan karakternya, yang diperlukan berujung pada konklusi menyentuh. Ya, saya menitikkan air mata di akhir, tapi bukan banjir tangis sebagaimana tujuan filmnya. Bukan berarti buruk, alasannya saya mengagumi caranya mengkreasi proses berbasis memori, namun ada jurang pemisah lebar antara “Salah satu film TERBAIK” dengan “Salah satu film YANG BAIK”. Karya penyutradaran keempat Panjapong Kongkanoy (The Rooms, The Moment) ini nyaris jadi kategori pertama sebelum berakhir sebagai kategori kedua akhir naskah lemah, atau tepatnya terlambat memasang pondasi.

7 Days 2018

Premis 7 Days yaitu mengenai Tan (Kan Kantathavorn) yang tiap pagi terbangun di badan berlainan, tapi telepon genggam miliknya selalu ikut serta, lantaran filmnya kesulitan memikirkan cara lain supaya beliau dan kekasihnya, Meen (Nittha Jirayungyurn), bisa tetap berhubungan. Kisah dimulai ketika Tan telah merasuk ke dalam badan seorang laki-laki tambun yang duduk sempurna di depan rumah Meen. Kita belum tahu siapa Tan maupun bagaimana hubungannya dengan Meen berlangsung. Rasanya menyerupai sedang menyaksikan dongeng yang dimulai dari pertengahan.

Jalannya Cerita 7 Days 2018

Mungkin Panjapong hendak menempatkan penonton di posisi serupa Tan, yang juga kehilangan ingatan, tidak tahu siapa dirinya. Tapi perspektif tersebut kurang sesuai di sini, alasannya supaya penonton bisa terikat oleh perjalanan absurdnya, mengenal baik karakternya merupakan tahap yang lebih dulu wajib dilalui. Setelah si laki-laki tambun, Tan terus melalui hari ke hari dengan berpindah dari badan ke tubuh, mulai mitra bulenya, sampai pemilik restoran daerah Tan bekerja sebagai koki, sekaligus lokasi kali pertama beliau bertemu Meen, yang berpforesi sebagai kritikus masakan sehabis menyerahkan mimpinya menjadi koki. Jiwa Tan mondar-mandir tanpa tujuan jelas, demikian pula paruh awal filmnya, yang tetap mempunyai cukup energi berkat segelintir suntikkan humor.

Di antara perpindahan badan Tan, diselipkan pula flashback yang bertugas memperkenalkan kondisi kekerabatan dua tokoh utama, juga penegas bahwa Tan berpindah badan bukan secara acak. Saya tidak bisa mengungkap detail, pastinya masing-masing dari mereka berperan mendefinisikan asmara Tan-Meen, walau sayang, bobot imbas satu sama lain—yang turut bersinggungan dengan kata dan frasa yang tertulis di setiap permulaan hari (dream, mind and soul, passion, etc.)—kurang berimbang. Satu pihak memberi dampak kuat, sementara pihak lainnya kolam kebetulan lewat. Tapi pengembaraan jiwa Tan tetaplah cara penuh makna guna merangkum kekerabatan romansa. Karena setiap kekerabatan membuat momen, setiap momen membuat memori yang terdiri atas lokasi, waktu, serta orang-orang di sekitar. Dan perjalanan aneh ini menggambarkan betapa cinta lebih dari koneksi menurut ketertarikan fisik.

Terdapat 2 titik balik, pertama sewaktu Tan menyadari identitasnya, kedua ketika Meen mengetahui kondisi sang kekasih. Titik balik pertama tersaji lemah. Tan sekedar menebak, “So I guess I am him, I am Tan”, ketimbang menemukan kebenaran itu. Sebaliknya, titik balik kedua merupakan poin yang dibutuhkan 7 Days, yakni pondasi romantikanya. Inilah titik di mana kita karenanya menyadari seberapa berpengaruh cinta mereka. Inilah titik di mana elemen drama sarat emosi, humor, plus filosofi soal romansanya berbaur apik dan mulai mencuri hati. Andai titik ini tampil sejam lebih awal sehingga tautan rasa dengan karakternya berlangsung lebih usang dan kuat.  

Apalagi Nittha Jirayungyurn mempunyai kapasitas menangani momen tearjerker. Tangisannya menyayat perasaan, bersamaan dengan kemampuan Panjapong menangani momen emosional beruntun jelang akhir, berkat sensitivitas yang tak pernah terasa memaksa penontonnya mengalirkan air mata. Di paruh simpulan pula sekilas nampak talenta Panjapong menangani food porn menggugah selera guna merangkum proses kedua protagonis dengan memuaskan. Tan dan Meen berbeda pandangan perihal cara memasak. Meen mengutamakan metode textbook, sedangkan Tan gemar bereksperimen. Si gadis menggunakan otak, si laki-laki mementingkan hati. Begitu pun terkait jalan hidup. Tan ingin melanglang buana, Meen betah menetap di zona nyaman. Daripada mencari yang lebih baik, 7 Days kedua belah pihak harus eksis bersama untuk saling melengkapi, bagaimana pun bentuknya.

Kamis, 27 Desember 2018

Ringkasan Cerita Filim Jejak Cinta 2018

Ringkasan Cerita Filim Jejak Cinta 2018

Ringkasan Cerita Filim Jejak Cinta 2018
Ringkasan Cerita Filim Jejak Cinta 2018

Sebelum meninggal, mendiang Julia Perez sempat terlibat proyek berjudul Doa untuk Cinta yang ia bintangi bersama Gandhi Fernando, disutradarai Tarmizi Abka (Kalam-Kalam Langit), dan berlokasi di Singkawang. Sayang, sebelum menuntaskan proses pengambilan gambar, kondisi kesehatan Jupe mulai memburuk. Sempat berhembus kabar mengenai usaha melanjutkan produksi dengan perubahan cerita, namun tak kunjung terealisasi. Sampai Jejak Cinta—yang juga disutradarai Tarmizi Abka serta berlatar Singkawang—dirilis utuk mengenang almarhumah.

Jejak Cinta 2018

Entah bagaimana kekerabatan kedua proyek tersebut, tapi apabila diniati sebagai persembahan baik bagi Julia Perez maupun penderita kanker secara umum, Jejak Cinta bukan persembahan yang mengesankan. Pertama dari kalimat salah satu karakternya yang berbunyi, “Biasa, penyakit perempuan sekarang, kanker payudara”. Meski bukan pakar medis, saya yakin kanker payudara tidak ada hubungannya dengan “dulu” atau “sekarang”, pun sanggup menyerang laki-laki. Lain halnya dengan kanker serviks yang tumbuh di leher rahim sebagaimana diderita Julia Perez.

Berikutnya terkait Maryana (Prisia Nasution), puteri Julia Perez (hanya muncul lewat foto) yang khawatir penyakit yang merenggut nyawa sang ibu juga menurun kepadanya. Kekhawatiran itu terbukti. Kanker serviks juga dimiliki Maryana. Tenang, ini bukan spoiler, alasannya yaitu fakta itu (plus ending) telah diungkap oleh sinopsis resmi filmnya. Tapi jangankan menggambarkan usaha penderita kanker atau memberi edukasi, kondisi medis Maryana sama sekali tak mempengaruhi alur, yang takkan berubah meski kanker serviks digantikan penyakit lain. Seolah penyakit itu ada semoga filmnya sanggup menyebut dirinya “A tribute to Julia Perez”.

Jalannya Cerita Jejak Cinta 2018

Babak awal Jejak Cinta tolong-menolong bisa dinikmati, dikala mengikuti formula soal gadis kota yang mencar ilmu menyayangi kampung kemudian menemukan cinta. Selaku materi riset untuk desain pakaian yang akan ia kirim ke Berlin Fashion Week, Maryana pulang ke kampung halamannya di Singkawang guna meninjau batik-batik di sana. Di tengah perjalanan ia bertemu Hasan (Baim Wong), yang juga gres tiba untuk menjadi guru gres di sebuah SD. Pertemuan mereka penuh keklisean sarat kebetulan, tapi baik Prisia maupun Baim punya cukup pesona guna memberi warna di tengah barisan obrolan membosankan dari naskah goresan pena Faozan Rizal (juga menulis Kalam-Kalam Langit), yang tak pernah terdengar elok apalagi menghasilkan pemahaman lebih dalam mengenai karakternya.

Begitu membosankan, perhatian saya teralihkan ke subtitle yang luar biasa ngawur. Jejak Cinta sukses menorehkan prestasi sebagai film dengan terjemahan resmi terburuk yang pernah saya baca, bahkan lebih kacau dari terjemahan berbasis Google Translate yang sering tersedia di Subscene. Laki-laki dipanggil “her, perempuan dipanggil “him”, “tunggu sebentar” menjadi “WHITE a minute”, dan paling memancing tawa ketika “dahsyat-dahsyat” diterjemahkan menjadi “awesome-awesome”. Mungkin kalau penerjemahnya ditanya, “Can you speak English?”, ia akan menjawab “Little-little sih I can”.

Kekonyolannya tidak berhenti di urusan subtitle. Seiring waktu, dari romantika sederhana, duduk kasus demi duduk kasus pelik mulai hadir, menambah kompleksitas, di mana semakin rumit konflikya, semakin kacau dan menggelikan filmnya. Karakterisasi merupakan salah satu penyebab. Maryana awalnya yaitu perempuan kekinian yang enggan buru-buru menikah, mengutamakan karir, hanya untuk tiba-tiba ngebet menikahi Hasan yang belum usang beliau kenal. Keputusan itu diambil dikala filmnya gres menampilkan 2 momen kebersamaan singkat plus sebuah montase. Oh, jangan pula terlampau memikirkan profesi Maryana selaku desainer terkenal. Kita urung diperlihatkan satu pun hasil desainnya yang dilombakan di Berlin Fashion Week, suatu program kelas dunia yang di sini dikemas kolam peragaan busana kelas mall.

Sedangkan Hasan coba digambarkan sebagai laki-laki baik semenjak kemunculan pertamanya, ketika bersedia mengembalikan dompet dan sketchbook milik Maryana. Kebaikan Hasan makin menjadi sewaktu mantan kekasihya, Sarah (Della Wulan Astreani) muncul dalam kondisi batin yang hancur pasca sang ayah, Hendrawan (Mathias Muchus) dijebloskan ke penjara akhir tuduhan korupsi. Meyakini Hendrawan “bersih”, Hasan bersedia membantu termasuk mencarikan jasa pengacara.

Kawan-kawan, janganlah kita menjadi laki-laki menyerupai Hasan. Kebaikannya memang seolah tanpa pandang bulu, bersedia menolong dikala kebanyakan dari kita menganggap mantan merupakan bencana masa lalu. Namun bila hingga membohongi istri, tak bisa menafkahinya lantaran keluar dari pekerjaan demi membantu sang mantan, sering meninggalkan istri sendirian meski ia telah rela menetap di kampung, melepaskan hingar bingar ibukota sebagai desainer ternama, artinya kau suami tak tahu diri yang buta akan prioritas. Lebih abnormal (juga menggelikan) lagi ketika di atas pelaminan, pengacara yang Hasan sewa mendatangi Hasan, kemudian keduanya berbisik-bisik soal progres kasus Hendrawan. DI ATAS PELAMINAN, DI TENGAH PERNIKAHAN, TEPAT DI SEBELAH MEMPELAI WANITA! Sebagai film yang mengusung tajuk “Jejak Cinta”, jejak-jejak cinta kasih justru sukar ditemukan di sini.

Rabu, 26 Desember 2018

Ringkasan Cerita Filim Crazy Rich Asians 2018

Ringkasan Cerita Filim Crazy Rich Asians 2018

Ringkasan Cerita Filim Crazy Rich Asians 2018
Ringkasan Cerita Filim Crazy Rich Asians 2018

Ringkasan Cerita Filim Crazy Rich Asians 2018, Di luar menjadi film berlatar modern produksi studio besar Hollywood pertama yang lebih banyak didominasi pemainnya diisi jajaran pemain Asia semenjak The Joy Luck Club (1993), Crazy Rich Asians tidak berusaha membongkar pakem. Filmnya menerapkan formula komedi-romantis mengenai jatuh-bangun kekerabatan romansa, mencampurnya dengan formula lain ihwal “Cerita Cinderella” lengkap dengan momen makeover  yang bakal membuatmu berharap didatangi ibu peri beserta kereta labu ajaib. Adaptasi novel bestseller berjudul sama karya Kevin Kwan ini tak berusaha menjauh, tapi memperkaya, memperdalam, sekaligus mempercantik formula yang telah paten. Demikian, Crazy Rich Asians berpeluang membangkitkan komedi-romantis arus utama dari mati suri.

Crazy Rich Asians 2018

Aksi kucing-kucingan untuk mendapatkan pria/gadis idaman ditiadakan (setidaknya hingga babak akhir), diganti perjuangan merebut hati calon mertua. Rachel Chu (Constance Wu), gadis Cina-Amerika yang menjabat profesor ekonomi di New York University mendapatkan permintaan sang kekasih, Nick Young (Henry Golding) menghadiri ijab kabul sahabatnya, Colin Khoo (Chris Pang) dengan Araminta (Sonoya Mizuno) di Singapura, sekaligus bertemu ibunya, Eleanor (Michelle Yeoh). Satu hal yang Rachel belum ketahui, Nick merupakan anak sulung salah satu keluarga terkaya di sana.

Pesona Golding membuatnya tampak meyakinkan sebagai pewaris tahta dinasti keluarga terpandang dan figur publik idola, sementara Wu, menampilkan kepolosan yang seiring waktu berkembang jadi kepercayaan diri. Berdua, mereka membuat pasangan komedi-romantis sempurna, tapi tidak di mata Eleanor yang menyatakan keengganan mendapatkan Rachel lewat kesopnanan tutur yang menusuk. Tapi Eleanor bukan antagonis dangkal berupa sosok ibu kejam. Dia mengasihi Nick dan sebagai orang tua, sepenuhnya berhak mencurigai Rachel. Eleanor tidak jahat, melainkan tradisional.

Jalannya Cerita Crazy Rich Asians 2018

Karena di samping kemewahan lokasi, properti, pula busananya, Crazy Rich Asians bicara soal tradisi masyarakat Asia (termasuk Indonesia), yang mementingkan restu keluarga sebelum membawa kekerabatan ke tingkat lanjut. Sementara pihak keluarga menimbang “bibit, bebet, bobot”. Petuah “Menikahlah dengan orang yang satu ras/daerah /agama” seolah bergema sepanjang film. Rachel dianggap berbeda alasannya ialah merupakan Cina-Amerika, tidak “murni”, dan Amerika, atau negeri Barat secara umum, terlihat negatif bagi Eleanor. Mereka rela mengorbankan keluarga demi impian. Kata “mandiri” pun kolam bersinonim dengan “membuang keluarga”. Maka ketika Nick berkata, “I’ll figure it out ON MY OWN”, Eleanor merespon sinis, menyebutnya sebagai “aksen Amerika”.

Crazy Rich Asians tidak berusaha mencela perspektif Eleanor, melainkan mengajak penonton mengobservasi pemicunya, yakni tradisi panjang nan mengakar, yang mau tidak mau wajib Eleanor terima dan internalisasikan sebagai kepercayaannya sendiri. Michelle Yeoh memastikan di setiap respon hambar atau keheningan dengan senyum yang terasa intimidatif untuk calon menantu mana pun, terdapat lapisan lain. Eleanor hening di luar, namun pembawaan Yeoh membuat saya yakin bahwa di dalam, otaknya sibuk bekerja, mengkalkulasikan tiap opsi langkah layaknya pemain mahjong berpengalaman.

Mahjonng turut memainkan tugas di sebuah momen penting yang mempunyai kegunaan memberikan salah satu pesan utama filmnya: proses mengenali. Pertama kali kita bertemu Rachel, ia sedang mengajar di kelas, menawarkan kepada murid-muridnya jikalau kunci kemenangan dalam permainan apa pun ialah mengenali lawan. Itu pula yang terjadi sepanjang film. Permainan. Guna memenangkannya, Rachel—atau siapa saja yang mencari kelanggengan hubungan—mesti mengenali sang lawan, entah itu si calon mertua, atau sang kekasih sendiri. Crazy Rich Asians dipenuhi konflik serupa, ketika belakang layar dan ketidaktahuan berujung membuat masalah.

Di Singapura, bukan Eleanor saja lawan Rachel, wanita-wanita sosialita pemuja Nick yang cemburu melihat si pangeran idola jatuh ke pelukannya pun jadi rintangan. Beruntung, Rachel ditemani beberapa mitra yang selalu siap sedia memberi dukungan. Salah satunya Peik Lin, sahabat Rachel semasa kuliah, yang berkat keeksentrikan Awkwafina, menjadi sumber tawa. Apabila Peik Lin ialah “Asian Ellen”, maka Gemma Chan sebagai Astrid, saudari Nick sekaligus ikon fashion Singapura, bagaikan “Asian Audrey Hepburn”. Glamor, memesona, mengenakan gaun serta pemanis glamor ketimbang “dikenakan” oleh mereka. Keduanya, juga tokoh pendukung lain termasuk ibunda Rachel, Kerry (Tan Kheng Hua), memegang tugas penting dalam perjalanan protagonis kita memahami kalau ia harus gembira akan dirinya, kemudian memanfaatkan seluruh talentanya semoga menjadi kekuatan. The Cinderella doesn’t needs a fairy in this fairy tale.

Anda mungkin sudah mendengar puja-puji bagi adegan ijab kabul film. Saya pastikan puja-puji tersebut tidaklah berlebihan. Pernikahan Colin-Araminta  adalah adegan terbaik Crazy Rich Asians, pula salah satu momen film terindah sepanjang tahun. Pertama, tentu saja berkat hasil kerja menakjubkan departemen artistik yang turut melibatkan bakat lokal, Teddy Setiawan (Beirut) sebagai drafter. Diceritakan ijab kabul itu memakan biaya $40 juta, lebih mahal dari bujet $30 juta milik filmnya. Namun ketika kreativitas mengambil alih, tiada yang mustahil. Rerumputan dan bunga-bunga di kapel hingga tongkat bercahaya yang digenggam masing-masing tamu menghasilkan nuansa surgawi. Hasil karya di momen-momen lain tak kalah memikat, termasuk dekorasi ruang kelas satu pesawat yang mesti dibangun dari nol jawaban maskapai Singapore Airlines menolak proposal kerja sama.

Sutradara Jon M. Chu (Step Up 3D, Justin Bieber: Never Say Never, G.I. Joe: Retaliation) sudah terbiasa menangani film berbasis parade visual, tapi pada pengikatan kesepakatan suci Colin-Araminta, Chu pertanda ia bukan saja andal mengkreasi gambar cantik. Penyutradaraannya mewakili keyakinan bahwa ijab kabul itu sakral. Chu menghasilkan nuansa yang nyaris mystical (dan pastinya magical). Puncaknya ketika kapel dialiri air dan Chu menghentikan semua sumber bunyi termasuk iringan manis Can’t Help Falling in Love versi Kina Grannis. Keheningan magis yang sulit ditandingi film lain tahun ini pun merobohkan pertahanan emosi saya. Pernikahan ini tidak hanya perihal festival visual, juga interaksi karakter, dari bisikan “I love you” dua protagonis hingga kedatangan Astrid bersama sang nenek (Lisa Lu), menampakkan ragam wujud cinta, baik antar-kekasih juga keluarga.

Crazy Rich Asians ialah film yang bertujuan mengembangkan kebahagiaan, entah melalui romansa manis dan uplifting-nya, komedi segar, enegi, maupun keglamoran yang bersinar jelas berkat kerja luar biasa departemen artistiknya. Mengikuti formula, di atas permukaan kisahnya takkan terlihat spesial, namun sebagaimana karakternya lakukan, cobalah mencari tahu, mengenali lebih lanjut. Amati, dapatkan pemahaman lebih lanjut, dan anda bakal menemukan berlian yang sama menyilaukannya dengan koleksi Astrid.

Jumat, 21 Desember 2018

Ringkasan Cerita Filim Belok Kanan Barcelona 2018

Ringkasan Cerita Filim Belok Kanan Barcelona 2018

Ringkasan Cerita Filim Belok Kanan Barcelona 2018
Ringkasan Cerita Filim Belok Kanan Barcelona 2018

Belum ada film yang bisa membawa saya dalam korelasi cinta/benci menyerupai Belok Kanan Barcelona. Saya menyayangi caranya menuturkan betapa cinta sanggup mendorong seseorang berkorban meski harus menembus batas jarak dan waktu. Saya menyayangi caranya mendefinisikan “cinta sejati” sebagai seseorang yang selalu ada di samping pujaan hatinya tanpa memaksa balik dicintai. Saya pun menyayangi masing-masing abjad utamanya. Namun saya membenci ketika narasinya mulai terjun ke cuilan agama bahkan terkesan offensive di beberapa titik.

Belok Kanan Barcelona 2018

Mengadaptasi novel Traveler’s Tale: Belok Kanan Barcelona karya Adhitya Mulya, Ninit Yunita, Alaya Setya, dan Iman Hidayat, filmnya mengisahkan persahabatan Francis (Morgan Oey), Retno (Mikha Tambayong), Yusuf (Deva Mahenra), dan Farah (Anggika Bolsterli) yang sekarang tinggal terpisah di empat negara berbeda. Francis yaitu pianis pemenang Grammy pertama asal Indonesia yang sekarang menetap di Los Angeles, Retno mengejar impiannya menjadi chef di Copenhagen, Yusuf mulai mendulang sukses di perusahaan di Cape Town, sedangkan Farah bekerja sebagai arsitek di Vietnam. Undangan ijab kabul Francis dengan Inez (Millane Fernandez) di Barcelona memberi mereka alasan untuk bertemu lagi, walau satu sama lain tak mengetahui intensi tersebut.

Jalannya Cerita Belok Kanan Barcelona 2018

Semua bermula dari masa SMA, tatkala persahabatan keempatnya mulai bersemi, demikian pula cinta. Francis menyukai Retno pun sebaliknya, Farah yang jadi daerah curhat Retno juga tertarik pada Francis, sementara Yusuf, si “penyedia bahu” bagi kesedihan Farah, turut belakang layar memendam rasa kepadanya. Apabila banyak film kita memposisikan kelulusan Sekolah Menengan Atas selaku pembuka, Belok Kanan Barcelona menempatkannya di tengah, sesudah terlebih dulu membawa penonton mengarungi flashback yang menyoroti dinamika empat tokoh utama semasa SMA, memantapkan pondasi abjad beserta persahabatan mereka. Naskah yang disusun Adhitya Mulya (Jomblo, Shy Shy Cat) apik dalam mempresentasikan manis sekaligus pahitnya menyayangi mitra sendiri, ketika pengungkapan perasaan kolam haram hukumnya demi menjaga kelanggengan pertemanan.

Departemen akting merupakan elemen terkuat filmnya. Morgan kharismatik menyerupai biasa sehingga gampang mendapatkan ketika Francis disukai dua gadis manis walau detail penokohannya tak seberapa digali (baca: ia terkenal lantaran ganteng dan keren). Mikha mencurahkan emosi yang cukup meyakinkan untuk menjadkan ini performa terbaik sepanjang karirnya, tatkala Deva hasilnya memperoleh bahan yang pas guna memfasilitasi bakat komediknya. Tapi magnet terbesar berasal dari Anggika melalui formasi verbal asing dan ketiadaan urat aib dalam berlagak konyol termasuk merangkak di aspal, Farah merupakan tugas yang bakal membuka lapang jalannya meraih status bintang kelas satu.

Sampai sini, Belok Kanan Barcelona bisa jadi salah satu film Indonesia terbaik 2018. Tontonan yang konsisten memberi tawa dalam pengalaman menonton menyenangkan. Penyutradaraan Guntur Soeharjanto (99 Cahaya di Langit Eropa, Ayat-Ayat Cinta 2) pun cukup efektif membuat adegan emosional ketika melukiskan momen “crack-and-heal” suatu persahabatan.  Berbeda dibanding caranya menangani 2 film 99 Cahaya di Langit Eropa, latar luar negeri urung dieksploitasi sebagai lokasi basuh mata belaka, melainkan panggung pembuktian bahwa kekuatan cinta bisa mendorong seseorang melintasi dunia.

Mengesankan, sampai elemen religi menggedor masuk, yang awalnya dipicu perbedaan iman Francis dan Retno. Saya suka sebaris kalimat ucapan ayah Retno (Cok Simbara) yang kurang lebih berbunyi, “Apa kau tega membuat Francis harus menentukan antara kau (Retno) atau Tuhannya?”. Itu cara lembut untuk berkata “Jangan memacari orang berbeda agama”. Saya tak menyalahkan perspektif tersebut, alasannya yaitu kenyataannya, hal itu sulit dijalani di Indonesia. (Spoiler starts here) Saya pun tak mempermasalahkan konklusi sewaktu Francis hasilnya memeluk Islam. Apa pun alasannya (sebatas untuk menikah atau memang iman personal), itu cara paling kondusif biar bisa menghabiskan hidup bersama.

Masalah mencuat ketika Belok Kanan Barcelona melukiskan orang Islam sebagai pemeluk agama luar biasa taat yang enggan berpindah iman demi ijab kabul dan bersedia solat di tengah padang pasir, tetapi sebaliknya, Pastor dan Suster di tengah situasi mengancam kala mesin pesawat yang ditumpang meledak, malah bertingkah konyol, saling menyatakan cinta, merengek alih-alih memanjatkan doa, sesudah sepanjang perjalanan diperlihatkan sebagai orang-orang menyebalkan yang tak mempedulikan sekitarnya. Apabila cuma memunculkan salah satu (Muslim luar biasa taat atau mengolok-olok Pastor sebagai bahan komedi), tidak jadi masalah. Namun ketika dihadirkan bersamaan, secara otomatis tercipta komparasi jomplang yang begitu mengganggu. Sengaja atau tidak, hal itu pertanda ketidakpekaan para pembuatnya.

Senin, 17 Desember 2018

Ringkasan Cerita Filim Aruna & Lidahnya 2018

Ringkasan Cerita Filim Aruna & Lidahnya 2018

Ringkasan Cerita Filim Aruna & Lidahnya 2018
Ringkasan Cerita Filim Aruna & Lidahnya 2018

Saya teringat satu adegan Ada Apa Dengan Cinta 2 ketika Cinta belakang layar tersipu di samping Rangga yang tengah menyetir. Momen itu mengatakan kepiawaian Dian Sastrowardoyo bertutur secara non-verbal dalam situasi menggelitik. Aruna & Lidahnya, yang merupakan pembiasaan novel berjudul sama karya Laksmi Pamuntjak mudah menampilkan bagaimana jadinya apabila adegan beberapa detik itu dijadikan suguhan 106 menit. Hasilnya sedap, bahkan lebih sedap dari piring demi piring kuliner yang mempunyai screentime lebih banyak dibanding beberapa pemainnya sekalipun.

Aruna & Lidahnya 2018

Kali ini Dian memerankan Aruna, epidemiologist (ahli wabah) yang oleh kantornya ditugaskan melaksanakan pemeriksaan terhadap wabah flu burung di banyak sekali kawasan Indonesia, sembari secara bersamaan melaksanakan wisata masakan bersama sahabatnya, Bono (Nicholas Saputra), yang berprofesi sebagai chef. Seiring perjalanan, turut hadir Nadezhda (Hannah Al Rashid), penulis kuliner yang selama ini tinggal di luar negeri, juga Farish (Oka Antara) yang ditugaskan membantu investigasi. Sejak dulu Aruna menyimpan perasaan lebih kepada Farish, sebagaimana Bono juga menyukai Nadezhda.

Berbasis naskah garapan Titien Wattimena (Salawaku, Dilan 1990), Edwin yang tahun kemudian gres saja memenangkan “Sutradara Terbaik” pada Festival Film Indonesia, membawa keempat tokohnya dalam perjalanan separuh road movie separuh food porn guna berguru soal kehidupan pula cinta yang dijembatani oleh rasa. Serupa judulnya yang mengandung kata “lidah” selaku indera perasa, “rasa” memang memainkan peranan penting di sini.

Jalannya Cerita Aruna & Lidahnya 2018

Dibayangi patah hati tanggapan cintanya pada Farish yang tak kesampaian ditambah kepenatan kerja, Aruna bagai mati rasa. Di awal film, ia mendeklarasikan bahwa untuk menyantap kuliner enak tidak perlu melibatkan romantisasi berupa keharusan menikmatinya bersama orang spesial. Menutup hatinya, pengecap Aruna pun turut kehilangan kemampuan mengecap rasa makanan, termasuk masakan kelas wahid buatan Bono. Melalui perjalanan ini, ia mulai coba pelan-pelan berguru mencicipi lagi, baik dengan pengecap maupun hatinya.

Naskahnya rapi merajut subteks yang sejatinya tak seberapa subtil di atas, yang seluruhnya, termasuk sempilan subplot perihal pencarian resep “nasi goreng bibi”, bermuara menuju kesimpulan bahwa rasa paling paripurna sejatinya bersumber dari orang-orang tercinta. Sementara pemeriksaan terhadap perkara flu burung memberi kesempatan filmnya menyentil beberapa warta sosial sekaligus menarik benang merah perihal “rahasia”, suatu hal yang nampaknya begitu digemari para karakternya. Anda akan tahu rahasia apa saja yang dibawa pemeriksaan ini sehabis menonton filmnya.

Fokus utamanya tetap berkutat dalam 3 poin: pencarian rasa, romansa, dan makanan. Sayang, romansanya tidak semeyakinkan poin yang disebut pertama. Mengapa hati Aruna urung beranjak dari Farish—si laki-laki kaku sekaligus judes—bahkan ketika reuni mereka diawali dengan kurang menyenangkan? Selain berparas rupawan, apa yang Istimewa dari Farish? Sedangkan korelasi Bono-Nadezhda belum bisa mencapai potensinya menjadi subplot yang mendukung tema “pencarian rasa” sewaktu presentasinya sendiri tidak pernah tampil emosional. Pertanyaannya sama. Mengapa (apabila kesannya mendapatkan cinta Bono) Nadezhda bersedia menghentikan petualangan cintanya?

Tapi berkat jajaran cast kelas satunya, kelemahan tersebut tidak pernah terlalu mengganggu. Interaksi keempatnya menyenangkan disimak, entah ketika membicarakan makanan, mengaitkannya dengan bermacam-macam sendi kehidupan (yang dirangkai oleh dialog-dialog “kaya”), atau sekedar melontarkan canda. Apalagi Dian dan Nic, yang sehabis bertahun-tahun dipandang sebagai pasangan legendaris perfilman Indonesia, nampak demikian gampang menjalin chemistry natural. Saya takkan terkejut jika beberapa obrolan merupakan hasil improvisasi di mana Edwin membiarkan keduanya berinteraksi bebas.

Dian yaitu energi terbesar Aruna & Lidahnya, dengan ekspresi non-verbal quirky sebagai senjata andalan, tatkala Aruna, secara rutin sekaligus diam-diam, merespon omongan atau tingkah aksara lain. Mungkin Aruna bukan pertunjukkan akting terbaik Dian, namun terang aksara paling berwarna, paling dinamis, paling kaya rasa, dan pastinya paling lucu sepanjang karirnya. Pun penampilan sang aktris mendukung pemakaian metode breaking the fourth wall yang filmnya terapkan supaya penonton merasa lebih akrab dengan Aruna. Tentu keberhasilan itu juga berkat pengetahuan Edwin mengenai cara memanfaatkan keunggulan aktisnya, walau ketika dihadapkan pada makanan, nyatanya sang sutradara belum seberapa mumpuni.

Ditangkap oleh kamera Amalia TS (Tabula Rasa, Galih & Ratna) selaku sinematografer, aroma, apalagi tekstur masakan belum sepenuhnya berhasil diterjemahkan dalam bahasa visual. Apabila anda merasa lapar (seperti saya) ketika menontonnya, itu bukan dikarenakan pencapaian artistik filmnya, melainkan “Siapa yang tidak berliur melihat kuliner sedemikian banyak selama hampir 2 jam?”. Setidaknya Aruna & Lidahnya bisa mengenalkan ragam masakan khas daerah-daerah yang dikunjungi, sehingga besar kemungkinan pasca menyaksikannya, para penonton tertarik berburu makanan-makanan yang ada.
Menebus kelemahannya membungkus food porn, Edwin memamerkan cara uniknya bersenda gurau. Setelah menerapkan pendekatan “normal” melalui Posesif, inilah film di mana visi (for lack of a better word) abstrak yang ia bangkit semenjak bermain-main di ranah sureal dahulu, berpadu apik dengan hiburan arus utama guna menghasilkan perjalanan mengasyikkan. Dari “adegan burung mati” hingga dua sekuen mimpi, yaitu bukti keberhasilan Edwin menemukan formula yang memfasilitasi signature-nya tanpa mengalienasi penonton umum. Wisata masakan (atau investigasi?) mungkin tak sedalam yang diniati, namun kelezatannya terang sukar ditolak.

Sabtu, 15 Desember 2018

Ringkasan Cerita Filim Something In Between 2018

Ringkasan Cerita Filim Something In Between 2018

Ringkasan Cerita Filim Something In Between 2018
Ringkasan Cerita Filim Something In Between 2018

Something In Between 2018, Untuk pertama kalinya, romana produksi Screenplay Films bisa tampil menyentuh hati. Naskah karya Titien Wattimena (Aruna & Lidahnya, Dilan 1990, Tanda Tanya) dan Novia Faizal (Cinta Tapi Beda, Heart Beat) bertindak selaku pembeda. Apabila naskah di film-film sebelumnya yang digarap oleh Tisa TS memperlakukan patah hati atau tragedi, semata sebagai alat biar para pemain mengalirkan air mata sederas mungkin, musik mengalun sekeras mungkin, sementara di bangku sutradara, Asep Kusdinar (Magic Hour, London Love Story, Promise) berkesempatan mengeksploitasi gerak lambat demi imbas dramatis.

Something In Between 2018

Tapi dalam Something in Between, insiden menyedihkan bertugas memicu imbas domino berupa tersulutnya emosi-emosi lain, termasuk yang bersifat positif. Titien dan Novia melaksanakan itu tanpa menjauh dari gaya khas Screenplay Films, menyerupai obrolan puitis dan twist dramatis, yang kali ini disertai bumbu fantasi (we’ll get into that later). Pasangan pemeran utamanya pun masih diisi wajah familiar, yakni Jefri Nichol dan Amanda Rawles, yang sebelum ini telah bersama di 4 film (tidak termasuk cameo), serta bakal kita jumpai lagi pada selesai bulan ini lewat Dear Nathan Hello Salma.

Saya tidak bisa banyak menuliskan alurnya, alasannya yaitu mengungkap kejadian selepas 20 menit pertama saja berpotensi spoiler. Pastinya, dalam Something in Between ada seorang perjaka yan tetapkan kembali ke Indonesia dari London sesudah ia terus bermimpi wacana sebuah daerah dan seorang gadis. Dari sana, kita dibawa melihat pemandangan familiar: Jefri Nichol dan Amanda Rawles memerankan sepasang siswa-siswi Sekolah Menengan Atas yang saling cinta.

Jalannya Cerita Something In Between 2018

Tidak ada alasan berpengaruh mengapa Gema (Jefri Nichol) begitu kepincut pada Maya (Amanda Rawles), alasannya yaitu keduanya pun jarang berinteraksi, salah satunya lantaran mereka berasal dari kelas yang berbeda. Gema yaitu murid kelas reguler, sementara Maya anak kelas unggulan. Menariknya, naskah film ini menyadari ketiadaan alasan tersebut, bahkan menjadikannya materi pembicaraan. Gema sendiri beralasan kalau “Menyukai Maya lantaran tampak luarnya saja sudah sekuat ini, apalagi menyayangi dalamnya?”. Tidak masuk nalar memang. Tapi begitulah cara kerja cinta SMA.

Bicara romantika milik Screenplay Films sama saja bicara tuturan lisan gombal. Something in Between menekan obrolan (sok) puitisnya hingga ke takaran yang sanggup dikonsumsi secara aman, walau beberapa kalimat ditambah sikap antik Gema guna merebut hati Maya sesekali masih terasa cringey. Beruntung, Jefri dan Amanda memainkan “interaksi gulali” Gema-Maya melalui cara yang menyenangkan, sehingga saya pun menikmati keberamaan keduanya.

Melewati satu jam pertama, tensi sempat anjlok seiring permasalahan yang semakin menipis, sementara tingkah-tingkah unik Gema mulai menjadi pisau bermata dua. Berkat Dilan dan Nathan, metode rayuan tidak lazim kembali terkenal di dongeng cinta Sekolah Menengan Atas perfilman kita. Di sini, “proposal cinta” dan “kue ulang tahun” dari Gema sanggup membuat nuansa manis. Namun kemudian ia melangkah terlalu jauh, dan pada sebuah momen (anda akan tahu yang mana), “kreativitas” miliknya mulai terasa kolot ketimbang romantis. Sayangnya momen tersebut turut berposisi sebagai titik balik dramatis filmnya, sehingga proses “banting setir” itu berlangsung kurang mulus, tak semudah itu diterima.

Perihal elemen fantasi, lagi-lagi saya tak bisa menjabarkan detailnya. Elemen tersebut memang berfungsi sebagai twist, tapi naskahnya bukan (cuma) mementingkan imbas kejut, juga mengakibatkan elemen fantasi itu sebagai alat memainkan drama emosional seputar korelasi berbasis memori antara karakter. Memori yang memberi bobot rasa, bukan saja terkait urusan romansa, pula pertemanan dan keluarga. Dalam pengemasannya, alih-alih mengharu biru secara berlebihan sebagaimana biasa, kali ini penyutradaraan Asep Kusdinar lebih sederhana, membiarkan jajaran pemain, khususnya para pendukung, mengatrol kekuatan adegan.

Dari Yayu Unru sebagai penjaga sekolah, hingga Surya Saputra dan Djenar Maesa Ayu yang memerankan orang bau tanah Maya, semua menerima kesempatan mengaduk-aduk perasaan penonton. Hadir pula Slamet Rahardjo, memerankan Pak Bagus si Kepala Sekolah yang hampir tiap kalimatnya terdengar menggelitik. Sejak Slamet Rahardjo di The Perfect Husband yang rilis April lalu, romansa produksi Screenplay Films memang mulai menampilkan aktor-aktor berpengalaman, yang terbukti merupakan keputusan tepat. Mari menantikan Christine Hakim dalam Dancing in the Rain bulan depan.

Andai bukan lantaran ending-nya, Something in Between takkan berhenti hanya sebagai persembahan terbaik Screenplay Films sejauh ini, bahkan layak disebut salah satu film Indonesia terbaik sepanjang tahun. Ending-nya inkonklusif, terburu-buru mengakhiri dongeng sebelum memberi resolusi memuaskan yang berpotensi membawa emosi menuju puncak. Ada kesan semuanya disimpan untuk materi sekuel. Bukan keputusan bijak. Selain melucuti kekuatan filmnya, melihat perolehan penonton hari pertama yang cukup rendah, saya mencurigai sekuelnya bakal segera diproduksi. Sayang sekali.

Kamis, 13 Desember 2018

Ringkasan Cerita Filim On Your Wedding Day 2018

Ringkasan Cerita Filim On Your Wedding Day 2018

Ringkasan Cerita Filim On Your Wedding Day 2018
Ringkasan Cerita Filim On Your Wedding Day 2018

Industri perfilman Korea Selatan makin melesat pesat. Film dengan substansi mendalam berjaya di ekspo tingkat dunia, sementara blockbuster-nya membesar, baik dari skala maupun kualitas. Tanpa sadar, semakin jarang pula kita menerima romansa melodrama yang dahulu menata gambaran sinema Korea di mata dunia. Sehingga On Your Wedding Day yang kembali mempertemukan Park Bo-young dan Kim Young-kwang semenjak Hot Young Bloods (2014) pun bagai penyegaran. Sebuah film yang mengedepankan pesona kedua pemain drama utama serta pemahamannya soal hubungan percintaan.

Segalanya amat sederhana, dan bakal gampang menebak peristiwa-peristwa apa yang hendak menyusul. Tapi keberhasilan membuat pasangan yang lovable, juga kepiawaian Lee Seok-geun—yang gres menjalani debut penyutradaraan di sini—membungkus momentum, kesan formulaik bukan lagi masalah. Bagai tengah dimabuk asmara, enggan memusingkan hal-hal di depan, menentukan terhanyut bersama anutan momen yang kelak membentuk kenangan.

On Your Wedding Day 2018

Kita diperkenalkan pada Hwang Woo-yeon (Kim Young-kwang), siswa biang onar yang selalu berkelahi, dan selalu berujung mendapatkan eksekusi para guru. Suatu hari, di tengah “rutinitas” tersebut, beliau bertemu siswi pindahan berjulukan Hwan Seung-hee (Park Bo-young). Seung-hee sendiri bukan gadis yang inferior di hadapan Woo-yeon. Walau cerdas, rajin, pula punya nilai baik, ia gemar membolos, secara kasual membicarakan hal-hal “jorok” bahwa menjadikannya materi candaan sampai membuat wajah Woo-yeon si pembuat duduk kasus sekolah merah padam.

Jalannya Cerita On Your Wedding Day 2018

Tapi itulah alasan Woo-yeon terpikat pada Seung-hee, dan aku terpikat pada kebersamaan mereka. Keduanya mengobrol, melaksanakan kenakalan, tertawa, bertengkar (in a cute way), dan terpenting, sadar atau tidak, saling memperbaiki satu sama lain. Woo-yeon terdorong untuk berhenti sabung bahkan berguru keras semoga diterima di universitas ternama demi Seung-hee, sedangkan Seung-hee menyadari bahwa Woo-yeon selalu bersamanya kala ia menghadapi bermacam kesulitan. Elemen itu cukup menjadi pondasi bagi konflik berikutnya. Seperti telah diungkap tagline di poster, akan datang ketika Woo-yeon mesti mengejar cintanya selama 10 tahun. Ya, Woo-yeon dan Seung-hee terpisah, tapi berkat permainan misterius berjulukan “takdir”, mereka bertemu lagi, terpisah lagi, bertemu lagi, dan seterusnya. Tapi Woo-yeon tetap menanti.

Merangkum proses satu dekade, yang pastinya melibatkan banyak peristiwa, naskah buatan Lee Seok-geun menjatuhkan pilihan sempurna pada hal mana yang perlu dan tidak perlu dimasukkan. Tidak ada yang terbuang percuma ketika tiap adegan berperan melengkapi proses dua tokoh utama, baik sebagai pasangan atau individu manusia, khususnya kala di usia dewasa, mereka mulai menyadari bahwa sebuah hubungan lebih dari sekedar kencan demi kencan. On Your Wedding Day tahu mengapa hubungan romansa terasa indah, menyakitkan, dan terpenting, layak diperjuangkan. Dan di satu titik, usaha itu bukan soal “mengejar cinta”, melainkan merelakannya, yang mana merupakan usaha terberat. Film ini memahami pentingnya memori, baik yang bersifat abnormal alias hanya ada dalam ingatan, atau faktual berbentuk tanda mata.

Hanya terdapat satu duduk kasus di sini. Filmnya terlalu mencerminkan karakter-karakternya. Sehingga ketika jiwa mereka tidak lagi membara, terjerumus menuju masa gelap (yang urung menjadi terlampau gelap), juga kehilangan tawa, energi milik On Your Wedding Day turut melemah. Untungnya duet Park Bo-young-Kim Young-kwang memiliki cukup kekuatan untuk mengangkat filmnya. Di balik sosoknya sebagai biang onar, Young-kwang bisa meyakinkan aku bahwa kengototannya bukan verbal obsesi terhadap si perempuan pujaan, melainkan ungkapan cinta tulus. Sedangkan Bo-young dengan kemampuan menangani tokoh dengan kepribadian kaya warna menyebabkan Seung-hee sosok yang pantas diperjuangkan.

Penyutradaraan Seok-geun memancarkan sensitivitas berpengaruh dalam merangkai adegan dramatis, entah bernuansa bahagia, romantis, atau sedih, menampilkannya secara indah, yang menguatkan gugusan kalimat elok dari naskah ciptaannya. Ketika Woo-yeon berkata bahwa separuh populasi perempuan di seluruh Korea tak berarti alasannya ialah mereka bukanlah Seung-hee, atau sewaktu konklusinya menyingsing, aku bagai diajak mengenang beberapa memori pribadi, mengiyakan, sambil mengangguk dengan senyum di bibir dan air mata yang mengalir, bahwa sejatinya cinta memang indah.

Senin, 10 Desember 2018

Ringkasan Cerita Filim Bollywood Loveyatri 2018

Ringkasan Cerita Filim Bollywood Loveyatri 2018

Ringkasan Cerita Filim Bollywood Loveyatri 2018
Ringkasan Cerita Filim Bollywood Loveyatri 2018

Sebelum menggunakan judul Loveyatri alias “Love Travellers” atau "A Journey of Love", film ini bertajuk Loverartri, yang menggabungkan kata “Love” dan “Navrartri”, yakni ekspo sepanjang 9 malam selaku penghormatan terhadap Dewi Durga, di mana orang-orang berkumpul menarikan tarian Garba. Judul tersebut urung dipakai jawaban gencarnya protes organisasi keagamaan Vishva Hindu Parishad, walau gotong royong tepat mewakili apa yang filmnya coba sampaikan.

Tokoh utamanya berjulukan Sushrut atau sering dipanggil Susu (Aayush Sharma), perjaka badung dari keluarga kelas menengah ke bawah yang mengabdikan hidupnya mengajar Garba bagi anak-anak, walau sebagaimana sang ayah katakan, tarian tersebut hanya dilakukan setahun sekali selama 9 hari, sehingga kurang tepat menggantungkan masa depan terhadapnya. Namun dalam jangka waktu singkat, di tengah Garba yang ia puja, Susu menemukan cintanya. Michelle (Warina Hussain) namanya, puteri pengusaha laundry kaya raya sekaligus siswi berprestasi di London.

Captain Marvel Akan Meramaikan Deretan Filim SuperHero Awal Maret 2019 Mendatang

Loveyatri 2018

Mereka berasal dari kelas ekonomi serta budaya berbeda. Susu hidup bersama kultur lokal India, sementara Michelle menjalani gaya hidup Barat, pula dididik oleh ayahnya, Sam (Ronit Roy) untuk mengejar kesukesan materi. Tapi Navrarti menyatukan keduanya, atau bisa dikatakan bahwa budaya menjembatani cinta mereka. Di tengah tarian, di antara ratusan insan yang tumpah ruah, Susu bertemu Michelle, dan sungguh impresi pertama yang luar biasa, baik bagi Susu maupun saya. Bukan saja alasannya Warina Hussain berparas cantik, Abhiraj Minawala si sutradara debutan pun bisa menangkap pesona memancar sang aktris kala ia menari dan tersenyum.

Dibantu dua sahabanya, Rocket (Sajeel Parakh) dan Negative (Pratik Gandhi), Susu menjalankan rencana konyol namun terstruktur buatan pamannya, Rasik (Ram Kapoor), demi merebut perhatian Michelle. Rencana itu sukses besar. Susu dan Michelle mulai berkomunikasi, jatuh cinta, menghabiskan 9 hari bersama sebelum sang gadis mesti pulang ke London. Tentu perpisahan di paruh pertengahan ini takkan berlangsung mulus. Susu mengacau, kemudian membawa Loveyatri memperlihatkan satu lagi aspek kultur India, kali ini terkait kultur terkenal di Bollywood. Kultur di mana tokoh utama film romansa bersedia menahan derita, berkorban apa saja atas nama cinta.

Ringkasan Cerita Filim Bollywood Andhadhun 2018

Jalannya Cerita

Susu melaksanakan hal serupa, yang merujuk pada ucapan Rasik di sebuah kafe di London, ialah tindakan yang mengikuti jejak sederet bintang film besar Bollywood, sebutlah Sha Rukh Khan, Amir Khan, hingga Salman Khan yang di sini turut berperan sebagai produser. Sayangnya Loveyatri melewatkan kesempatan menciptakan penonton ikut menyayangi romansa dua tokoh utama tatkala kebersamaan mereka disusun atas keklisean montase romansa serta dialog-dialog dangkal hasil goresan pena Niren Bhatt. Pun sebagai film berdurasi 139 menit, Loveyatri tak menyimpan cukup konflik demi merangkai penceritaan padat juga dinamis.

Beruntung, tiap kehampaan nyaris memunculkan kantuk, sekuen musikalnya senantiasa hadir selaku penyelamat. Mengandalkan desain produksi meriah beserta lagu catchy berbalut iringan perkusi energik dan performa penuh gairah Aayush Sharma yang menutupi kapasitasnya melakoni momen dramatik yang kurang kuat, Loveyatri bisa memperlihatkan kebahagiaan. Ditambah lagi beberapa humornya sukses mendarat tepat sasaran, salah satunya ketika Sam melontarkan permainan kata menggelitik bagi The Lord of the Rings.

Resolusi yang ditawarkan oleh kisah cinta sarat pengorbanan ini sayangnya kental simplifikasi. Loveyatri melemparkan konflik rumit hanya untuk mengakhirinya melalui jalan luar biasa gampang (tengok cameo Arbaaz Khan  dan Sohail Khan). Untunglah sang penyelamat (baca: musikal) tiba lagi. Sewaktu filmnya ditutup lewat sekuen musikal meriah di suatu taman di London, bagaimana bisa saya menolak untuk tersenyum kemudian pulang dengan perasaan senang meskipun keseluruhan Loveyatri kurang berhasil mengaduk-aduk perasaan?

Baca Juga : Berita Terkini Tentang FIlim Avengers 4

Ringkasan Cerita Filim Adrift 2018

Ringkasan Cerita Filim Adrift 2018 Ringkasan Cerita Filim Adrift 2018 Ringkasan Cerita Filim Adrift 2018, Sepasang kekasih ( or soo-...