Tampilkan postingan dengan label Kurang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kurang. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Januari 2019

Ringkasan Cerita Filim Aib: #Cyberbully 2018

Ringkasan Cerita Filim Aib: #Cyberbully 2018

Ringkasan Cerita Filim Aib: #Cyberbully 2018
Ringkasan Cerita Filim Aib: #Cyberbully 2018

Ringkasan Cerita Filim Aib: #Cyberbully 2018, Masalah Aib: #Cyberbully bukan pemakaian konsep found footage berbasis Skype serupa Unfriended (2014). Konsep sama tidak berarti menjiplak selama elemen-elemen di dalamnya berbeda. Searching yang bakal rilis bulan ini pun mengusung gaya setipe. Masalah timbul bagi Aib: #Cyberbully ketika terdapat kesamaan di banyak sekali detail dengan film garapan Levan Gabriadze tersebut. #JanganDianggapRemeh, demikian suara hashtag wacana perundungan di internet yang coba film ini populerkan. Tapi sepertinya, Amar Mukhi selaku sutradara, penulis naskah, sekaligus produser, menganggap remeh plagiarisme.

Aib: #Cyberbully 2018

Pertama, mari bicarakan premisnya. Tujuh orang sahabat dihubungi via Skype oleh sahabat mereka, Caca (Ade Ayu), yang beberapa tahun lalu, semasa SMA, meninggal bunuh diri sehabis tertekan akhir informasi pelecehan seksual terhadapnya disebarkan di situs sekolah. Pelakunya salah satu dari mereka bertujuh. Arwah Caca pun melibatkan mereka dalam permainan ajal untuk mengungkap malu diri sendiri, teman, dan keluarga. Menolak berarti mati. Permainan itulah yang mendorong mereka “saling tusuk” satu sama lain. Unfriended, punya dongeng serupa. Bedanya, karakternya memainkan “Never Have I Ever”, yang pada dasarnya juga soal membuka rahasia.

Ringkasan Cerita Filim Aib: #Cyberbully 2018

Sekarang karakternya. Ada sepasang kekasih, Sarah (Yuniza Icha) dan Antoni (Harris Illano) yang mengawali obrolan. Apabila pasangan di Unfrieded berniat melepas keperjakaan di malam prom, Sarah dan Antoni hendak melaksanakan cybersex, yang berjalan terlalu usang (lebih dari 5 menit), hingga saya merasa sedang menyaksikan rekaman tindak mesum sampaumur di Camfrog yang bocor. Pun di kedua film sama-sama ada aksara bertubuh tambun yang jago mengoperasikan komputer. Kemiripannya terus bertambah, tapi bila saya lanjutkan, ulasan ini akan menjadi checklist.

Menariknya, di luar kemiripan (baca: plagiarisme) itu, pasca kecanggungan tanpa henti “rekaman Camfrog” tersebut, Aib: #Cyberbully ternyata merupakan tontonan intens. Benar bahwa tersimpan kelemahan aspek teknis, semisal judul rekaman bunuh diri Caca yang berbunyi “Girl Committed Suicide in Hostel in Bihar”,  yang video aslinya akan gampang anda temukan di Google. Kelalaian yang semestinya tak terjadi mengingat ukuran judul itu cukup besar mengisi layar. Selain itu, pertukaran dialog, pertengkaran, yang membawa kita menuju terungkapnya satu per satu malu yang lebih banyak didominasi tiba dari video yang mereka bagikan di Facebook, dituturkan secara dinamis.

Aib yang dibagikan tidak beranjak dari seputaran melacurkan diri, perselingkuhan, seks antar teman, hingga LGBT. Hal-hal itu memang paling gampang dijadikan kambing hitam, yang membantu kebuntuan wangsit penulis naskahnya. Untunglah proses menuju terbongkarnya tiap malu cukup seru, pun bisa menjaga atensi. Bahkan secara mengejutkan, film ini tidak preachy terkait penuturan pesan sosialnya. Tidak ada petuah berulang soal larangan cyberbully. Tanpa banyak berceramah, filmnya pribadi menghadirkan konsekuensi atas tindakan tersebut.

Pun Amar Mukhi cukup baik mengeksplorasi kesemuan persahabatan sampaumur melalui kisahnya. Mereka bertujuh mendeklarasikan “Sahabat selamanya!”, tapi tak butuh waktu usang untuk saling serang, saling menyalahkan, saling membuka diam-diam kelam. Seiring permainan berjalan, semakin kentara bahwa karakternya melaksanakan itu bukan demi bertahan hidup dalam permainan ajal Caca, melainkan didorong amarah serta hasrat balas dendam. Sayang, naskahnya lemah soal penulisan dialog. Pertengkaran pun berkutat tidak jauh-jauh dari kata-kata ibarat “anjing”, “bangsat”, dan umpatan klise lain. Hal ini diperparah oleh akting monoton jajaran cast, yang sekedar berteriak di volume tertinggi. Memasuki pertengahan, pendengaran saya semakin lelah mendengar histeria itu.

Kalau Unfriended mengandung adegan memorable ketika salah satu tokoh tewas sebab blender, maka Aib: #Cyberbully punya...well, saya tidak tahu apa yang terjadi. Dicekoki tuts keyboard? Tertusuk tuts keyboard? Sudut pengambilan gambarnya tak membantu. Sebagai cara menjangkau penonton lebih luas, film ini bukan saja mengandalkan pembantaian, juga formula jump scare sebagaimana biasa, yang sayangnya, gagal tampil mengerikan akhir riasan pula metode kemunculan hantu yang begitu ala kadarnya.

Ditambah lagi, bila Aib: #Cyberbully memang ingin memalsukan Unfriended, ada satu poin penting yang dilupakan, ialah tidak munculnya sosok hantu, bahkan lewat foto profil Skype sekalipun. Hal itu menghasilkan tensi dari ketakutan atas teror tak terlihat, sekaligus misteri seputar kebenaran teror itu—sebatas prank orang usil atau agresi hantu—yang diungkap secara bertahap. Walau harus diakui, di samping banyak sekali kekurangannya,  Aib: #Cyberbully masih cukup menghibur. Namun saya tidak bisa memperlihatkan nilai positif terhadap film yang terang-terangan memalsukan karya lain, tidak peduli seberapa cantik hasilnya. Sebab urusan orisinalitas #JanganDianggapRemeh.

Minggu, 13 Januari 2019

Ringkasan Cerita Filim The Meg 2018

Ringkasan Cerita Filim The Meg 2018

Ringkasan Cerita Filim The Meg 2018
Ringkasan Cerita Filim The Meg 2018

Ringkasan Cerita Filim The Meg 2018, Bujet $150 juta, premis wacana serangan Megalodon yang diangkat dari novel Meg: A Novel of Deep Terror buatan Steve Alten, serta kehadiran Jason Statham si “Raja b-movie modern” selaku bintang utama. Modal-modal tersebut tentu memfasilitasi pembuat filmnya untuk berbuat apa saja, tampil segila dan sekonyol mungkin, dengan dasar maritim terdalam sebagai batas. Oh, dan juga kreativitas.  Sebab ketika para ilmuwan film ini bisa menembus apa yang selama ini dianggap lautan paling dalam, orang-orang di balik The Meg gagal memaksimalkan potensi filmnya jawaban terjebak kreativitas terbatas.

The Meg 2018

The Meg terang tidak cukup bagus, tapi juga tidak cukup buruk dan kurang pandai untuk tampil menghibur.  Seperti Deep Blue Sea (1999) yang juga mengemas serbuan hiu lewat sampul film kelas b, akomodasi riset kelautan pun memegang peranan penting pada dongeng film ini. Dipimpin Dr. Minway Zhang (Winston Chao) dan puterinya, Suyin (Li Bingbing), serta didanai Jack Morris (Rainn Wilson), diadakanlah penelitian guna menyingkap kehidupan makhluk dasar maritim yang belum ditemukan. Menjadi peristiwa tatkala salah satu makhluk itu yakni Megalodon, hiu prasejarah yang diyakini telah punah.

Sampai di sini, sinopsis di atas mungkin menggiring imajinasi liar anda. Saya pun demikian, apalagi ketika satu per satu bahan promosi diluncurkan, yang menjanjikan tontonan yang enggan menganggap dirinya terlampau serius. Tapi sutradara Jon Turteltaub (National Treasure, The Sorcerer’s Apprentice) kolam malu-malu untuk menghadirkan hiburan yang tidak tahu malu. Hingga 45 menit berlalu, sehabis melalui segelintir serangan, The Meg belum juga menampakkan wujud utuhnya. Kita sekedar diperlihatkan kapal yang bergoncang, terlempar, mengalami kerusakan. Turteltaub menyuntikkan terlalu banyak DNA Jaws (1975) ke filmnya.

Jalannya Cerita Filim The Meg 2018

Tapi The Meg bukan Jaws. Tidak seharusnya dikemas demikian. Tidak ada yang mengharapkan kengerian atau ketegangan berupa teror tak terlihat dalam film soal “Jason Statham vs Megalodon”. Statham sendiri mengerahkan segenap kemampuannya memerankan penyelam asing tanpa rasa takut yang berenang ke arah Megalodon sambil menyenandungkan “Just Keep Swimming”. Statham meyakinkan, dan tiap kali ia beradu satu lawan satu melawan Megalodon, termasuk pada klimaks, The Meg mencapai tingkat hiburan tertingginya.

Andai saja film ini hanya berisi pertarungan keduanya. Namun tidak. The Meg merupakan film 113 menit yang berisi setumpuk insiden dan abjad lain yang dibungkus teramat serius sewaktu konsep dasarnya meneriakkan kebodohan yang tak juga dilepaskan. Konon ukuran terbesar Megalodon yakni 18 meter. Menghidupkan lagi Megalodon di kurun modern sudah melawan sains, kemudian apa perlunya menuruti fakta keilmuwan soal ukuran? Turteltaub dan tim urung memanfaatkan kebebasan yang didapat, ketika mereka bisa saja berkata, “Ternyata 18 meter hanya ukuran bayi Megalodon”, misal. Tapi saya takkan lebih jauh membahas apa yang tidak ada di filmnya.

Apa yang ada dalam The Meg dan ingin dicapai pembuatnya adalah, “teror serangan hiu raksasa yang kurang pandai nan menyenangkan”. Pengadeganan Turteltaub tak bisa menciptakan Meg menonjol dibanding para kompatriotnya yang lebih dulu memangsa di layar lebar ketika sang sutradara gagal menangkap kesan “masif” setiap sang monster tampak. Belum lagi perihal formasi adegan maut medioker minim imajinasi yang turut tampil malu-malu. Saya tidak tertarik melihat seseorang tewas sebab kapalnya karam atau meledak. Seseorang ditelan bulat-bulat, bahkan tanpa harus dikunyah dikarenakan ukuran hiu satu ini begitu besar. Itulah yang mestinya dipamerkan. Setumpuk posternya yang kaya kreativitas jauh lebih menyenangkan ketimbang menonton filmnya sendiri. "The Meh" is a more suitable title for this.

Minggu, 06 Januari 2019

Ringkasan Cerita Filim Gentayangan 2018

Ringkasan Cerita Filim Gentayangan 2018

Ringkasan Cerita Filim Gentayangan 2018
Ringkasan Cerita Filim Gentayangan 2018

Ringkasan Cerita Filim Gentayangan 2018,Jangan tonton film ini sendirian. Bukan sebab Gentayangan begitu mengerikan, melainkan banyak sekali kekurangannya lebih mengasyikkan bila ditertawakan bersama teman-teman. Ketika belakangan perfilman kita dibanjiri horor berkualitas tiarap, Gentayangan jadi makhluk langka. Keburukannya tidak membuat hati panas menyerupai produk-produk MD Pictures, tapi kekonyolan yang termasuk teritori so-bad-it’s-good, hingga nyaris membuatnya layak mendapatkan gelar “Azrax-nya horor tanah air”. Satu-satunya penghalang ialah masih terdapat “kelemahan konvensional” macam jump scare ala kadarnya yang dibalut musik berisik.

Gentayangan 2018

Bukan hasil mengejutkan bila melihat keberadaan Shyam Ramsay, sang legenda horor kelas B Bollywood yang karyanya terdiri atas judul-judul menyerupai Purana Mandir (1984), Veerana (1988), hingga Bandh Darwaza (1990), meski bagi publik Indonesia, mungkin karyanya yang paling dikenal ialah serial Nagin. Saya menonton beberapa filmnya, sehingga tahu mesti berekspektasi apa dan harus memasang perspektif bagaimana kala menyikapi Gentayangan. Makara sewaktu tali yang menarik Ronny P. Tjandra masih tampak jelas, saya harus menganggapnya sebagai belahan hiburan, bukan kelalaian yang wajib dicaci, walau itu bukan suatu kesengajaan.

Jalannya Cerita Gentayangan 2018

Ceritanya berpusat pada Abimanyu (Baim Wong) yang terpaksa mengajak keluarganya pindah ke Hotel Kaki Langit peninggalan orang tuanya sehabis bisnisnya bangkrut. Tidak butuh waktu usang hingga hantu-hantu gentayangan mulai mengganggu mereka dalam teror yang terinspirasi dari kengerian di Hotel Overlook milik The Shining (1980). Bahkan beberapa acuan terhadap film buatan Stanley Kubrick itu pun bermunculan, menyerupai penggunaan kapak, juga momen ikonik “Here’s Johnny!”.

Masalah finansial Abimanyu tak pernah menemui jalan keluar, tapi saya menyukai bagaimana naskah yang ditulis Adi Nugroho (Kuldesak, Jelangkung, Ruang) menyediakan alasan logis mengapa Abimanyu sekeluarga tidak segera meninggalkan hotel. Kesulitan uang menghilangkan opsi tinggal di daerah lain, ditambah lagi larangan pergi dari pihak kepolisian pasca kejadian berdarah mulai terjadi. Saya sanggup mencicipi ada film manis terkubur dalam Gentayangan (berdasarkan cerita di balik layar yang saya dengar memang demikian faktanya). Konsep terornya menyiratkan hal serupa. Walau beberapa medioker, ada segelintir yang kreatif, sebutlah “bola kepala” dan hantu perempuan yang terbang, merenggut salah satu aksara dari belakang.

Justru penyutradaraan Shyam Ramsay yang sudah membuat film selama 46 tahun jadi pelaku jatuhnya kualitas Gentayangan. Menolak memperhatikan timing di setiap jump scare, Shyam pun gagal membangun atmosfer, walau hotel dengan sederet patung sebagai properti merupakan modal memadahi guna mencuatkan kesan mencekam berbasis set. Tapi kalau bukan sebab sang legenda hidup, kita takkan memperoleh barisan kekonyolan. Shyam membiarkan pemainnya berakting buruk, dan acap kali, kombinasi dua aspek itu (penyutradaraan + akting) menghasilkan hiburan tiada tara.

Perihal tersebut, gelar MVP (Most Valuable Player, bukan Multivision Plus) jadi milik Jelita Callebaut yang memerankan Sheila, adik Abimanyu. Menjalani debut yang sayangnya kurang jelita, sang aktris membalikkan badan kolam bintang iklan sampo sedang mengibaskan rambut yang berkibar-kibar. Dia pun kelabakan kala diminta mengikuti pekikan khas para Scream Queens. Teriakannya dipaksakan, kaku, akhir harus melalui ancang-ancang yang begitu kentara, atau terkadang, menggunakan dua kali tarikan nafas supaya terdengar panjang. Berkat Jelita, pefroma dangkal Nadine Alexandra sebagai Sofia, istri Abimanyu, kalah menonjol.

Bertengger di posisi kedua ialah Haydar Salishz sebagai Arman yang memukau lewat akting sekaku otot orang yang kurang olahraga. Contohnya sudah dibeberkan oleh trailer. Didorong hantu, Arman tersungkur menabrak meja dalam sebuah pemandangan dibuat-buat konyol. Semakin konyol kala Haydar berteriak datar, “Siapa di situ?!”. Momen emas ini mencapai puncak sehabis Kania (Brianna Simorangkir), kekasih Arman, menjawab “Ada orang di sini? Ada orang di situ? Nggak kelihatan tuh. Jangan-jangan...hantu?”. Sungguh bahan meme yang sempurna. Kasus berbeda dialami Baim Wong yang berusaha keras memberi layer dalam interpretasinya soal frustrasi. Baim berniat menambah dinamika, menolak asal berteriak, coba variatif memainkan intonasi walau tak selalu berhasil dan kadang membuat kelucuan tak disengaja lain.

Kamis, 27 Desember 2018

Ringkasan Cerita Filim The Nun 2018

Ringkasan Cerita Filim The Nun 2018

Ringkasan Cerita Filim The Nun 2018
Ringkasan Cerita Filim The Nun 2018

The Nun ialah korban benturan kepentingan artistik dengan potensi finansial. Para pembuatnya, yang digawangi sutradara Corin Hardy (The Hallow) serta James Wan sebagai produser, sadar bahwa seri The Conjuring butuh napas baru. Tapi sepenuhnya berpindah jalur sanggup “mengkhianati” ekspektasi penonton yang—pasca kesuksesan 4 filmnya meraup lebih dari $1,2 miliar berkat segala cirinya—sudah mantap ingin disuguhi tontonan mirip apa: straight up haunted house ride.

The Nun 2018

Naskah karya Gary Dauberman (Annabelle: Creation, It) menyenggol area petualangan berbumbu fantasi ala The Mummy (1999) milik Stephen Sommers, tapi tak memiliki cukup nyali untuk total beralih ke sana (detailnya bakal dibahas nanti). Lokasinya sendiri, yang kali ini berlatar waktu tahun 1952 atau 25 tahun sebelum The Conjuring 2 (2016), beralih dari rumah renta ke biara tua, yang sejatinya tak mengandung banyak pembeda terkait pemanfaatannya sebagai panggung teror mistis.

Masih dalam ruang remang-remang, perbedan terbesar justru berupa hal negatif, di mana ketiadaan “keluarga serasi dalam bahaya hantu” turut meniadakan keintiman kaya rasa yang jadi nilai tambah formasi installment The Conjuring. Kini huruf utamanya ialah Irene (Taissa Farmiga), seorang novice yang diutus oleh Vatikan membantu penyelidikan Pendeta berjulukan Burke (Demián Bichir) terhadap kejadian bunuh diri seorang suster di suatu biara di Rumania. Tragedi tersebut bertindak selaku momen pembuka The Nun, yang menyiratkan misteri di balik sosok Valak, namun malah meninggalkan lubang alur menganga terkait modus operandi sang hantu ternama, yang membutuhkan badan guna memasuki dunia manusia.

Jalannya Cerita The Nun 2018

Dibantu laki-laki setempat, Frenchie (Jonas Bloquet), keduanya berusaha mencari kebenaran menyibak tabir rahasia, yang sebagaimana tagline-nya, merupakan “Babak tergelap dalam dunia The Conjuring”. Benar bahwa biara yang alih-alih suci justru jadi sarang iblis ialah gagasan kelam, tapi tak terpapar berpengaruh jawaban urung dibarengi story arc mendukung soal para protagonisnya.  Keduanya tidak mempertanyakan iktikad masing-masing, bahkan keduanya nyaris tidak melewati proses internal sepanjang durasi. Patut disayangkan mengingat Bichir, sang peraih nominasi Oscar, niscaya sanggup menangani tugas kompleks semacam itu.

Walau sama-sama terdiri dari laki-laki dan perempuan yang bersahabat dengan hal-hal magis, dinamika Burke-Irene dan Ed-Lorraine menyerupai langit dan bumi. Tanpa chemistry, tanpa lapisan karakterisasi. Irene diceritakan menyimpan “bakat” serupa Lorraine, namun kurang digali untuk menghasilkan konflik batin mumpuni. Setelah di awal kesulitan memahami kemampuan itu, tiba-tiba dia sanggup mengendalikan tanpa menempuh proses apa pun, alasannya naskahnya memerlukan cara mengakhiri konflik. Jangan kaget apabila pada sekuelnya nanti, Lorraine dan Irene diceritakan punya relasi darah sebagaimana kedua aktris pemerannya di dunia nyata.

Teror di sekitar karakter, yang merupakan alasan utama penonton berbondong-bondong meramaikan bioskop, gagal menjadi wahana pemacu jantung. Seperti sedikit disinggung sebelumnya, penyebabnya tak lain peleburan parade jump scare dengan petualangan sarat aksi. Keduanya berbeda. Saya mengibaratkan jump scare layaknya tabrak lari. Fasenya kurang lebih berjalan begini: penonton menunggu–hantu muncul secara mengejutkan–hantu menghilang. Trik ini bertujuan melonjakkan intensitas, kemudian memberi penonton kesempatan bernapas sembari menunggu hentakan berikutnya. Sementara petualangan/aksi, walau bisa mengagetkan, menekankan pada momen “pasca”. Karakter dituntut berjibaku melawan makhluk yang muncul, membangun intensitas kontinyu daripada sekali waktu.

Hardy acap kali kelabakan menyatukan dua elemen tadi, khususnya sepanjang second act. Pembangunan tensi yang perlahan terang mengikuti rujukan horor James Wan, tetapi kemunculan Valak dan kompatriotnya sesama makhluk mistik ditangani kolam serbuan monster yang sekedar muncul di layar, minim elemen kejut, kemudian menantang sang pahlawan beradu fisik. Namun sebelum langgar fisik mencapai puncak ketegangan sebagaimana mestinya film aksi/petualangan berkualitas, makhluk tersebut lenyap. Hardy berusaha menggabungkan dua rujukan yang terbukti tidak berjodoh.

Penelusuran misteri sempat menarik di paruh awal. Sederet tanya terkait asal muasal Valak, juga misteri di balik perilaku abnormal para biarawati, menyuntikkan cukup daya tatkala jump scare kehilangan taring sementara potensi humor segar tersia-siakan dikarenakan Hardy kurang piawai memainkan comic timing. Namun begitu serangkaian tanya menemukan titik terang, yang dijabarkan lewat eksposisi plus flashback pendek, daya cengkeram alurnya ikut memudar. Jangan harap memperoleh latar belakang rumit wacana Valak. Selalu cuma ada satu jawaban bagi pertanyaan “Dari mana iblis berasal?”.

Klimaks ialah momen sewaktu The Nun kesudahannya berani melangkah lebih jauh ke lingkup petualangan. Mengetengahkan pencarian benda pusaka sambil diselingi pertarungan kontak fisik yang tidak lagi hadir malu-malu (bahkan melibatkan senjata), terciptalah hiburan yang tiba terlambat. Ambisi melahirkan spin-off bernuansa lain layak diberi nilai tambah, tapi kalau Wan dan rekan-rekan berharap terus memperpanjang sekaligus memperlebar cakupan dunia The Conjuring, formula supaya warna gres dan signature lamanya bisa disatukan perlu segera ditemukan.

Senin, 24 Desember 2018

Ringkasan Cerita Filim Gila Lu Ndro! 2018

Ringkasan Cerita Filim Gila Lu Ndro! 2018

Ringkasan Cerita Filim Gila Lu Ndro! 2018
Ringkasan Cerita Filim Gila Lu Ndro! 2018

Sebagaimana mestinya komedi satir, Gila Lu Ndro! menyindir realita dengan humor. Diharapkan, penonton tertawa sembari merenungkan insiden yang tengah disaksikan. Namun film keempat sutradara Herwin Novianto (Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara, Tanah Surga...Katanya, Jagad X Code) ini di satu titik lupa akan niatnya memberikan sesuatu alasannya yaitu terlampau sibuk berusaha sekonyol mungkin, sebaliknya, di titik lain getol berceramah sehingga lalai melucu. Mau yang mana pun, bobot pesannya berujung terlemahkan.

Gila Lu Ndro! 2018

Guna memahami poin utama film ini, kita perlu mengikuti kisah yang dituturkan Indro (Tora Sudiro) kepada sang istri, Nita—nama istri Indro Warkop di dunia nyata—yang diperankan Mieke Amalia, yang cukup beruntung mendapat jatah kalimat-kalimat terlucu dalam naskah garapan Upi (Tusuk Jelangkung, My Stupid Boss, Sweet 20) bersama “anak didiknya”, Aline Djayakusuma. Deretan kalimat tersebut kebanyakan berfungsi mengutarakan keheranan sekaligus kekesalannya terhadap kisah abstrak sang suami yang mengaku bertemu Al (Indro Warkop) alias Alien, Raja dari planet Alienus.

Jalannya Cerita Gila Lu Ndro! 2018

Sebagai Raja, Al merasa perlu menemukan jalan menuntaskan konflik tak berkesudahan antara warga Alienus. Untuk itulah dia mencari “Sumber Damai”, yang konon dimiliki Bumi. Dibantu Indro, Al pun melaksanakan perjalanan mengitari Bumi (baca: Jakarta), menemui ragam insiden yang filmnya pakai sebagai alat menyindir isu-isu sosial di sekitar. Mulai dari yang mereka lihat pribadi ibarat penyebaran hoax, penerimaan suap oleh polisi, pembeli yang menawar harga semaunya, dialog singkat soal kegemaran wakil rakyat tidur pulas tatkala sidang, hingga baliho berupa usul berdoa (alih-alih mengusahakan jalan keluar) apabila terkena banjir.

Jadi apa yang Gila Lu Ndro! tawarkan demi menuntaskan segala problem di atas? Al sebagai Raja merupakan metafora pemimpin bangsa ini, dan filmnya secara gamblang nan lantang menyebut bahwa turun ke jalan menemui rakyat pribadi alias blusukan merupakan jalan keluar. Kata “blusukan” bahkan Indro ucapkan, meniadakan ruang bagi kesubtilan. Daripada “merasakan”, rasanya ibarat disuapi oleh Indro, yang penokohannya bisa dirangkum dalam 2 kata, “penengah konflik”. Tidak lebih, tetapi bisa kurang. Sebab di beberapa situasi, dia bahkan tak menengahi permasalahan, sebatas berdiri, mengamati, atau malah kabur.

Bagaimana dengan kita? Para insan biasa, bukan pemimpin bangsa atau alien dengan sumber daya tanpa batas. Sejujurnya sulit dipahami akhir masing-masing problematika tak memiliki kekerabatan pasti, seolah tanpa citra besar untuk disampaikan. Terkesan, tiap problem dipilih bukan atas dasar kebutuhan narasi, melainkan dari pertimbangan, “mana yang paling konyol”. Bahkan ada subplot ketika Al mendapat tugas di sebuah film buatan Alex Abbad sesudah seluruh pemain menolak hadir di lokasi. Apa kaitannya dengan pencarian kedamaian?

Untunglah, walau membayangi pesannya, komedi film ini bisa memproduksi tawa. Masih terjadi inkonsistensi, meleset di sana-sini khususnya ketika Herwin Novianto tampak kurang cakap mengatur timing, namun berhasil juga sempurna target di banyak sisi berkat sederet inspirasi kreatif Aline dan Upi, yang tetap mengedepankan kelucuan ketimbang berusaha seaneh mungkin (like you-know-who). Saya suka setiap kali Nita memotong kisah Indro, yang dibungkus lewat banyak sekali cara unik.

Berlawanan dengan sang istri, Tora kurang lepas membanyol alasannya yaitu di ketika bersamaan dibebani tugas selaku penyampai pesan moral. Sebaliknya, Indro melakoni tugas layar lebar terlucunya pasca kala Warkop DKI, dengan humor cross-dressing di simpulan merupakan momen terbaik. Keseluruhan Gila Lu Ndro! memang lucu. Penonton yang mengisi penuh studio daerah saya menonton terang terpuaskan. Apabila cuma bertujuan memancin tawa, maka film ini sukses. Tapi Gila Lu Ndro! ingin menjadi lebih.....dan gagal. Coba tanyakan pada penonton yang tergelak sepanjang film mengenai intisari filmnya, besar kemungkinan mereka tidak bisa mengutarakan tanggapan pasti.

Sabtu, 22 Desember 2018

Ringkasan Cerita Filim Heilstätten 2018

Ringkasan Cerita Filim Heilstätten 2018

Ringkasan Cerita Filim Heilstätten 2018
Ringkasan Cerita Filim Heilstätten 2018

Silahkan googling “found footage haunted hospital horror movie”. Anda akan menemukan setumpuk judul termasuk Gonjiam: Haunted Asylum asal Korea Selatan yang rilis beberapa bulan lalu. Sebab ini yaitu lokasi menjemukan di subgenre yang makin menjemukan pula. Mungkin memang ada ketakutan dalam diri kita terhadap rumah sakit maupun sanatorium, di mana koridor gelap mengelilingi sementara aroma ajal tercium pekat bahkan meski belum ditinggalkan atau bukan kawasan melangsungkan eksperimen terlarang. Sementara konsep found footage (selain bentuk penghematan biaya) dibutuhkan menangkap nuansanya secara nyata. Tapi Heilstätten keliru menangkap esensi found footage. Visualnya menyolok, terlampau berusaha terlihat bergaya dan terpoles untuk membuat atmosfer tidak nyaman, juga begitu bising ketika penggunaan musik berlebih melucuti realisme alih-alih merayap tanpa penonton sadari selaku ambient.

Heilstätten 2018

Jajaran tokoh utamanya yaitu para YouTuber. Marnie (Sonja Gerhardt) dari jalan masuk soal mengahadapi ketakutan yang juga “final girl” kita, Betty (Nilam Farooq), seorang daily vlogger (pastinya membicarakan wacana apa entahlah), dan duet prankster, Chris-Finn (Davis Schulz dan Timmi Trinks), yang gemar melawan aturan termasuk menyelinap ke kamar mayat untuk mengambil swafoto bersama jenazah. Singkatnya, mereka yaitu 2 bakir balig cukup akal tolol yang bahkan tak tahu bila Perang Dunia belum lima kali pecah dan memutuskan menghabiskan malam di rumah sakit seram demi mendongkrak popularitas.

Duo penulis naskahnya, Michael David Pate (juga menyutradarai) dan Ecki Ziedrich terang ingin menggambarkan mereka sebagai orang-orang terbelakang dengan kepedulian nol besar sehingga pantas mendapatkan eksekusi dari hantu penunggu rumah sakit yang konon menebar kutukan mematikan pada siapa saja yang menginjakkan kaki di sana. Pada film horor di mana kebodohan abjad dihalalkan atas nama intensitas, intensi tersebut terasa cocok. Ketika di film lain kita terpancing berujar, “Kenapa karakternya begitu bodoh??!!”, di sini kita sanggup maklum, “Tentu saja remaja-remaja penggila popularitas ini sebodoh itu”.

Jalannya Cerita Heilstätten 2018

Heilstätten kentara menyimpan keinginan biar penonton menertawakan karakternya, pun beberapa poin berpotensi jadi komedi gelap menggelitik ketika kebodohan menyebabkan kecelakaan bahkan kematian. Sayang, Michael David Pate tidak mempunyai keberanian melangkah sepenuhnya ke sana. Dia ragu mengajak kita menertawakan kemalangan. Di satu titik, filmnya malah coba memberi pengampunan pada salah seorang tokoh dengan memberinya tugas “teman yang setia”. Inkonsistensi tone yang membingungkan pun gagal dihindari.

Beberapa ilham menarik terkait cara memunculkan hantu sejatinya bertebaran, namun metode yang Pate pakai membuatnya sulit disaksikan, entah akhir kamera yang bergoyang jago atau penyuntingan chaotic. Setiap penampakan hadir, kamera bergetar atau adegan berpindah (atau campuran keduanya) sebelum kita sanggup melihat terang insiden di layar. Titik balik jelang simpulan berpotensi menyegarkan dan mengangkat keseluruhan film, namun lagi-lagi alasannya yaitu pendekatan “Jangan tunjukkan terornya”, peluang itu gagal dimanfaatkan. Heilstätten melewatkan kesempatan banting setir melangkah ke ranah torture porn brutal banjir darah. Sewaktu kejutan pertama di awal babak ketiga masih selaras dengan tema, momen pamungkasnya membunuh segala impian Heilstätten menjadi horor layak tonton.

Kamis, 20 Desember 2018

Ringkasan Cerita FIlim Sakral 2018

Ringkasan Cerita FIlim Sakral 2018

Ringkasan Cerita FIlim Sakral 2018
Ringkasan Cerita FIlim Sakral 2018

Ringkasan Cerita FIlim Sakral 2018, Sakral merupakan kerja sama kelima (keempat sepanjang 2018) MD Pictures dan Dee Company sekaligus yang terbaik. Kata “terbaik” di sini artinya “paling tidak menyiksa”, lantaran semenjak Gasing Tengkorak tahun lalu, kebersamaan dua rumah produksi ini telah menghasilkan judul-judul yang berpotensi merusak kembali kepercayaan penonton terhadap perfiman Indonesia. Menyebut Sarkal “lebih baik” dibanding filmografi Baginda KK Dheeraj pasca berganti identitas menjadi Dheeraj Kalwani pun layaknya menyatakan terkena flu lebih baik dibanding penyakit lain. Tetap saja menyiksa.

Sakral 2018

Setidaknya para pembuat film ini mencar ilmu dari kesalahan sebelumnya dengan tidak membuat horor yang hanya tersusun atas fragmen-fragmen jump scare yang disusun kasar. Digawangi oleh sutradara Tema Patrosza (Tumbal: The Ritual), Sakral bersedia menahan diri untuk memunculkan hantunya, meminta penonton menunggu semoga bisa lebih dulu memaparkan cerita, walau bukan kisah yang solid, menghasilkan penantian melelahkan pula tanpa penebusan yang sepadan di akhir. Tapi sekali lagi, setidaknya mereka belajar. Walau makan waktu lima film dan belum signifikan, Dheeraj Kalwani akibatnya mengalami kemajuan.

Kisahnya dibuka dikala sepasang suami istri, Melina (Olla Ramlan) dan Daniel (Teuku Zacky) tengah menanti kelahiran puteri kembar mereka yang akan diberi nama Flora dan Fiona (kenapa bukan “Fauna”???). Malang, hanya Flora yang bertahan hidup. Tapi Flora tumbuh sebagai gadis cilik pendiam, enggan berinteraksi dengan kedua orang tuanya, dan hanya memandangi kotak musik sepanjang hari. Di sisi lain, Melina yang masih dihantui sedih justru mulai dihantui juga oleh peristiwa-peristwa misterius. Singkatnya, naskah karya Baskoro Adi Wuryanto (Jailangkung, Ruqyah: The Exorcism, Gasing Tengkorak) ingin membicarakan bagaimana kekuatan cinta milik suami-istri bisa mengalahkan apa pun termasuk sedih (dan iblis). Bukan suatu kejutan rasanya kalau kisahnya gagal menjadi observasi mendalam.

Jalannya Cerita Sakral 2018

Melina terus melihat hal-hal mengerikan ibarat penampakan hantu yang kadang berwajah putih pucat kadang hitam pekat bagai versi murahan dari gelandangan setan di Mulholland Drive-nya David Lynch. Daniel mencurigai kewarasan sang istri, yang bakal menggiring kita menuju adegan konyol ketika seorang psikolog sekaligus teman Daniel dengan gampang mendiagnosa Melina menderita skizofrenia. Akting jajaran pemain sama sekali tidak membantu. Sewaktu Teuku Zacky kerepotan mengucapkan obrolan (yang aslinya memang dangkal) supaya tak terdengar datar, Olla Ramlan sekedar berteriak, bertingkah sehisteris mungkin. Jangan paksa aku membahas akting si pemain drama setan dengan caranya memberi pementingan di tiap final kata yang luar biasa menggelikan.

Progresi alurnya cukup rapi lantaran bersedia menanti hingga momen yang sempurna guna memunculkan penampakan hantu, menghabiskan satu jam pertama melangkah pelan sebelum tancap gas di 30 menit akhir. Kisahnya—meski tak pernah tampil meyakinkan—mengalir alih-alih asal melompat dari satu titik ke titik berikutnya sembari diselingi jump scare berkuantitas lebih tinggi ketimbang ceritanya. Akhirnya Baskoro Adi tahu bahwa dalam film horor, diharapkan kisah untuk menjembatani teror-terornya. Walau sayangnya, ia masih luput memahami jikalau logika turut diharapkan dalam cerita, alasannya ialah sehabis satu hari berlalu, aku masih kesulitan mencerna logika konklusi ajaibnya.

Jump scare-nya sendiri medioker, jenis yang akan mengejutkan penonton bukan lantaran disusun begitu baik, melainkan gempuran tata bunyi luar biasa keras yang hingga membuat studio bergetar hebat. Padahal aku sempat menaruh sedikit (sangat sedikit) impian dikala mendapati penampakan perdana sang hantu tidak dibarengi musik berisik. Di tangan sutradara yang tepat, Sakral berpotensi menghasilkan titik puncak seru, namun Tema belum cukup handal dan/atau berpengalaman dalam menyusun puncak kekacauan menegangkan. Ada niat membuat titik puncak brutal, tapi tak peduli berapa galon pun darah tumpah, seberapa banyak bab badan terpotong gergaji mesin, tanpa sudut kamera sempurna (yang makin vital ketika kadar gore ditekan demi menghindari gunting sensor), sekuen demi sekuen sadis hanya akan numpang lewat. Ngomong-ngomong, kenapa di bawah sink tersimpan katana? Apakah Daniel dan Melina rahasia pasangan ninja Konoha?

Selasa, 18 Desember 2018

Ringkasan Cerita Filim Munafik 2 2018

Ringkasan Cerita Filim Munafik 2 2018

Ringkasan Cerita Filim Munafik 2 2018
Ringkasan Cerita Filim Munafik 2 2018

Munafik 2 2018, Munafik (2016) yaitu horor overrated biarpun jauh dari buruk. Filmnya sedemikian fenomenal tak lain lantaran kedekatan kultural serta keberanian sutradara sekaligus penulis naskah (plus pemain film utama, editor, penata imbas Istimewa dan imbas visual) Syamsul Yusof (Evolusi KL Drift, KL Gangster) menjabarkan krisis keimanan seorang pemuka agama Islam. Namun di luar kisah spritualnya, teror Munafik belum bisa disebut spesial. Dua tahun berselang, sekuelnya “melipatgandakan” dua elemen di atas. Drama religinya dua kali lebih kompleks pula bernyali, sementara terornya dua kali lebih buruk.

Munafik 2 2018

Munafik 2, dengan bujet lebih tinggi (RM 2,8 juta, film pertamanya RM 1,6 juta), memang berambisi tampil lebih besar, bahkan semenjak awal ketika Yusof eksklusif memperlakukan adegan layaknya klimaks, salah satunya lantaran musik garapan Extreme Music eksklusif mengalun kencang, nyaris tak berhenti sepanjang durasi. Tambahkan teriakan tiada ujung dikala karakternya meneriakkan ayat-ayat suci Al Qur’an (total sekitar 10 surat), Munafik 2 semakin tampak berusaha terlalu keras menjadi epic, bahkan sesekali menyentuh teritori film superhero.

Saya serius. Di sini, Ustaz Adam (Syamsul Yusof) bagai pahlawan super dengan ayat suci sebagai kekuatan supernya, yang tiap pelafalan dilakukan secara dramatis lengkap dengan pose heroik juga balutan gerak lambat kala menghadapi iblis atau insan kesurupan. Yusof—yang dilihat dari naskahnya terang bukan seorang kolot—sadar bahwa protagonis spesialis agama berpotensi nampak “kuno” di mata penonton muda masa kini. Menjadikannya sosok superhero keren merupakan upaya modernisasi efektif yang pantas diapresiasi. Oh, bahkan seorang huruf perempuan sempat membantai para musuh memakai kapak kolam heroine dari film-film slasher.

Ringkasan Cerita Munafik 2 2018

Dua tahun selepas bencana yang menimpa keluarganya, Adam telah menata lagi hidup pula imannya, memantapkan diri menolong orang-orang yang menerima gangguan supranatural, walau hatinya belum sepenuhnya tenang. Iblis pun masih sering mengunjunginya, coba menggoyahkan kepercayaan Adam dengan menyatakan bahwa sang Ustaz berjuang demi kepentingan pribadi ketimbang agama. Adam berusaha tegar. Itulah mengapa ia bersedia menempuh ancaman guna menolong Sakinah (Maya Karin) dan keluarganya yang berasal dari desa sebelah. Sebuah desa yang dikuasai para pemeluk aliran sesat.

Setiap superhero butuh supervillain, dan sebagai lawan Adam, Munafik 2 mempunyai Abu Jar (Nasir Bilal Khan), yang bagi penonton Indonesia akan terlihat menyerupai “Limbad dengan kemampuan bicara”. Abu Jar mendeklarasikan dirinya sebagai utusan Allah yang memahami seluruh hadis hingga diberi kebebasan mempunyai apa pun yang ia inginkan di dunia. Keyakinan itu membawa Abu Jar menjadi salah satu antagonis paling kejam sepanjang sejarah film horor, yang melaksanakan seluruh hal kejam yang bisa kita bayangkan. Dari membunuh ulama-ulama yang coba menghentikan ajarannya hingga mengakibatkan perempuan budak nafsunya dan para pengikutnya.

Abu Jar menguasai desa, memanfaatkan rasa takut demi memperoleh kontrol layaknya para diktator lalim, walau sulit mendapatkan begitu saja fakta kalau sehabis sebegitu banyak nyawa melayang, tak ada satu pun penduduk desa berani melapor pada polisi sementara pihak kepolisian sendiri tidak menyadari rangkaian pembantaian tersebut. Diperankan oleh Nasir Bilal Khan secara over-the-top, Abu Jar merupakan antagonis yang dengan bahagia hati penonton benci. Melalui Abu Jar kita melihat pemandangan mengenaskan kala orang-orang “mengafirkan” mereka yang menganut kepercayaan berbeda, mengakibatkan itu alat justifikasi tindakan persekusi hingga ke taraf pembunuhan. Menyedihkan, alasannya pemandangan serupa gampang ditemui di dunia konkret termasuk negeri ini.

Lewat perspektif protagonis, Munafik 2 juga melayangkan beberapa pertanyan. Bisakah kita membenarkan pembunuhan demi keselamatan seseorang? Haruskah kita membahayakan diri untuk menegakkan agama? Dan masih banyak lagi. Karakternya, khususnya Adam, coba menjawab pertanyaan-pertanyaan itu meski harus melalui siksaan batin dan fisik yang lebih sulit, lebih berbahaya, juga memberi dampak lebih tragis dari sebelumnya.

Berjalan selama 2 jam, Munafik 2 enggan mengendurkan tensi, terus memacu tempo tanpa pernah bersedia melambat. Pilihan sanksi ini menghasilkan pisau bermata dua. Di satu sisi, terus dipacunya intensitas bisa meniadakan kebosanan, namun di sisi lain, kerap terasa melelahkan, apalagi dikala beberapa elemen mulai tampil repetitif. Anda akan mendengar tokoh-tokohnya terus meneriakkan hal sama, yang kebanyakan (selain pembacaan ayat suci) berkutat pada saling tuduh perihal siapa paling sesat, dan tentunya paling munafik. Belum lagi nihilnya jump scare yang bisa menggedor jantung. Hampir seluruhnya medioker, minim kreativitas, tetapi maksimal dalam menghajar pendengaran lewat musik plus imbas bunyi tanpa henti.

Saya memaklumi pilihan Yusof, mengingat horor berisik bertempo cepat yaitu primadona bagi lebih banyak didominasi penonton. Satu hal yang sulit dimaklumi yaitu pengungkapan fakta mengejutkan di babak resolusi, yang bukan saja bodoh, pula susah dicerna nalar sehat. Sebuah kejutan dengan lubang yang membesar sewaktu Yusof coba mengaitkannya dengan peristiwa film sebelumnya. Dan Munafik 2 masih menerapkan elemen deus ex machina untuk menutup cerita, meski berbeda dengan film pertama, kali ini elemen tersebut bukan bertugas merangkum perjalanan si tokoh utama, melainkan murni simplifikasi terhadap solusi permasalahan.

Rabu, 12 Desember 2018

Ringkasan Cerita Filim Venom 2018

Ringkasan Cerita Filim Venom 2018

Ringkasan Cerita Filim Venom 2018
Ringkasan Cerita Filim Venom 2018

Di film ini, Eddie Brock kebingungan ketika kerap mendengar sebuah bunyi yang selalu menyebut “kita”, seolah ia dan bunyi tersebut merupakan satu kesatuan. Tentu bukan, tapi seiring waktu, keduanya mulai selaras, berbeda dibandingkan filmnya yang justru mengidap krisis identitas lebih besar ketimbang sang protagonis. Terkadang Venom ingin menjadi studi abjad serius dibumbui sentuhan body horror (dengan rating PG-13), namun di lain waktu, film garapan sutradara Rubern Fleischer (Zombieland, Gangster Squad) ini ialah buddy comedy yang aneh.

Unsur buddy comedy memang risikonya merupakan poin terbaik film ini, atau tepatnya, satu-satunya hal konkret yang sanggup dibanggakan. Salah satu alasannya, alasannya ialah sub-genre tersebut cocok dengan sang titular character, alasannya ialah tidak menyerupai banyak miskonsepsi publik, Venom ialah “pelindung yang mematikan” (silahkan baca komik Venom: Lethal Protector atau Planet of the Symbiotes selaku pandangan gres terbesar filmnya) , bukan pembunuh berantai psikopat yang perlu dibungkus lewat pendekatan brutal, penuh darah, dan rating R.

Venom 2018

Kisahnya dibuka melalui perkenalan terhadap Eddie Brock (Tom Hardy), jurnalis idealis yang terlibat masalah, sehabis dalam sebuah wawancara tak bisa menahan diri mengonfrontasi Carlton Drake (Riz Ahmed) wacana diam-diam kelam yang coba dikubur rapat-rapat oleh perusahaan miliknya, Life Foundation. Carlton sendiri menyimapn jadwal diam-diam untuk menyatukan entitas alien berjulukan Symbiote dengan manusia, supaya ia sanggup membuat spesies bibit unggul yang dibutuhkan memberi jalan keluar bagi kondisi Bumi yang tengah sekarat. Eddie mencium aroma mencurigakan, tapi sebelum sempat bertindak, Riz bisa membungkamnya, membuatnya kehilangan pekerjaan, reputasi, juga sang kekasih, Anne Weying (Michelle Williams).

Jalannya Cerita

Venom bergerak selama satu jam membangun konflik-konflik di atas, menahan penampakan Symbiote—yang salah satunya berkeliaran mencari inang pasca kabur ketika roket milik Life Foundation jatuh—seminimal mungkin. Jangan harap Venom muncul seutuhnya sebelum 60 menit pertama bergulir, yang mana bukan problem andai naskah buatan Jeff Pinkner (The Amazing Spider-Man 2, Jumanji: Welcome to the Jungle), Scott Rosenberg (Armageddon, Spider-Man), dan Kelly Marcel (Saving Mr. Banks, Fifty Shades of Grey) bisa memaparkan perjalanan menarik. Dialognya nihil kreativitas, pula tidak dibarengi elemen dramatik meyakinkan yang memfasilitasi bakat Tom Hardy. Setidaknya ia lebih beruntung daripada Michelle Williams, yang walau menghibur, sanggup digantikan aktris lain tanpa menghadirkan imbas besar.

Awalnya Venom tampil serius, tetapi begitu Eddie memperoleh Symbiote-nya sendiri, filmnya berpindah jalur layaknya pengendara kendaraan beroda empat mabuk yang menabrak pembatas jalan sebelum tiba-tiba memutar balik. Eddie mulai bertingkah aneh. Menyulut kekacauan di restoran, berendam di akuarium dan coba memakan lobster hidup. Hardy total berkomitmen dalam melakoni kegilaan Eddie, biarpun tampak jelas, tidak peduli seberapa berbakat sang aktor, komedi bukanlah bakat naturalnya. Hardy seolah masih karam di tengah delusi bahwa dirinya tidak sedang bermain di sebuah film bodoh.

Unsur buddy comedy menguat tatkala Venom mulai berbicara kepada Eddie, dan keduanya terus-menerus terlibat pertengkaran. Inilah bab paling menyenangkan, sewaktu Venom bertransformasi  menjadi buddy comedy asing di mana satu karakternya coba mencegah sang partner memakan kepala orang lain. Terdengar menyerupai materi tepat guna mengkreasi tontonan kurang arif tapi menyenangkan, dan akhirnya, beberapa tawa memang sukses dihasilkan, meski lagi-lagi penulisannya belum cukup tajam atau kreatif untuk menjaga supaya humornya mendarat mantap tepat di sasaran.

Penyutradaraan Fleischer tak ketinggalan mengundang masalah. Sulit dipercaya bahwa orang di balik kesuksesan Zombieland (2009) kelabakan menangani komedi ketika ia acap kali melewatkan timing. Fleisher di sini kolam penabuh drum yang sering meleset ketika memukul crash cymbal, bahkan kerap ragu-ragu untuk melakukannya sekuat tenaga. Seolah Fleisher takut filmnya berujung terlalu komikal, dan dari situlah inkonsistensi tone Venom bersumber. Penanganannya akan adegan agresi pun cukup lemah. Symbiote, dengan wujud cair sekaligus gerakan dinamis, terlihat layaknya semburan liar dan acak berkaleng-kaleng cat yang sukar disaksikan alih-alih pertarungan 2 monster raksasa intimidatif berkemampuan unik sebagaimana ingin klimaksnya capai.

Venom kebingungan ingin menjadi apa. Bahkan fase buddy comedy—yang mana ialah fase terbaik filmnya—tidak begitu solid. Momen wajib subgenre tersebut, kala dua abjad yang memiliki sifat berseberangan risikonya bersatu, mengesampingkan ego pribadi, dipaparkan kurang meyakinkan. Venom ingin meyakinkan penonton jikalau di antara Eddie dan Venom terjalin persahabatan hangat, namun “perubahan hati” sang monster terjadi mendadak tanpa dasar maupun klarifikasi memadahi. What a mess.

Ringkasan Cerita Filim Adrift 2018

Ringkasan Cerita Filim Adrift 2018 Ringkasan Cerita Filim Adrift 2018 Ringkasan Cerita Filim Adrift 2018, Sepasang kekasih ( or soo-...