Tampilkan postingan dengan label Korean Movie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Korean Movie. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Januari 2019

Ringkasan Cerita Filim Along With The Gods: The Last 49 Days 2018

Ringkasan Cerita Filim Along With The Gods: The Last 49 Days 2018

Ringkasan Cerita Filim Along With The Gods: The Last 49 Days 2018
Ringkasan Cerita Filim Along With The Gods: The Last 49 Days 2018

Ringkasan Cerita Filim Along With The Gods: The Last 49 Days 2018, Dwilogi Along with the Gods, yang mengadaptasi webtoon berjudul sama karya Joo Ho-min, yaitu sajian yang mengandung nyaris segala elemen kegemaran penonton arus utama, sehingga tidak heran, The Two Worlds menjadi film Korea Selatan terlaris kedua sepanjang masa dengan lebih dari 14 juta penonton, sedangkan sekuelnya sudah ditonton 10,5 juta orang dalam 2 minggu. Selain diisi agresi berhiaskan CGI, keduanya menyimpan senjata andalan masing-masing. Apabila film pertama sarat drama mengharu biru, The Last 49 Days penuh sesak oleh twist. Begitu banyak, jikalau anda tipe penonton dengan prinsip “makin ceritanya nggak ketebak makin bagus”, sanggup saja ini menjadi salah satu film terbaik sepanjang tahun. Karena di sini, nyaris setiap jalan dan balasan seolah harus menghasilkan kejutan tanpa mempedulikan substansi.

Along With The Gods: The Last 49 Days 2018

Kim Yong-hwa (Mr. Go, Along with the Gods: The Two Worlds) selaku sutradara sekaligus penulis naskah bagai berhasrat menumpahkan pandangan gres besar sebanyak mungkin namun gres memikirkan penjabarannya di belakang. Hal ini berlaku juga bagi plot device-nya, di mana satu lagi Paragon muncul, yaitu Kim Soo-hong (Kim Dong-wook), adik protagonis film pertama, Kim Ja-hong (Cha Tae-hyun). Tapi tugas Soo-hong tak sepenting kakaknya, sesuatu yang bahkan karakternya sendiri sadari dan ungkapkan. Keberadaan Soo-hong semata guna memfasilitasi eksplorasi menuju masa kemudian tiga malaikat kematian: Gang-rim (Ha Jung-woo), Haewonmaek (Ju Ji-hoon), dan Lee Deok-choon (Kim Hyang-gi). Pertanyaannya, pantaskah Soo-hong disebut Paragon sehabis sempat mengacau sebagai arwah penasaran?

The Last 49 Days 2018

Untuk itu, Kim Yong-hwa mengatakan retcon terkait definisi Paragon yang bukan lagi sekedar “sosok mulia”, melainkan “An entity who led a just life or suffered and untimely death for an unknown reason before his allotted span of life”. Definisi tersebut berujung mengubah jalannya persidangan di tujuh neraka, yang bukan lagi perihal menandakan kebersihan hati, tapi perdebatan wacana alasan kematian. Apakah Soo-hong tewas akhir kecelakaan atau dibunuh? Makara apa fungsi sidang demi sidang di neraka yang mewakili tujuh dosa manusia? Entahlah. Yong-hwa menyerupai tersesat, apalagi saya.

Satu-satunya alasan yang terpikirkan hanya semoga beberapa neraka yang belum muncul di film pertama memperoleh porsi. Tapi detail latar menarik serta para tuhan penjaga berkepribadian variatif takkan lagi ditemukan, kala serupa Soo-hong, persidangannya sebatas elemen sampingan yang berjalan luar biasa awut-awutan tanpa hukum pasti. Beruntung ada subplot mengenai perjuangan Haewonmaek dan Deok-choon mencabut nyawa laki-laki renta berjulukan Heo Choon-sam (Nam Il-woo) yang dilindungi Seongju (Ma Dong-seok) si Dewa Penjaga Rumah. Melalui Seongju pula, diam-diam kehidupan mereka 1000 tahun kemudian terungkap. Saat petualangan di darul abadi acap kali datar akhir Soo-hong tak sesimpatik sang kakak, konflik di Bumi lebih kaya rasa, dibantu selipan humor plus eksplorasi menarik soal kisah terpendam para malaikat maut. Subplot ini sanggup menjadi film sendiri yang lebih singkat, padat, berperasaan, dan terpenting, lebih manis dari keseluruhan The Last 49 Days.

Bicara wacana twist, aneka macam kejutan yang tertuang dalam kisah Seongju masih sanggup diterima, bahkan menambah dinamika korelasi antar-karaker. Haewonmaek tidak lagi hanya malaikat maut brandal bermulut besar, sebagaimana Deok-choon berkembang lebih dari seorang gadis polos. Persepsi kita terhadap beberapa tokoh pun diputarbalikkan, memancing duduk kasus dilematis kompleks yang sayangnya diselesaikan lewat resolusi penuh penggampangan. Pun kita sanggup selalu mengandalkan Ma Dong-seok untuk melakoni tugas laki-laki tangguh tapi berperasaan. Dialah jangkar elemen drama film ini sehingga pesan “Be kind” yang diusung tetap tersampaikan dikala filmnya kolam tersesat di rimba lebat buatannya sendiri.

Seiring waktu, The Last 49 Days makin serakah, memasukkan lebih banyak diam-diam dan twist dengan substansi yang semakin menyusut, walau harus diakui dinamika berhasil dijaga karenanya. Sebuah twist sempat berputar di kepala saya. Twist yang saya harap takkan muncul sebab bakal terlalu kolot dan dipaksakan. Kemudian film berakhir tanpanya. Saya pun lega. Sampai sempurna sebelum kredit, muncul adegan komplemen berisi twist tersebut. Saya cuma sanggup duduk menertawakan kebodohannya. Along with the Gods: The Last 49 Days meruntuhkan pencapaian film pertama. Parade agresi kreatif yang memanfaatkan absurditas tanpa batas akhirat, termasuk satu tumpuan terhadap franchise milik Spielberg memang masih menghibur. Hell, the whole movie is still entertaining. Bertempo cepat tanpa perlu terburu-buru, durasi 141 menit cepat berlalu. Namun pasca prestasi The Two Worlds, sekuel ini terperinci proses terjun bebas.

Kamis, 13 Desember 2018

Ringkasan Cerita Filim On Your Wedding Day 2018

Ringkasan Cerita Filim On Your Wedding Day 2018

Ringkasan Cerita Filim On Your Wedding Day 2018
Ringkasan Cerita Filim On Your Wedding Day 2018

Industri perfilman Korea Selatan makin melesat pesat. Film dengan substansi mendalam berjaya di ekspo tingkat dunia, sementara blockbuster-nya membesar, baik dari skala maupun kualitas. Tanpa sadar, semakin jarang pula kita menerima romansa melodrama yang dahulu menata gambaran sinema Korea di mata dunia. Sehingga On Your Wedding Day yang kembali mempertemukan Park Bo-young dan Kim Young-kwang semenjak Hot Young Bloods (2014) pun bagai penyegaran. Sebuah film yang mengedepankan pesona kedua pemain drama utama serta pemahamannya soal hubungan percintaan.

Segalanya amat sederhana, dan bakal gampang menebak peristiwa-peristwa apa yang hendak menyusul. Tapi keberhasilan membuat pasangan yang lovable, juga kepiawaian Lee Seok-geun—yang gres menjalani debut penyutradaraan di sini—membungkus momentum, kesan formulaik bukan lagi masalah. Bagai tengah dimabuk asmara, enggan memusingkan hal-hal di depan, menentukan terhanyut bersama anutan momen yang kelak membentuk kenangan.

On Your Wedding Day 2018

Kita diperkenalkan pada Hwang Woo-yeon (Kim Young-kwang), siswa biang onar yang selalu berkelahi, dan selalu berujung mendapatkan eksekusi para guru. Suatu hari, di tengah “rutinitas” tersebut, beliau bertemu siswi pindahan berjulukan Hwan Seung-hee (Park Bo-young). Seung-hee sendiri bukan gadis yang inferior di hadapan Woo-yeon. Walau cerdas, rajin, pula punya nilai baik, ia gemar membolos, secara kasual membicarakan hal-hal “jorok” bahwa menjadikannya materi candaan sampai membuat wajah Woo-yeon si pembuat duduk kasus sekolah merah padam.

Jalannya Cerita On Your Wedding Day 2018

Tapi itulah alasan Woo-yeon terpikat pada Seung-hee, dan aku terpikat pada kebersamaan mereka. Keduanya mengobrol, melaksanakan kenakalan, tertawa, bertengkar (in a cute way), dan terpenting, sadar atau tidak, saling memperbaiki satu sama lain. Woo-yeon terdorong untuk berhenti sabung bahkan berguru keras semoga diterima di universitas ternama demi Seung-hee, sedangkan Seung-hee menyadari bahwa Woo-yeon selalu bersamanya kala ia menghadapi bermacam kesulitan. Elemen itu cukup menjadi pondasi bagi konflik berikutnya. Seperti telah diungkap tagline di poster, akan datang ketika Woo-yeon mesti mengejar cintanya selama 10 tahun. Ya, Woo-yeon dan Seung-hee terpisah, tapi berkat permainan misterius berjulukan “takdir”, mereka bertemu lagi, terpisah lagi, bertemu lagi, dan seterusnya. Tapi Woo-yeon tetap menanti.

Merangkum proses satu dekade, yang pastinya melibatkan banyak peristiwa, naskah buatan Lee Seok-geun menjatuhkan pilihan sempurna pada hal mana yang perlu dan tidak perlu dimasukkan. Tidak ada yang terbuang percuma ketika tiap adegan berperan melengkapi proses dua tokoh utama, baik sebagai pasangan atau individu manusia, khususnya kala di usia dewasa, mereka mulai menyadari bahwa sebuah hubungan lebih dari sekedar kencan demi kencan. On Your Wedding Day tahu mengapa hubungan romansa terasa indah, menyakitkan, dan terpenting, layak diperjuangkan. Dan di satu titik, usaha itu bukan soal “mengejar cinta”, melainkan merelakannya, yang mana merupakan usaha terberat. Film ini memahami pentingnya memori, baik yang bersifat abnormal alias hanya ada dalam ingatan, atau faktual berbentuk tanda mata.

Hanya terdapat satu duduk kasus di sini. Filmnya terlalu mencerminkan karakter-karakternya. Sehingga ketika jiwa mereka tidak lagi membara, terjerumus menuju masa gelap (yang urung menjadi terlampau gelap), juga kehilangan tawa, energi milik On Your Wedding Day turut melemah. Untungnya duet Park Bo-young-Kim Young-kwang memiliki cukup kekuatan untuk mengangkat filmnya. Di balik sosoknya sebagai biang onar, Young-kwang bisa meyakinkan aku bahwa kengototannya bukan verbal obsesi terhadap si perempuan pujaan, melainkan ungkapan cinta tulus. Sedangkan Bo-young dengan kemampuan menangani tokoh dengan kepribadian kaya warna menyebabkan Seung-hee sosok yang pantas diperjuangkan.

Penyutradaraan Seok-geun memancarkan sensitivitas berpengaruh dalam merangkai adegan dramatis, entah bernuansa bahagia, romantis, atau sedih, menampilkannya secara indah, yang menguatkan gugusan kalimat elok dari naskah ciptaannya. Ketika Woo-yeon berkata bahwa separuh populasi perempuan di seluruh Korea tak berarti alasannya ialah mereka bukanlah Seung-hee, atau sewaktu konklusinya menyingsing, aku bagai diajak mengenang beberapa memori pribadi, mengiyakan, sambil mengangguk dengan senyum di bibir dan air mata yang mengalir, bahwa sejatinya cinta memang indah.

Ringkasan Cerita Filim Adrift 2018

Ringkasan Cerita Filim Adrift 2018 Ringkasan Cerita Filim Adrift 2018 Ringkasan Cerita Filim Adrift 2018, Sepasang kekasih ( or soo-...